Harga Daging Sapi Sidoarjo Tembus Rp 135 Ribu, Ini Penyebabnya

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:20 WIB
MENGELUH: Pedagang daging sapi di Sidoarjo. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
MENGELUH: Pedagang daging sapi di Sidoarjo. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Harga daging sapi lokal di Kabupaten Sidoarjo masih tinggi. Dari sebelumnya sekitar Rp 120 ribu per kilogram, kini harganya menembus Rp 135 ribu per kilogram.

Kenaikan ini mulai berdampak pada penjualan pedagang daging karena konsumen mengurangi pembelian dan beralih ke protein hewani yang lebih terjangkau seperti ayam, telur, dan ikan.

Baca Juga: Harga Daging Meroket, Stan di Pasar Porong Sidoarjo Sepi Pembeli

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Produksi Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Sidoarjo drh Erwin Priatmoko mengatakan, kenaikan harga daging sapi dipengaruhi terbatasnya pasokan sapi hidup dari daerah pemasok.

"Dari harga normal daging sapi lokal yang sebelumnya Rp 120 ribu per kilogram, sekarang bisa mencapai Rp 135 ribu per kilogram. Naik sekitar Rp 15 ribu dari harga normal," ujar Erwin, Selasa (18/8).

Baca Juga: Harga Daging Sapi di Pasar Krian Sidoarjo Tembus Rp 130 Ribu per Kg, Pembeli Turun hingga 50 Persen

Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari berkurangnya pasokan sapi dari sejumlah daerah asal. Di sisi lain, permintaan sapi sempat tinggi untuk kebutuhan Hari Raya Kurban sehingga stok sapi semakin menipis.

Kondisi semakin terasa dengan berkurangnya stok sapi jenis Beef Cattle (BX) dari daerah pemasok utama, salah satunya Malang. Akibatnya, Rumah Potong Hewan (RPH) Krian dan sejumlah RPH di sekitar Sidoarjo kesulitan mendapatkan sapi hidup dengan harga normal.

Baca Juga: Semangat Berbagi di Idul Adha 2025, BMH Unit Sidoarjo Salurkan Daging Kurban hingga Desa Terluar dan Terpelosok

Harga sapi di tingkat peternak juga ikut terdorong naik. Salah satu penyebabnya adalah tingginya harga pedet atau anakan sapi serta meningkatnya biaya pakan.

Kondisi tersebut diperparah musim kemarau. Ketersediaan dan kualitas rumput sebagai pakan alami menurun karena pertumbuhan hijauan terhambat minimnya pasokan air. Nilai nutrisi dan hasil rumput pun ikut menurun.

Baca Juga: Peringati Idul Adha, YPM Sidoarjo Sembelih 15 Sapi Kurban dan Distribusikan Daging ke 70 Titik

Peternak akhirnya harus membeli pakan tambahan atau konsentrat sebagai pengganti rumput segar. Padahal, harga pakan juga mengalami kenaikan sehingga biaya pemeliharaan sapi semakin tinggi.

"Harga beli pedet mahal, harga pakan tinggi. Musim kemarau sentral sapi jumlah rumput berkurang," jelasnya.

Selain biaya pakan, tingginya biaya pemeliharaan induk dan panjangnya masa pembesaran membuat ketersediaan pedet siap dikembangbiakkan menjadi terbatas. Rantai pasokan yang ketat serta biaya logistik yang tinggi kemudian ikut mendorong harga sapi hingga ke tingkat konsumen.

Erwin menyebut kondisi tersebut menjadi dilema bagi pedagang daging sapi di pasar tradisional. Jika harga jual dinaikkan mengikuti kenaikan harga sapi di tingkat peternak, daya beli masyarakat dikhawatirkan semakin turun. Namun, apabila harga ditahan, margin keuntungan pedagang semakin tertekan.

"Kalau harga daging dinaikkan, daya beli turun. Sementara harga sapi di tingkat peternak sudah tinggi. Ini yang membuat pedagang daging dilema. Peternak memang senang karena harga sapi tinggi," ungkapnya.

Dampaknya, omzet pedagang daging sapi mulai mengalami penurunan. Warung makan maupun rumah tangga mengurangi jumlah pembelian karena harga daging sapi semakin mahal.

Kondisi ini membuat sebagian konsumen memilih sumber protein lain yang harganya lebih terjangkau, seperti ayam ras, telur ayam, hingga ikan segar.

"Sidoarjo ini bukan daerah peternak, sehingga sapi didapatkan dari daerah luar Sidoarjo. Ketika harga sapi tinggi, pembeli berkurang dan beralih ke protein hewani seperti ayam ras, telur ayam, dan ikan segar," katanya.

Dispaperta Sidoarjo, lanjut Erwin, tidak dapat secara langsung menekan kenaikan harga daging sapi. Sebab, harga sapi dan daging sangat dipengaruhi mekanisme pasokan serta kebijakan di tingkat pusat. 

Dengan kondisi pasokan yang masih terbatas, tingginya harga sapi hidup, mahalnya pakan, serta tekanan musim kemarau, harga daging sapi diperkirakan masih menjadi beban bagi konsumen dan pedagang di Sidoarjo. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
Lokal Pasar Harga Daging Kilogram