RADAR SIDOARJO - RSUD Sidoarjo Barat terus memperkuat kapasitas layanan kesehatan bagi warga wilayah barat Sidoarjo. Menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, rumah sakit milik Pemkab Sidoarjo itu menargetkan dua agenda besar: pengoperasian Gedung Hemodialisa pada April 2026 dan pembukaan empat poli baru yang akan melengkapi layanan rujukan.
Direktur RSUD Sidoarjo Barat, dr Abdillah Segaf Alhadad, mengatakan bahwa pengembangan fasilitas tersebut merupakan jawaban atas meningkatnya kebutuhan masyarakat, terutama pasien penyakit ginjal yang selama ini harus dirujuk ke rumah sakit lain.
“Insyaallah Desember ini bangunannya selesai. Setelah BAST, kami lanjutkan kerja sama operasional untuk pengadaan alat cuci darah. Target kami sekitar April 2026 Gedung Hemodialisa sudah bisa melayani dan langsung dapat digunakan untuk pasien BPJS,” ujarnya, Senin (1/12).
Menurut dr Abdillah, kebutuhan layanan hemodialisa sangat mendesak. Selama ini pasien dari daerah Krian, Prambon, Tarik, hingga Balongbendo harus menempuh perjalanan jauh ke RSUD Sidoarjo atau RSUD dr Soetomo Surabaya.
“Kasihan jika pasien harus bolak-balik seminggu dua kali ke Notopuro atau Soetomo. Prosedur cuci darah itu memakan waktu lima jam. Keluarganya pun ikut lelah. Karena itu rumah sakit daerah harus hadir menjawab kebutuhan tersebut,” tuturnya.
Gedung Hemodialisa yang mulai dibangun Agustus lalu dirancang ramah keluarga. Fasilitasnya meliputi area parkir luas, ruang tunggu nyaman, musala, toilet, hingga ambulans khusus. Pada tahap awal, RSUD Sidoarjo Barat menyediakan 12 mesin cuci darah, dengan kapasitas perluasan hingga 37 tempat tidur.
Untuk kesiapan SDM, sembilan perawat telah menjalani pelatihan hemodialisa di RSUD dr Soetomo dan RSUD dr Saiful Anwar Malang.
“Dengan sembilan perawat itu, kami bisa mengoperasikan 11–12 mesin. Dokter umum sudah kami sekolahkan, sementara dokter spesialisnya sedang proses pelatihan,” jelasnya.
Selain gedung hemodialisa, RSUD Sidoarjo Barat juga menambah empat layanan poli baru di akhir 2025, yakni: Poli THT, Poli Mata, Poli Psikiatri, dan Poli Urologi (dilengkapi layanan ESWL)
Dengan penambahan tersebut, total sudah 20 poli beroperasi hingga akhir 2025.
“Peralatan untuk poli baru sudah siap. Untuk Poli Mata, kami bahkan sudah bersurat agar kuota BPJS ditambah karena animo masyarakat cukup tinggi,” kata dr Abdillah.
Untuk Poli Urologi, layanan Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) turut disiapkan, teknologi pemecah batu ginjal tanpa operasi.
Program pengembangan pada 2026 juga mencakup perluasan ruang operasi. Dari tiga kamar yang tersedia saat ini, RSUD menambah tiga ruang operasi baru, meski dua di antaranya masih menunggu pengadaan alat karena keterbatasan anggaran.
Sementara itu, layanan Medical Check Up (MCU) kini telah digital. Pasien cukup daftar online, mengunggah KTP, dan mengisi formulir dari rumah. “Hasilnya 10 menit sudah keluar,” terang dr Abdillah.
Untuk layanan hemodialisa, ia memastikan kerja sama dengan BPJS telah mencapai tahap positif.
“BPJS sudah memberikan lampu hijau. Mereka tahu kebutuhan cuci darah di wilayah barat sangat tinggi,” tegasnya.
Bahkan sebelum operasional dibuka, sejumlah warga sudah mendaftar sebagai calon pasien hemodialisa RSUD Sidoarjo Barat.
dr Abdillah menegaskan bahwa pengembangan masif ini menjadi komitmen RSUD Sidoarjo Barat untuk menjadi pusat layanan kesehatan utama bagi warga Taman, Krian, Prambon, Wonoayu, Tarik, hingga Balongbendo.
“Insyaallah kami hadir sebagai tulang punggung layanan kesehatan di wilayah barat. Setiap tahun kami kembangkan fasilitas supaya masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke kota,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista