Balita Stunting di Sukodono Sidoarjo Kesulitan Akses Bantuan, Komisi D Turun Tangan

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:22 WIB
PEDULI: Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori bersama anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Sutadji saat menjenguk balita stunting di Puskesmas Sukodono.
PEDULI: Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori bersama anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Sutadji saat menjenguk balita stunting di Puskesmas Sukodono.

RADAR SIDOARJO - Kondisi memprihatinkan dialami Jaidal Akmal Husein, balita berusia enam bulan asal Sidoarjo yang mengalami stunting. Di tengah kebutuhan penanganan kesehatan, keluarga Jaidal juga menghadapi persoalan administrasi kependudukan yang membuat mereka kesulitan mengakses sejumlah bantuan pemerintah.

Persoalan tersebut terungkap setelah Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori mendapat informasi mengenai keberadaan balita stunting di wilayah Kecamatan Sukodono. Dhamroni bersama anggota Komisi D Sutadji kemudian mendatangi lokasi dan berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas Sukodono.

Baca Juga: Alfamart Peduli Pengentasan Stunting

Saat didatangi, Jaidal tengah berada di Puskesmas Sukodono untuk mendapatkan perawatan dan berkonsultasi dengan ahli gizi.

Dhamroni mengatakan, persoalan yang dihadapi keluarga Jaidal tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan, tetapi juga administrasi kependudukan.

Baca Juga: Ribuan Kader PKK Sidoarjo Perkuat Peran Lawan Stunting dan Bangun Ketahanan Keluarga

Jaidal kini tinggal bersama kakek dan neneknya di Desa Cangkringsari, Kecamatan Sukodono. Namun, administrasi keluarga mereka masih tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK) di Desa Karangpuri, Kecamatan Wonoayu.

"Kemarin saya melihat di sana terkendala proses administrasi. KK-nya masih ikut keluarganya di Kecamatan Wonoayu, Desa Karangpuri," kata Dhamroni, Jumat (4/9).

Baca Juga: RSU Assakinah Medika Sukodono Sidoarjo Ajak Ibu Hamil Cegah Stunting lewat Prenatal Pilates

Persoalan tersebut semakin kompleks karena Soemarni, nenek Jaidal, juga tidak memiliki rumah tinggal pribadi. Ia masih tercatat sebagai warga Desa Karangpuri, Wonoayu, tetapi kini mengasuh cucunya di rumah milik kerabat di wilayah Sukodono.

Kondisi administrasi itu disebut turut berdampak pada akses keluarga terhadap bantuan sosial dari Kementerian Sosial (Kemensos). Dhamroni menyebut bantuan sosial keluarga tersebut terblokir karena salah satu anggota yang masih tercatat dalam satu KK terindikasi terkait judi online.

Baca Juga: TPPS Diminta Kolaboratif Tangani Akar Masalah Stunting secara Terpadu di Sidoarjo

Sementara itu, Jaidal kini diasuh kakek dan neneknya setelah ibunya, Ester Apsari, meninggal dunia sekitar sepekan lalu. Sebelumnya, kedua orang tua Jaidal telah bercerai. Ayahnya saat ini bekerja di Surabaya.

Dari sisi kesehatan, kondisi Jaidal juga cukup memprihatinkan. Berat badannya disebut hanya sekitar lima kilogram, sedangkan berat ideal bayi seusianya berada di kisaran delapan kilogram.

Dhamroni mengungkapkan, Jaidal sebelumnya tidak rutin dibawa ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi maupun pemantauan tumbuh kembang. Kondisi tersebut diduga turut memengaruhi pertumbuhan balita tersebut.

Meski demikian, Dhamroni menilai masih terdapat peluang bagi Jaidal untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya karena usianya masih enam bulan.

"Masih belum terlambat. Masih usia enam bulan, masih ada potensi besar untuk bisa dipulihkan kembali normal seperti bayi-bayi lainnya," ujarnya.

Karena itu, Komisi D DPRD Sidoarjo mendorong Puskesmas Sukodono melakukan intervensi secara berkelanjutan. Penanganan tidak hanya dilakukan dari sisi kesehatan, tetapi juga harus dibarengi penyelesaian persoalan administrasi kependudukan keluarga.

Dhamroni telah berkoordinasi dengan Camat Sukodono agar administrasi kependudukan keluarga Jaidal dapat disesuaikan dengan domisilinya saat ini.

Pemisahan KK dinilai penting agar keluarga Jaidal dapat mengakses hak-hak dasar sebagai warga, termasuk bantuan sosial dan kepesertaan BPJS Kesehatan.

"Ini sudah termasuk desil dua kalau tidak salah, sehingga bisa menerima bantuan sosial dan hak-haknya, baik dari sisi BPJS Kesehatan dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu, Dhamroni meminta kader kesehatan dan bidan di wilayah tersebut melakukan pemantauan secara rutin terhadap perkembangan Jaidal. Keluarga juga diminta aktif membawa Jaidal ke Posyandu dan Puskesmas untuk memantau tumbuh kembang serta mendapatkan penanganan apabila ditemukan persoalan kesehatan.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Cangkringsari. Perangkat desa disebut siap membantu kebutuhan Jaidal, termasuk mengantarnya ke Puskesmas menggunakan mobil siaga desa apabila diperlukan.

"Anak ini masa depannya juga harus dilindungi. Saya berpesan kepada perangkat desa untuk senantiasa memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan anak ini," tandasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
administrasi Sukodono Komisi D DPRD Stunting