RADAR SIDOARJO - Momen Idul Adha 1447 Hijriah di Pondok Pesantren (Ponpes) Mukmin Mandiri Sidoarjo berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, Rabu (27/5).
Tak sekadar menyembelih hewan kurban, ratusan masyarakat diajak mengikuti ngaji kurban hingga makan bersama olahan daging kurban di lingkungan pesantren yang berada di Jalan Tirta Bougenville, Desa Ngingas, Kecamatan Waru.
Pada momen tersebut, Ponpes Mukmin Mandiri menyembelih lima ekor sapi dan lima ekor kambing. Daging kurban kemudian dibagikan kepada kaum duafa, yatim piatu, warga sekitar, hingga masyarakat yang dinilai belum beruntung secara ekonomi.
Pengasuh Ponpes Mukmin Mandiri Sidoarjo Muhammad Zakki mengatakan, kegiatan kurban ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi sekaligus meneladani perjuangan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar.
“Ya kita ajak makan bersama, semoga ini menjadi sebuah jalinan silaturahim untuk bisa meneladani Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar,” ujar Muhammad Zakki, Rabu (27/5).
Selain prosesi penyembelihan hewan kurban, kegiatan juga diisi dengan ngaji kurban yang dipimpin langsung oleh Muhammad Zakki. Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai momentum kontemplasi diri dan ikhtiar memperbaiki kehidupan.
“Momentum Idul Adha ini menjadi momentum untuk berkontemplasi, untuk mengubah takdir. Semoga ini menjadi sesuatu yang luar biasa yang membuat kita bisa meneladani Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar yang begitu luar biasa tawakal-nya,” katanya.
Pendiri Ponpes Mukmin Mandiri itu menegaskan, kehidupan harus dijalani dengan perjuangan dan usaha yang sungguh-sungguh. Menurutnya, doa, zikir, dan kerja keras menjadi bagian penting dalam membuka jalan kehidupan yang lebih baik.
“Hakikatnya adalah bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan. Jangan pernah berhenti berjuang. Karena Allah menghidupkan kita ini, Allah punya rencana yang terbaik,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjalani hidup secara biasa-biasa saja tanpa memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Pesannya satu, bahwa hidup ini jangan hanya sekadar hidup. Tapi buatlah hidup punya value, punya nilai. Setidaknya kita membuat sejarah yang terbaik pada diri kita,” tegas Muhammad Zakki.
Kegiatan ngaji sugih yang rutin digelar setiap awal bulan itu, lanjutnya, akan terus dikembangkan dengan konsep yang lebih besar pada tahun mendatang. Bahkan, pihaknya berencana menghadirkan tokoh nasional untuk membangkitkan semangat perjuangan dan keteladanan Nabi Ibrahim serta keluarganya.
“Harapan ke depan insyaallah acara ini akan kita kemas lebih besar lagi. Tentu menghadirkan tokoh nasional,” tandasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista