Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Banjir Dua Bulan, Warga Kedungbanteng Tanggulangin Sidoarjo Terancam Terkena Gangguan Kulit

Diky Putra Sansiri • Selasa, 6 Januari 2026 | 15:33 WIB
MERESAHKAN: Banjir masih menggenangi kawasan Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
MERESAHKAN: Banjir masih menggenangi kawasan Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Genangan banjir yang tak kunjung surut di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mulai berdampak serius terhadap kesehatan warga.

Hampir dua bulan terendam sejak November tahun lalu, banjir dengan ketinggian 15 hingga 50 sentimeter memicu munculnya berbagai penyakit, terutama gangguan kulit.

Hingga Selasa (6/1), air masih menggenangi sejumlah titik permukiman dengan ketinggian hampir setinggi lutut orang dewasa. Aktivitas warga pun terganggu, sementara risiko kesehatan terus meningkat seiring lamanya genangan.

Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menurunkan layanan kesehatan keliling ke wilayah terdampak banjir. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan pelayanan kesehatan dilakukan secara fleksibel menyesuaikan kondisi lapangan.

“Tim Puskesmas Tanggulangin memberikan pelayanan pengobatan secara mobile kepada masyarakat yang terdampak banjir,” ujar dr. Lakhsmie, Selasa (6/1).

Menurutnya, untuk wilayah yang dapat dijangkau ambulans, petugas melakukan pelayanan keliling menggunakan ambulans. Sementara itu, di lokasi yang masih tergenang air cukup tinggi, Dinkes Sidoarjo berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menjangkau warga menggunakan perahu karet.

“Untuk lokasi dengan genangan tinggi, kami bekerja sama dengan BPBD agar pelayanan pengobatan tetap bisa menjangkau warga,” terangnya.

Selain pelayanan kesehatan, Dinkes Sidoarjo juga menyalurkan bantuan berupa biskuit bagi balita dan anak-anak. dr. Lakhsmie menyebutkan, penyakit kulit menjadi keluhan terbanyak yang dialami warga terdampak banjir, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi lingkungan yang lembap serta air banjir yang tercemar menjadi faktor utama pemicu penyakit tersebut.

“Saat ini keluhan yang paling banyak adalah penyakit kulit. Pelayanan kesehatan kami lakukan secara mobile di desa-desa terdampak banjir,” jelasnya.

Untuk mendukung layanan tersebut, tenaga kesehatan disiagakan di setiap desa. Setiap desa ditangani oleh dua tenaga kesehatan, sementara jumlah tim kesehatan keliling disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Lakhsmie juga mengimbau warga agar tetap menjaga kebersihan diri selama banjir berlangsung.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan seperti gatal-gatal, ruam, atau luka pada kulit. Penanganan sejak dini sangat penting agar tidak berkembang menjadi infeksi,” tegasnya.

Sebagai informasi, banjir di Desa Kedungbanteng disebabkan oleh hujan lebat yang disertai tertutupnya aliran sungai di wilayah Kedungpeluk. Penutupan aliran tersebut dipicu proyek pembangunan rumah pompa yang hingga kini belum rampung, sehingga menghambat aliran air dan memperparah genangan banjir. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#kulit #Banjir #Kesehatan #Tanggulangin #gatal #terendam