RADAR SIDOARJO - Gema salawat dan lantunan ayat suci Al-Quran menyeruak di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Kamis (5/2).
Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan Festival Banjari bertajuk "Inspire Muayyad Competition" yang digelar dalam rangka menyambut Akhirussanah ke-20 sekaligus memperingati Haul ke-15 sang pendiri, Almaghfurlah Romo KH Murtasim Syafi’i.
Acara yang diikuti oleh siswa-siswi jenjang SD/MI dan TPQ se-Kabupaten Sidoarjo ini berkompetisi dalam tiga kategori, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Pemilihan Da’i Cilik (Pildacil), dan Festival Banjari.
Ketua Majelis Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Ponpes Al-Muayyad KH Abdullah Achmad mengenang sosok almarhum KH Murtasim Syafi’i sebagai pejuang pendidikan yang sangat bersahaja.
"Salah satu sifat yang paling menonjol dari Romo Kyai Murtasim adalah kesabaran yang luar biasa. Di Tanggulangin, beliau dikenal sebagai kyai paling sabar. Bayangkan, sampai wafat pun beliau tidak memiliki motor, apalagi mobil. Ke mana-mana hanya naik sepeda pancal, yang sampai sekarang sepedanya masih ada sebagai bukti perjuangan beliau," ujar KH Abdullah Achmad, Kamis (5/2).
Ia juga menambahkan, harta benda hasil keringat almarhum hampir seluruhnya diwakafkan untuk perjuangan agama dan pendidikan.
"Setiap gajian bulanan, gaji itu bukan untuk anak atau istrinya, tapi langsung dibagikan kepada para janda, anak yatim, dan kepentingan pendidikan. Inilah inspirasi kami menggelar lomba ini, untuk mengenang jasa beliau dan mendidik anak-anak agar memiliki wawasan kebangsaan serta ilmu agama yang mumpuni," tambahnya.
Senada dengan semangat tersebut Ketua Panitia Moh Fatkhul Muin mengungkapkan rasa syukurnya atas membludaknya jumlah peserta. Tingginya minat generasi muda Sidoarjo membuat panitia terpaksa membatasi jumlah pendaftar demi menjaga kualitas kompetisi.
"Alhamdulillah, antusiasmenya sangat luar biasa. Bahkan sebelum pendaftaran resmi ditutup, kuota sudah penuh. Kami terpaksa menolak banyak peserta lain karena kuota per kategori, baik Pildacil, Banjari, maupun MTQ, kami batasi hanya 40 peserta," jelas Fatkhul.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari festival ini bukan sekadar perlombaan, melainkan misi besar untuk mencetak bibit unggul yang berkarakter Islami.
"Tujuan kami adalah mewadahi generasi penerus untuk mencetak generasi bangsa yang islami dan Qurani. Kami ingin mewujudkan bibit-bibit unggul dari Sidoarjo yang kelak membawa manfaat bagi masyarakat luas," pungkasnya.
Saat ini, Ponpes Al-Muayyad terus berkembang dengan membina kurang lebih 220 santri, yang semuanya dididik untuk meneladani sifat sabar dan ketulusan sang pendiri dalam berjuang demi agama dan NKRI. (nas/dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista