RADAR SIDOARJO - Upaya Perumda Delta Tirta Sidoarjo dalam menekan tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) terus dilakukan melalui berbagai inovasi.
Salah satu langkah strategis yang mulai diterapkan adalah sistem digitalisasi jaringan menggunakan teknologi Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) yang terbukti mampu mendeteksi kebocoran air lebih cepat dan akurat.
Baca Juga: Warga Gempolsari Masih Krisis Air Bersih, Bupati Sidoarjo Siapkan Bantuan Tangki PDAM
Direktur Utama Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Dwi Hary Soeryadi, mengatakan Tingkat Kehilangan Air (TKA) perusahaan saat ini berada di kisaran 30 persen.
Angka tersebut masih tergolong normal jika dibandingkan dengan sejumlah perusahaan air minum daerah lain di Indonesia yang tingkat kehilangan airnya bisa mencapai 40 persen hingga lebih dari 60 persen.
Baca Juga: 5 Tahun Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Kontribusi PAD dan Cakupan Air Bersih Meningkat
“Angka TKA kita saat ini sekitar 30 persen dan masih tergolong normal dibandingkan daerah lain. Di beberapa wilayah, TKA bahkan ada yang mencapai 40 persen, 50 persen, bahkan di atas 60 persen,” ujar Dwi Hary, Minggu (14/6).
Menurutnya, salah satu solusi paling efektif untuk menurunkan TKA adalah melalui penerapan teknologi SCADA.
Baca Juga: 20 Tahun Semburan Lumpur Sidoarjo, Penderitaan Warga Gempolsari Soal Air Bersih Belum Berakhir
Sistem tersebut memungkinkan pemantauan kondisi jaringan distribusi secara real time sehingga titik kebocoran dapat diketahui lebih awal sebelum menyebabkan kehilangan air yang lebih besar.
Perumda Delta Tirta pun telah melakukan uji coba penerapan SCADA di kawasan Perumahan Shoji Land, Kecamatan Candi.
Hasilnya menunjukkan pencapaian yang sangat signifikan, di mana tingkat kehilangan air yang sebelumnya berada di kisaran 40 persen berhasil ditekan hingga di bawah satu persen.
“Ini membuktikan bahwa digitalisasi menjadi salah satu solusi yang sangat efektif untuk mengendalikan kehilangan air,” jelasnya.
Meski demikian, penerapan teknologi tersebut secara menyeluruh membutuhkan investasi yang sangat besar sehingga pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap dengan perencanaan yang matang.
“Investasi untuk digitalisasi jaringan tidak kecil. Karena itu dibutuhkan tahapan, konsistensi, dan kesabaran agar target penurunan TKA dapat tercapai secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Dwi Hary juga mengungkapkan bahwa Perumda Delta Tirta pernah menjajaki kerja sama dengan dua investor untuk mempercepat program penurunan TKA.
Bahkan kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU), namun kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan karena adanya kendala teknis maupun non-teknis.
Ia menegaskan, TKA tidak bisa serta merta dianggap sebagai kerugian perusahaan. Sebagian besar kehilangan air terjadi akibat faktor teknis, terutama kondisi jaringan perpipaan yang telah berusia tua dan tertanam di bawah tanah sehingga sulit mendeteksi titik kebocorannya.
“Penyumbang terbesar TKA berasal dari faktor teknis, terutama jaringan perpipaan yang usianya sudah cukup lama. Tantangannya adalah menemukan titik kebocoran yang tersebar di sepanjang jaringan yang berada di bawah tanah,” katanya.
Selain faktor teknis, terdapat pula faktor non-teknis seperti penyalahgunaan sambungan atau pelanggaran oleh pihak tertentu.
Namun porsinya relatif kecil dan Perumda Delta Tirta memiliki mekanisme pengawasan serta penindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Apabila ditemukan dan terbukti ada pelanggaran, tentu akan kami tindaklanjuti secara tegas dan berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya.
Dwi Hary berharap upaya menekan tingkat kehilangan air terus menjadi komitmen perusahaan, siapa pun yang nantinya memimpin Perumda Delta Tirta. Menurutnya, semangat untuk melakukan perbaikan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat harus terus dijaga.
“Saya berharap Perumda Delta Tirta tidak patah arang untuk terus berupaya menurunkan tingkat kehilangan air. Siapa pun direksinya nanti, semangat untuk berjuang dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat harus terus dijaga demi hasil yang lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista