Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

20 Tahun Semburan Lumpur Sidoarjo, Penderitaan Warga Gempolsari Soal Air Bersih Belum Berakhir

Diky Putra Sansiri • Kamis, 28 Mei 2026 | 15:26 WIB
TERDAMPAK LUMPUR: Kondisi air sumur warga di Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, yang sudah tidak layak digunakan. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
TERDAMPAK LUMPUR: Kondisi air sumur warga di Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, yang sudah tidak layak digunakan. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - 20 tahun setelah semburan lumpur di Kecamatan Porong pertama kali muncul pada 29 Mei 2006, penderitaan warga terdampak ternyata belum sepenuhnya berakhir.

Warga Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, hingga kini masih kesulitan mendapatkan air bersih karena air sumur mereka sudah tidak layak digunakan. 

Baca Juga: Warga Korban Lumpur Sidoarjo Reuni saat Salat Idul Adha di Sekitar Tanggul

Air sumur di kawasan tersebut berubah menjadi asin, berwarna kuning, dan berbau tidak sedap sejak tragedi lumpur terjadi. Kondisi itu memaksa warga membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu warga, Taufik, mengatakan keluarganya harus rutin membeli air PDAM karena sumur di rumahnya sudah tidak bisa digunakan lagi.

Baca Juga: Kue Lumpur Khas Sidoarjo Laris Manis Sejak Awal Ramadan

“Air sumur sudah tidak bisa dipakai sejak semburan lumpur tahun 2006. Airnya asin, kuning, dan berbau tidak sedap,” ujar pria 55 tahun itu saat ditemui Radar Sidoarjo, Kamis (28/5).

Warga asli Gempolsari yang tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1970-an itu mengaku setiap tiga hingga empat hari sekali harus membeli 10 jeriken air untuk kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Idul Adha Jadi Momen Reuni Eks Warga Terdampak Lumpur Sidoarjo

“Setiap tiga sampai empat hari beli 10 jeriken untuk masak, cuci baju, dan cuci piring. Bahkan ada warga lain yang juga membeli air untuk mandi,” jelasnya.

Menurut Taufik, sebelum terdampak lumpur, rumahnya berada di sisi selatan jalan. Namun karena kawasan tersebut terdampak, ia akhirnya pindah ke sisi utara.

Baca Juga: Sat Samapta Polresta Sidoarjo Datangi Wisata Lumpur Sidoarjo, Ada Apa?

“Saya asli sini sejak tahun 1970-an. Dulu rumah saya di sisi selatan jalan, lalu terdampak lumpur dan akhirnya pindah ke sisi utara,” katanya.

Ia menyebut ada sekitar enam RT di Dusun Pologunting dengan jumlah sekitar 60 rumah di setiap RT. Hampir seluruh warga mengalami persoalan yang sama terkait krisis air bersih.

“Kurang lebih semua terdampak soal air bersih,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Suliyati, warga RT 11/RW 03 Dusun Pologunting. Ia mengatakan sejak munculnya lumpur, sumur warga berubah menjadi asin sehingga tidak bisa lagi digunakan.

“Semenjak ada lumpur itu sulit mendapatkan air bersih karena sumurnya sudah asin. Jadi harus beli air setiap tiga sampai empat hari sekali sebanyak 10 jeriken,” ungkapnya.

Menurut Suliyati, harga satu jeriken air mencapai Rp 3 ribu sehingga dalam sekali membeli air warga harus mengeluarkan sekitar Rp 30 ribu.

“Kalau dihitung sebulan bisa sampai Rp 300 ribu. Belum lagi air dipakai untuk kebutuhan jualan,” katanya.

Suliyati mengaku bantuan air bersih terakhir diterima warga pada tahun 2024. Setelah itu, tidak ada lagi bantuan maupun solusi permanen dari pemerintah terkait persoalan air bersih tersebut.

“Terakhir dapat bantuan air tahun 2024. Sudah dua tahun ini tidak ada bantuan lagi dan belum ada solusi dari pemerintah,” tuturnya.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dapat kembali memberikan bantuan air bersih sekaligus mencarikan solusi jangka panjang agar mereka bisa menikmati air layak pakai.

“Harapannya dibantu air bersih seminggu sekali dan ada solusi supaya warga bisa menggunakan air bersih yang layak untuk kebutuhan sehari-hari,” harapnya.

Tak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kondisi air di wilayah tersebut juga memengaruhi lingkungan sekitar. Tanaman milik warga sulit tumbuh karena tidak bisa disiram menggunakan air sumur setempat.

“Tanaman kalau disiram pakai air sini malah mati. Tanahnya jadi gersang,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Dusun Pologunting berbatasan langsung dengan tanggul penahan lumpur. Selain krisis air bersih, warga juga dihantui kekhawatiran jika sewaktu-waktu tanggul penahan lumpur mengalami kerusakan atau jebol. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#penderitaan #warga #Air Bersih #semburan #Lumpur