RADAR SIDOARJO - Peternak unggas di sejumlah wilayah Sidoarjo mulai resah menyusul kematian ayam, bebek, hingga entok secara mendadak. Dalam sepekan terakhir, ribuan unggas dilaporkan mati. Sedikitnya 20 peternak di tiga kecamatan terdampak dan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Desa Wedoroklurak, Kecamatan Sidoarjo. Sedikitnya 15 peternak ayam petelur, bebek, dan entok di wilayah tersebut melaporkan unggas mereka terserang penyakit yang oleh peternak setempat disebut aratan atau wabah.
Baca Juga: Puluhan Unggas di Sidoarjo Mati Mendadak, Periksa Kemungkinan Flu Burung
Peternak ayam petelur asal Wedoroklurak, Ruri, mengatakan kematian unggas terjadi secara tiba-tiba. Dalam waktu sekitar sepekan, ribuan unggas milik sejumlah peternak mulai mati.
"Sedikitnya ada 15 pemilik usaha ayam petelur, bebek hingga entok yang terdampak. Kami menyebutnya terserang aratan karena penyakit ini menyerang secara tiba-tiba," ujar Ruri, Jumat (25/9).
Baca Juga: Warga Sepakat, Usaha Pemotongan Unggas di Pasar Sepanjang Direlokasi
Ruri sendiri kehilangan sekitar 100 ekor ayam petelur. Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Buduran dan Jabon.
Di Buduran, terdapat tiga peternak dengan total sekitar 500 unggas yang mati. Sementara di Jabon, dua peternak masing-masing kehilangan sekitar 200 ekor unggas.
Baca Juga: Wabup Subandi: Pemotongan Unggas di Pasar Sepanjang Tidak Layak
Kerugian yang dialami peternak pun cukup besar. Ruri memperkirakan kerugian setiap peternak berkisar Rp 5 juta hingga Rp 30 juta. Dengan harga ayam petelur sekitar Rp65 ribu per ekor, kematian ratusan unggas dapat menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah.
Peternak lainnya, Nanang Ichsan, juga mengalami kejadian serupa. Lebih dari 50 ekor ayam dan bebek miliknya mati mendadak setelah menunjukkan sejumlah gejala penyakit.
Baca Juga: Tambah Cold Storage di Rumah Potong Unggas Krian
"Saya hanya bisa pasrah. Tapi khawatir juga penyakitnya menular ke unggas yang masih hidup. Sebab penyakitnya cepat menular," katanya.
Merespons laporan tersebut, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Sidoarjo melakukan penanganan di sejumlah kandang yang terdampak. Petugas melakukan penyemprotan disinfektan untuk menekan potensi penyebaran penyakit yang diduga mengarah pada flu burung atau H5N1.
Plt Kepala Bidang Produksi Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dispaperta Sidoarjo, drh Erwin Priatmoko, mengatakan kasus penyakit yang oleh peternak disebut aratan tersebut mulai ditemukan sejak awal September.
"Kondisi peternakan yang terdampak masih dalam pemantauan petugas," ujarnya.
Menurut Erwin, unggas yang terserang menunjukkan sejumlah gejala, antara lain kehilangan nafsu makan, mengeluarkan lendir dari mulut, serta mengalami diare. Feses yang dikeluarkan awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi kehijauan.
Kondisi unggas dapat memburuk dalam waktu relatif cepat hingga berujung pada kematian. Karena itu, sterilisasi kandang dilakukan sebagai salah satu langkah untuk menekan potensi penyebaran penyakit.
Petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap kandang yang terdampak guna mengetahui perkembangan kasus dan mencegah penyebaran ke peternakan lain. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo