Wilayah Perbatasan dan Pesisir di Sidoarjo Jadi Prioritas Pengawasan Peredaran Narkoba

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:57 WIB
ANTI NARKOBA: Bupati Sidoarjo Subandi bersama Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto memaparkan strategi pencegahan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Sidoarjo.
ANTI NARKOBA: Bupati Sidoarjo Subandi (kiri) bersama Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto memaparkan strategi pencegahan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Sidoarjo.

RADAR SIDOARJO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo bersama Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sidoarjo memperkuat upaya pemberantasan narkoba dengan memetakan kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan penyalahgunaan narkotika. Wilayah perbatasan hingga kawasan pesisir menjadi fokus utama untuk mendapatkan pengawasan dan edukasi secara intensif.

Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan, hasil survei prevalensi penyalahgunaan narkoba akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan di setiap kecamatan. Daerah dengan tingkat penyalahgunaan tertinggi akan diprioritaskan untuk mendapatkan pembinaan bersama aparat kepolisian, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa.

Baca Juga: Kapolsek Balongbendo Sidoarjo Sosialisasikan P4GN dan Hotline 110, Ajak Warga Aktif Cegah Narkoba

"Mudah-mudahan kita terus intens melakukan pemetaan agar bisa melihat kawasan mana yang angka penyalahgunaan narkobanya paling tinggi. Dari situ kita bisa menentukan langkah penanganan yang tepat," ujar Subandi.

Setelah wilayah rawan dipetakan, seluruh unsur pemerintah akan turun langsung memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba.

Baca Juga: Bupati Sidoarjo Soroti Tingginya Kasus Narkoba di Wonoayu 

"Nanti kita turun bersama, mulai Kapolsek, Camat hingga pemerintah desa untuk memberikan edukasi bahwa Sidoarjo berkomitmen memerangi narkoba. Harapannya, dengan adanya survei ini angka penyalahgunaan narkoba di Sidoarjo bisa terus menurun," katanya.

Subandi juga memberi perhatian khusus terhadap ancaman narkoba yang menyasar kalangan pelajar. Menurutnya, melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkotika merupakan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Tiga Pegawai Lapas Porong Sidoarjo Terima Penghargaan karena Gagalkan Penyelundupan Narkoba

"Kita harus terus menyampaikan bahaya narkoba, terutama kepada anak-anak dan pelajar. Mereka harus kita lindungi. Sebagai kepala daerah, sudah menjadi tugas kami mengayomi dan memastikan generasi muda tidak terjerumus narkoba," tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak hanya diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap aparat penegak hukum, tetapi juga dari menurunnya jumlah pengguna narkoba di masyarakat.

narBaca Juga: Lempar Narkoba dan HP dari Luar Tembok Lapas Porong Sidoarjo, Pelaku Diamankan

"Kita boleh menangkap banyak pelaku, tetapi kalau pengguna narkoba di Sidoarjo masih tinggi, itu tetap menjadi pekerjaan rumah. Karena itu kolaborasi dengan BNN harus terus kita tingkatkan," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BNNK Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto menjelaskan, kondisi geografis Kabupaten Sidoarjo membuat sejumlah wilayah memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi, terutama daerah perbatasan dan kawasan pesisir.

"Daerah perbatasan perlu menjadi perhatian karena Sidoarjo merupakan wilayah penyangga. Seiring perkembangan daerah, biasanya juga muncul berbagai potensi persoalan, termasuk penyalahgunaan narkoba. Karena itu kawasan perbatasan dan pesisir harus terus kita waspadai," jelasnya.

Saat ditanya mengenai kecamatan seperti Waru, Taman, dan Tarik, Gatot mengakui wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi.

"Ya, karena berbatasan langsung dengan Surabaya," ujarnya.

Meski demikian, Gatot menegaskan pihaknya tidak akan mempublikasikan angka pasti penyalahgunaan narkoba di setiap kecamatan. Menurutnya, penyalahgunaan narkotika merupakan fenomena gunung es sehingga sulit diukur secara akurat.

"Kalau angka pasti tidak bisa kita sampaikan. Penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara yang belum terungkap masih sangat banyak," katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski hasil survei menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sidoarjo masih berada di bawah rata-rata nasional.

"Kita tidak boleh underestimate. Justru harus overestimate agar kewaspadaan terus terjaga. Jangan sampai masyarakat merasa aman hanya karena angkanya lebih rendah," tegasnya.

Selain wilayah perbatasan, keberadaan Bandara Internasional Juanda dan jalur perairan juga menjadi perhatian karena berpotensi dimanfaatkan sebagai jalur masuk peredaran narkotika.

"Kita memiliki bandara internasional dan jalur laut. Itu menjadi perhatian bersama sehingga semua pihak harus bersinergi dan memiliki rasa tanggung jawab dalam memerangi narkoba," ujarnya.

Gatot mengungkapkan, Sidoarjo menjadi salah satu daerah yang telah melaksanakan survei prevalensi penyalahgunaan narkoba secara mandiri dengan dukungan penuh Pemkab Sidoarjo. Hasil survei tersebut menjadi acuan dalam menentukan wilayah prioritas intervensi dan kelompok masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

"Data hasil survei ini menjadi dasar untuk mengetahui daerah mana yang harus diprioritaskan agar angka penyalahgunaan narkoba bisa terus ditekan," jelasnya.

Selain melakukan pemetaan wilayah rawan, BNNK Sidoarjo juga memperkuat upaya pencegahan di lingkungan pendidikan. Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah-sekolah serta pemberian edukasi tentang bahaya narkoba kepada para siswa saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

"Kami menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah agar bersama-sama melindungi peserta didik dari ancaman narkotika. Kami juga turun langsung memberikan sosialisasi saat MPLS di sekolah-sekolah se-Kabupaten Sidoarjo," pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
perbatasan pesisir Narkoba peredaran pengawasan