RADAR SIDOARJO - Sampah tak lagi sekadar dipandang sebagai limbah yang harus dibuang. Di Sidoarjo, material yang masih memiliki nilai ekonomi didorong untuk kembali dimanfaatkan.
Langkah itu menjadi bagian dari Proyek InCircular yang menempatkan Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu daerah percontohan ekonomi sirkular di Jawa Timur.
Baca Juga: KONI Sidoarjo Dituntut Berbenah, Bupati Subandi: Jangan Kecewakan Atlet
Sidoarjo menjadi satu dari lima kabupaten/kota di Jawa Timur yang terpilih dalam proyek tersebut. Empat daerah lainnya yakni Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Probolinggo.
Proyek InCircular merupakan bagian dari upaya mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat regulasi, kapasitas tata kelola, kolaborasi antarpemangku kepentingan, hingga pengelolaan sampah di tingkat daerah.
Baca Juga: Bupati Subandi Gaspol Benahi Banjir dan Infrastruktur Tanggulangin-Candi Sidoarjo
Peluncuran kabupaten/kota percontohan Proyek InCircular digelar melalui kegiatan bertajuk "Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia" di Hotel DoubleTree by Hilton, Surabaya.
Bupati Sidoarjo Subandi hadir dalam kegiatan tersebut didampingi jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo.
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Bentuk Satgas MBG, SPPG Bakal Diawasi dari Dapur hingga Pengiriman
Subandi menyambut baik terpilihnya Sidoarjo sebagai salah satu daerah percontohan. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan berbagai upaya yang selama ini dilakukan Pemkab Sidoarjo dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
"Kami menyambut baik terpilihnya Sidoarjo sebagai salah satu daerah percontohan Proyek InCircular. Ini sejalan dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan Kabupaten Sidoarjo dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat," ujar Subandi, Rabu (16/9).
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah pemetaan keberadaan tempat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah pengelolaan sampah yang lebih efektif, terutama sampah plastik.
"Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar," tegas Subandi.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak lainnya.
Kerja sama dengan GIZ dan Pemerintah Jerman melalui Proyek InCircular diharapkan dapat memperkuat sistem yang sudah berjalan sekaligus mendorong munculnya inovasi baru dalam pengurangan dan pemanfaatan sampah.
Subandi berharap keterlibatan Sidoarjo dalam proyek tersebut tidak berhenti pada pengelolaan sampah, tetapi juga mampu memperkuat budaya pemilahan dan pengurangan sampah sejak dari sumber.
"Praktik-praktik yang telah dilakukan dan kerangka pengembangan yang nantinya dibawa kepada Kementerian PPN/Bappenas serta GIZ Indonesia-ASEAN diharapkan dapat menjadi pembelajaran dan direplikasi oleh kabupaten atau kota lainnya di Jawa Timur," katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut terpilihnya Jawa Timur sebagai salah satu provinsi percontohan merupakan kepercayaan sekaligus peluang strategis untuk mempercepat transformasi menuju pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, rendah limbah, dan berkelanjutan.
Emil menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Jawa Timur. Timbulan sampah di provinsi tersebut disebut mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, sementara baru sekitar 25 persen yang terkelola secara optimal.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur. Kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan sampah dari sumber, dukungan pembiayaan, serta keterlibatan masyarakat dan dunia usaha juga menjadi faktor penting.
"Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang," ujar Emil.
Dalam Proyek InCircular, fokus material di Jawa Timur diarahkan pada alur material sampah kemasan dan residu. Lima kabupaten/kota percontohan nantinya diharapkan dapat menghadirkan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Emil berharap kerangka dan praktik yang dikembangkan dari lima daerah percontohan dapat menjadi solusi yang aplikatif, memperkuat sistem pengelolaan sampah yang sudah ada, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Peluncuran proyek tersebut diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ GmbH) dan Pemprov Jatim, dengan dukungan pendanaan Pemerintah Jerman melalui Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).
Bagi Sidoarjo, keterlibatan dalam proyek ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat hingga pemerintah.
Ekonomi sirkular diharapkan tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka manfaat ekonomi dan sosial dari material yang selama ini berakhir sebagai sampah. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo