RADAR SIDOARJO - Dua dekade setelah semburan lumpur mengubah wajah Porong dan sekitarnya, penderitaan warga belum benar-benar berakhir.
Warga Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, hingga kini masih hidup berdampingan dengan ancaman banjir tahunan dan penurunan tanah yang terus terjadi.
Setiap hujan deras mengguyur, air dengan cepat menggenangi permukiman warga. Kondisi diperparah dengan penurunan tanah atau land subsidence yang masih berlangsung hingga sekarang.
Baca Juga: 20 Tahun Semburan Lumpur Sidoarjo, Penderitaan Warga Gempolsari Soal Air Bersih Belum Berakhir
Jalan kampung yang terus ditinggikan akibat rusak diterjang banjir justru membuat posisi rumah warga semakin rendah dari permukaan jalan.
Salah satu warga Dusun Pologunting, Taufik, mengatakan penurunan tanah mulai dirasakan sejak lumpur menyembur pada 29 Mei 2006 silam. Menurutnya, rumah-rumah yang berada di sisi barat dan berbatasan langsung dengan tanggul penahan lumpur mengalami penurunan paling parah.
Baca Juga: Warga Korban Lumpur Sidoarjo Reuni saat Salat Idul Adha di Sekitar Tanggul
“Iya terjadi penurunan tanah, seperti amblas gitu. Itu yang paling terlihat di rumah yang sisi barat berbatasan langsung dengan tanggul penahan lumpur,” ujar pria 55 tahun tersebut, Jumat (29/5).
Ia mengaku tidak mengetahui pasti berapa sentimeter tanah di wilayahnya turun setiap tahun. Namun, perubahan kontur tanah terlihat jelas dari kondisi rumah warga yang terus mengalami penurunan.
Baca Juga: Lumpur Porong Sidoarjo Dua Dekade Tanpa Dokumen Baru, Ini Kata Menteri Lingkungan Hidup
“Turunnya berapa sentimeter tidak tahu, cuman memang turun. Seperti rumah sebelah ini, itu terus menurun, jeglong. Penghuninya sudah meninggal semua, jadi sekarang rumahnya kosong,” katanya sambil menunjuk rumah kosong di sisi barat rumahnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah rumah yang berada tepat di dekat tanggul tampak lebih rendah dibanding badan jalan. Sebagian warga terpaksa meninggikan rumah agar tidak semakin tenggelam saat hujan deras turun.
Baca Juga: Semburan Lumpur Sidoarjo di Porong Dikabarkan Berhenti, Ini Faktanya
Akibat kondisi tersebut, banjir kini menjadi persoalan rutin yang harus dihadapi warga setiap tahun. Taufik menyebut sebelum tragedi lumpur terjadi, wilayahnya tidak pernah mengalami banjir separah sekarang.
“Akibatnya setiap hujan deras pasti banjir. Dulu sebelum semburan lumpur ini gak ada banjir sama sekali,” tuturnya.
Menurut dia, sedikitnya enam RT di sekitar Dusun Pologunting terdampak banjir tahunan. Ratusan rumah warga kerap kemasukan air ketika hujan deras berlangsung cukup lama.
“Semenjak semburan lumpur di Kecamatan Porong muncul pada 29 Mei 2006, setiap tahun mesti banjir sampai masuk ke rumah warga. Ada enam RT yang terdampak di sekitar sini, ratusan rumah,” jelasnya.
Selain dipicu hujan deras, rembesan air sungai yang berbatasan langsung dengan tanggul lumpur juga memperburuk kondisi lingkungan warga.
“Pembatas sungai yang berbatasan dengan tanggul lumpur itu sampai ngerembes di jalan. Kalau air sungainya agak tinggi itu langsung rembes,” katanya.
Kerusakan jalan akibat banjir juga terus terjadi. Bahkan, menurut Taufik, jalan kampung di wilayahnya bisa diaspal hingga dua kali dalam setahun karena cepat rusak diterjang genangan.
“Jalan depan ini satu tahun dua kali diaspal karena sering rusak akibat banjir. Jalannya sekarang semakin tinggi, rumah-rumah semakin rendah,” ucapnya.
Karena kondisi itu, warga terpaksa mengeluarkan biaya sendiri untuk meninggikan rumah mereka agar sejajar dengan jalan.
“Mau gak mau rumah-rumah ikut ditinggikan biar sepadan dengan jalan. Ini rumah saya baru saya tinggikan setengah meter,” imbuhnya.
Taufik sendiri merupakan warga asli Gempolsari yang telah tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1970-an. Rumah lamanya yang berada di sisi selatan jalan sempat terdampak lumpur hingga akhirnya ia pindah ke sisi utara.
“Saya asli sini sejak tahun 1970-an. Sebelumnya rumah saya berada di sisi selatan jalan, kemudian terdampak hingga akhirnya pindah ke sisi utara,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Suliyati, warga RT 11/RW 03 Dusun Pologunting. Ia mengatakan banjir yang datang setiap musim hujan membuat warga selalu waswas.
“Setiap hujan deras itu pasti banjir, kadang tingginya sampai selutut orang dewasa. Air masuk ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Menurut Suliyati, hingga kini belum ada solusi jangka panjang yang benar-benar dirasakan masyarakat untuk mengatasi banjir tahunan tersebut.
“Belum ada solusi dari pemerintah untuk mengatasi banjir tahunan ini. Harapannya banjir bisa terurai dan pemerintah memberikan solusi jangka panjang agar wilayah Gempolsari tidak banjir lagi,” tandasnya.
Saat ini warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo segera turun tangan menangani persoalan tersebut. Selain ancaman banjir dan penurunan tanah, posisi Dusun Pologunting yang berbatasan langsung dengan tanggul penahan lumpur juga membuat warga khawatir jika sewaktu-waktu tanggul mengalami kebocoran atau jebol.
Sebagai informasi, dampak lumpur Sidoarjo masih dirasakan hingga kini, terutama di wilayah Kecamatan Porong dan Tanggulangin.
Penurunan tanah di area sekitar semburan tercatat mencapai rata-rata maksimal 40 sentimeter per tahun, dengan akumulasi historis mencapai belasan meter di dekat pusat semburan sejak awal kejadian. Bahkan, Jalan Raya Porong disebut pernah mengalami penurunan tanah hingga sekitar lima sentimeter per hari pada periode tertentu. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista