RADAR SIDOARJO - Kampung Lali Gadget (KLG) di Dusun Bendet, Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, terus mendapat dukungan untuk berkembang sebagai destinasi wisata edukasi berbasis permainan tradisional dan pembelajaran alam terbuka.
Setelah menerima berbagai bantuan fasilitas dari Universitas Terbuka (UT) Surabaya, kini penguatan sumber daya manusia dan kolaborasi lintas sektor menjadi fokus pengembangan berikutnya.
Baca Juga: Wabup Sidoarjo Dorong Pembelajaran Tanpa HP lewat Kampung Lali Gadget
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Penguatan Wisata Edukasi Kampung Lali Gadget melalui Revitalisasi Fasilitas Belajar Alam Terbuka dan Permainan Tradisional, Selasa (23/6) siang.
Ketua Pelaksana FGD UT Surabaya, Prof. Dr. Tri Dyah Prastiti, M.Pd., menjelaskan bahwa program revitalisasi yang dilakukan berangkat dari hasil survei kebutuhan yang dilakukan sejak awal tahun.
Baca Juga: PLN Peduli Masa Depan Anak Bangsa, Gandeng Kampung Lali Gadget di Sidoarjo
"Saya tanya untuk pengembangan KLG ini apa saja yang dibutuhkan. Karena temanya permainan tradisional, maka saya tawarkan silakan dilist permainan apa saja yang perlu ditambah atau belum ada. Semua sudah dilist, kemudian saya ajukan ke UT pusat melalui LPPM dan alhamdulillah semuanya bisa terpenuhi," ujar Prof. Dyah ke Radar Sidoarjo.
Melalui program tersebut, UT Surabaya menghibahkan berbagai fasilitas penunjang, mulai tenda, genset, pompa air, hingga beragam permainan tradisional seperti dakon, egrang, alat keseimbangan, dan wahana panjat.
Baca Juga: Cegah Stunting, Kampung Lali Gadget di Sidoarjo Ajak Anak-Anak Tangkap Ikan
Tak hanya itu, fasilitas pendukung pembelajaran luar ruang juga diberikan, seperti kompas, termometer, jaring serangga, sepatu boot, hingga kacamata pelindung untuk aktivitas eksplorasi di area persawahan.
"Anak-anak belajar science, bereksperimen, tetapi mereka tidak sadar kalau sebenarnya sedang belajar karena dikemas dalam bentuk permainan," terangnya.
Baca Juga: Kampung Lali Gadget di Sidoarjo Ajak Mahasiswa Menghidupkan Permainan Tradisional yang Mulai Punah
Namun demikian, ia menilai keberhasilan pengembangan KLG tidak cukup hanya dengan menambah fasilitas. Keberadaan pendamping yang kompeten menjadi kebutuhan utama untuk menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan anak-anak selama beraktivitas.
"Satu hal untuk menjamin permainan itu bisa terimplementasi dengan baik adalah keamanan, keselamatan, dan kebahagiaan anak. Tiga hal itu hanya bisa terjadi apabila setiap permainan ada satu pendamping yang terlatih," tegasnya.
Karena itu, hasil FGD juga menyoroti pentingnya sertifikasi bagi para pendamping kreatif yang selama ini menjadi ujung tombak kegiatan di KLG.
Selain penguatan SDM, kebutuhan penambahan wahana permainan juga menjadi perhatian. Terlebih, kunjungan siswa melalui program Outdoor Learning (ODL) akan segera direalisasikan.
"Permainan perlu ditambah. Nanti mereka membuat daftar lagi dan mengajukan kepada saya, kemudian akan kami ajukan kembali melalui program pengabdian masyarakat berikutnya," jelasnya.
Tri Dyah menambahkan, program pengabdian masyarakat nasional yang dijalankan UT umumnya berlangsung selama tiga tahun. Karena itu, berbagai masukan yang muncul dalam FGD akan dirangkum sebagai bahan penyusunan proposal lanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sidoarjo, Yudhi Irianto, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa penguatan KLG tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
"Penguatan KLG tidak harus dari kami sendiri, tetapi dari semua stakeholder, baik akademisi, kecamatan maupun pemerintah desa. Komunikasi dan kolaborasi ini yang harus terus dibangun," katanya.
Menurut Yudhi, KLG memiliki keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain karena menggabungkan wisata edukasi dengan pengenalan permainan dan olahraga tradisional.
"KLG punya keunikan atas atraksi yang ditampilkan, yaitu edukasi wisata untuk pendidikan dan pengenalan olahraga tradisional. Itu yang menjadi daya tariknya," ujarnya.
Disporapar, lanjut Yudhi, selama ini juga telah berkolaborasi dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) untuk mengenalkan berbagai olahraga tradisional kepada para pelajar yang berkunjung ke KLG.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan kawasan masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan lahan karena lokasi yang saat ini masih berstatus sewa.
"Kami akan menyusun kajian bersama. Perlu penguatan sumber daya, baik keuangan maupun aspek lainnya. Tetapi semuanya harus dibahas dan direncanakan bersama," jelasnya.
Di sisi lain, Kepala DP3AKB Kabupaten Sidoarjo, Heni Kristiani, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya menjadikan KLG sebagai kawasan wisata yang ramah dan sehat bagi anak.
"Kami mendukung bagaimana KLG ini menjadi wisata anak yang sehat. Permainannya harus standar, anak-anak merasa nyaman, terlindungi, lingkungannya sehat, dan semua berpihak kepada anak," ungkapnya.
Menurut Heni, keberadaan pendamping tetap menjadi faktor penting untuk memastikan seluruh aktivitas berjalan aman.
"Pendamping tetap diperlukan. Anak bermain apa pun harus tetap ada yang mendampingi dan melindungi," katanya.
Ia juga menyoroti peran keluarga dalam menghadapi berbagai persoalan anak saat ini, termasuk ketergantungan terhadap gawai.
"Permasalahan anak sekarang banyak berkaitan dengan keluarga. Termasuk kecanduan gadget. Karena itu bukan hanya anak yang dibina, tetapi orang tuanya juga harus dilibatkan," ujarnya.
Heni berharap aktivitas bermain di KLG dapat menjadi alternatif positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital.
"Paling tidak ketika anak bermain di sini selama dua jam, mereka bisa melupakan gadget selama dua jam itu. Ini menjadi salah satu upaya meminimalisir ketergantungan gadget pada anak," tandasnya.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, hingga sektor swasta, KLG diharapkan terus berkembang menjadi pusat wisata edukasi unggulan di Sidoarjo yang tidak hanya melestarikan permainan tradisional, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan berkelanjutan. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista