RADAR SIDOARJO - Gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, tak sekadar menjadi tempat belanja kebutuhan pokok. Koperasi ini berperan sebagai simpul ekonomi desa yang menghubungkan petani, toko kelontong, hingga pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Sejak beroperasi pada Agustus 2025, KDMP Prasung telah menggandeng puluhan toko milik warga sebagai anggota sekaligus mitra distribusi. Toko-toko tersebut mengambil pasokan sembako dari koperasi dengan harga grosir, kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat.
Manajer KDMP Prasung, Imron, mengatakan hingga kini sudah ada 57 anggota yang bergabung, mayoritas merupakan pemilik toko di Desa Prasung.
“Alhamdulillah sampai hari ini sudah ada sekitar 57 anggota, sebagian besar dari toko-toko di Desa Prasung, selain pengurus dan pengawas,” ujarnya.
Gerai koperasi ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, garam, bawang merah, hingga telur. Selain itu, tersedia pula komoditas tertentu seperti asam matang dan kemasan thinwall.
“Mulai dari beras, minyak, gula, bawang, garam, hingga kebutuhan pokok sehari-hari lainnya,” jelas Imron.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Desa Tawangsari Taman sidoarjo Rampung 100 Persen
Menariknya, sebagian produk yang dijual merupakan hasil kerja sama langsung dengan petani lokal. Koperasi membeli hasil panen warga, kemudian mengolah dan memasarkannya kembali.
“Kami bekerja sama dengan petani. Hasil panen kami beli, lalu kami olah. Untuk penggilingan, kami bermitra dengan selep berizin di Bojonegoro,” terangnya.
Beras yang dihasilkan kemudian dikemas ulang oleh koperasi untuk menekan biaya produksi. Jika pasokan dari petani lokal tidak mencukupi, KDMP menambah stok dari luar daerah.
Dalam hal penjualan, beberapa komoditas menjadi yang paling diminati. Gula, beras, minyak goreng, dan telur tercatat sebagai produk dengan perputaran tercepat.
“Yang paling laris gula, beras, minyak, dan telur. Gula bisa terjual sekitar 1,5 kuintal, beras 1 kuintal, dan telur satu peti,” ungkapnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, koperasi mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET). Selain itu, KDMP juga memberikan kemudahan pembayaran bagi toko anggota dengan sistem tempo hingga satu minggu.
“Kami beri kelonggaran pembayaran untuk anggota toko hingga satu minggu,” tambahnya.
Keberadaan KDMP justru memperkuat usaha toko kelontong warga, bukan mematikannya. Koperasi berperan sebagai pemasok utama bagi toko-toko tersebut.
Di Desa Prasung sendiri tidak terdapat minimarket modern seperti Alfamart atau Indomaret. Pemerintah desa memang membatasi keberadaan ritel modern agar usaha kecil milik warga tetap berkembang.
Selain memasok sembako, KDMP Prasung juga menyuplai kebutuhan lain seperti thinwall dan beras untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di desa setempat.
Terkait rencana pemerintah pusat yang akan mengimpor 105 ribu mobil pikap dari India untuk mendukung operasional KDMP, Imron mengaku belum menerima informasi lebih lanjut.
“Untuk rencana mobil operasional itu kami belum mendapat informasi. Tapi untuk operasional di sini sudah berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan kendaraan operasional di KDMP Prasung saat ini sudah tercukupi.
“Kami sudah memiliki kendaraan operasional sendiri untuk distribusi, termasuk pengangkutan beras,” katanya.
Sementara itu, terkait isu bantuan modal hingga Rp3 miliar untuk koperasi desa, Imron menegaskan KDMP Prasung masih mengandalkan modal internal dari anggota.
“Modal kami berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota yang kami kelola,” tandasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista