RADAR SIDOARJO - Insiden ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Kecamatan Buduran, masih menyisakan duka bagi keluarga Irham Ghifari. Santri asal RT 6/RW 1, Desa Katerungan, Kecamatan Krian, Sidoarjo, itu menjadi korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut.
Kediamannya yang berada di Katerungan, Krian, itu kini tampak sepi dan tertutup rapat sejak kabar duka datang. Irham Ghifari, putra pertama dari dua bersaudara. Irham, remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang santun dan berbakti.
Sejak usia 13 tahun, ia telah mondok di Ponpes Al Khoziny untuk menimba ilmu agama. Tiga tahun lamanya ia hidup mandiri di pondok, jauh dari orang tua, demi mengejar cita-cita menjadi anak yang saleh dan berilmu.
“Irham itu anaknya sopan. Kalau pulang dari pondok, selalu membantu orang tuanya," tutur tetangga korban, Siti Fatimah, Selasa (14/10).
Menurut dia, keluarga Faisal dikenal sebagai keluarga yang religius dan aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar.
“Ayahnya, Pak Faisal, orangnya taat. Sering ikut yasinan dan kegiatan masjid. Mereka keluarga yang baik, warga merasa sangat berduka,” tambahnya.
Irham menjadi salah satu dari dua korban yang berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur, Senin (13/10) malam. Proses identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan medis dan DNA di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.
Begitu identitas Irham dipastikan, keluarga langsung berangkat ke Bangkalan, Madura, kampung halaman mereka untuk menyiapkan pemakaman. Jenazah Irham dimakamkan di sana, bukan di Krian, tempat keluarga selama ini menetap.
“Sejak kabar itu datang, rumah ini langsung kosong. Keluarganya semua ke Bangkalan untuk pemakaman," ujarnya.
Kini, halaman rumah keluarga Faisal di Krian hanya menyisakan keheningan. Warga sekitar berencana melayat ke Bangkalan dalam waktu dekat.
“Kami rencana mau takziah bersama jamaah yasinan ke rumahnya di Bangkalan,” tandasnya.
Diketahui, musala Ponpes Al Khoziny, Buduran, ambruk pada Senin (29/9) lalu. Tragedi tersebut menelan puluhan korban jiwa, sebagian besar merupakan santri yang sedang beraktivitas di dalam bangunan. Hingga kini, Ditreskrimum Polda Jatim masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti robohnya bangunan tersebut. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista