Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Waspada Kemarau Panjang, BPBD Sidoarjo Petakan Wilayah Rawan Kebakaran Lahan

Diky Putra Sansiri • Jumat, 17 April 2026 | 16:40 WIB
Grafis Potensi Rawan Kebakaran. (WILLDHAN/RADAR SURABAYA)
Grafis Potensi Rawan Kebakaran. (WILLDHAN/RADAR SURABAYA)

RADAR SIDOARJO – Ancaman kebakaran lahan kembali menghantui Kabupaten Sidoarjo saat musim kemarau panjang. Meski tidak memiliki kawasan hutan, potensi kebakaran justru meningkat di lahan kosong, kawasan industri, hingga tambak kering yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sidoarjo Sabino Mariano mengungkapkan, pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Menurutnya, kebakaran lahan di Sidoarjo umumnya terjadi pada lahan kosong, semak belukar, tambak kering, serta kawasan industri saat cuaca panas berkepanjangan.

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Plastik di Sukodono Sidoarjo, 3 Unit PMK Diterjunkan

Wilayah yang dinilai paling rawan di antaranya Kecamatan Waru dan Buduran karena didominasi kawasan industri serta lahan terbuka. Selain itu, Kecamatan Krian dan Balongbendo juga memiliki hamparan lahan kosong luas yang mudah terbakar.

Sementara itu, kawasan pesisir seperti Kecamatan Porong dan Jabon turut menjadi perhatian karena banyaknya tambak kering serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api. Kecamatan Tanggulangin juga masuk kategori rawan akibat banyaknya lahan tidak produktif.

Baca Juga: Kebakaran Kontrakan di Kloposepuluh Sukodono Sidoarjo, Satu Penghuni Tewas

Sabino menjelaskan, tingkat kerawanan tersebut dipengaruhi vegetasi kering, aktivitas manusia, serta kondisi angin, terutama di wilayah pesisir. Untuk mengantisipasi hal itu, BPBD mengandalkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) melalui pemantauan titik panas berbasis data satelit.

“Kami memanfaatkan data dari BMKG dan BNPB, didukung patroli Tim Reaksi Cepat (TRC) yang siaga 24 jam, serta laporan masyarakat sebagai bagian dari deteksi dini,” ujarnya kepada Radar Sidoarjo, Jumat (17/4).

Baca Juga: Kebakaran Gudang di Masangan Kulon, Damkar Sidoarjo Kerahkan Tiga Unit Armada

Di sisi operasional, BPBD juga menyiagakan tujuh pos pemadam kebakaran yang berada di Krian, Sukodono, Porong, Candi, Sidoarjo Kota, Buduran, dan Waru. Pos tersebut disiapkan untuk mempercepat respons saat terjadi kebakaran.

Berdasarkan data BPBD, kebakaran lahan di Sidoarjo umumnya berskala kecil hingga menengah. Namun, jumlah titik panas meningkat signifikan saat puncak kemarau antara Agustus hingga Oktober, bahkan dapat mencapai puluhan titik.

Baca Juga: Dua Kebakaran di Sidoarjo dalam Semalam, Pabrik Tahu dan Laundry Ludes

Sebaran kebakaran paling banyak ditemukan di lahan kosong pinggir jalan, kawasan industri terbuka, serta tambak kering di wilayah pesisir seperti Jabon dan Porong. Penyebab utamanya didominasi aktivitas manusia, mulai dari pembakaran sampah atau lahan, puntung rokok, hingga percikan aktivitas industri.

Ia juga mengingatkan potensi perluasan kebakaran cukup tinggi, terutama di wilayah berangin dengan vegetasi kering. Dalam penanganannya, BPBD masih menghadapi sejumlah kendala, seperti akses lokasi sulit dijangkau, keterbatasan sumber air, hingga angin kencang yang mempercepat rambatan api.

“Keterbatasan armada juga menjadi tantangan jika terjadi beberapa kejadian secara bersamaan,” tambahnya.

Untuk menekan risiko, BPBD mengedepankan koordinasi lintas sektor bersama TNI-Polri, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta pemerintah kecamatan dan desa.

Di sisi pencegahan, berbagai program edukasi terus digencarkan, mulai dari sosialisasi larangan pembakaran lahan, pembentukan relawan desa tangguh bencana, hingga simulasi penanganan kebakaran.

“Kami terus mendorong kesadaran masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” tegasnya.

Selain kebakaran lahan, Sidoarjo juga menghadapi ancaman bencana tahunan lain seperti banjir di wilayah Waru, Tanggulangin, Porong, Taman, dan Krian saat musim hujan. Selain itu, banjir rob di kawasan pesisir Jabon dan Sedati, serta angin kencang saat masa peralihan musim.

BPBD memastikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) tahun 2026 masih mencukupi untuk penanganan darurat. Namun, jika terjadi bencana berskala besar, dibutuhkan dukungan anggaran tambahan lintas sektor.

Dengan kesiapsiagaan petugas selama 24 jam, dukungan pos damkar, serta penguatan edukasi masyarakat, Pemkab Sidoarjo optimistis mampu meminimalkan risiko kebakaran lahan selama musim kemarau. (dik/vga)

 

Editor : Vega Dwi Arista
#Waspada #Kemarau #BPBD #Rawan #Kebakaran