Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Banjir di Jalan Wisma Tropodo Waru Sidoarjo Belum Surut, Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli

Diky Putra Sansiri • Kamis, 26 Desember 2024 | 20:25 WIB
BUTUH SOLUSI: Banjir menggenangi kawasan Wisma Tropodo, Kamis (26/12). (DIKY PUTRA SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
BUTUH SOLUSI: Banjir menggenangi kawasan Wisma Tropodo, Kamis (26/12). (DIKY PUTRA SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

SIDOARJO - Sudah tiga hari, banjir yang merendam Jalan Raya Wisma Tropodo, Kecamatan Waru belum surut, Kamis (26/12). Pasca hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir membuat debit air yang menggenang cukup tinggi.

Dalam pantauan Radar Sidoarjo, banjir yang melanda kawasan Jalan Raya Wisma setinggi 25 sampai 30 sentimeter. Meski sudah menjadi langganan banjir dari tahun ke tahun, masih belum ada tindakan signifikan dari pihak terkait untuk menanggulangi masalah tersebut.

Jalan Raya Wisma Tropodo termasuk titik banjir yang cukup parah, bagaimana tidak? Dua hari sebelumnya, banjir sudah setinggi lutut orang dewasa. Akibat banjir, membuat sejumlah pedagang harus meliburkan diri.

Hal itu diungkapkan oleh penjual kacang ijo, Agus, pada Kamis (26/12), setiap musim hujan tiba, daya beli masyarakat selalu menurun. Hal itu disebabkan, banjir yang menggenangi Jalan Raya Wisma Tropodo tak kunjung surut.

Menurut pria 30 tahun itu, meski sudah 11 tahun lamanya ia berdagang di Jalan Raya Wisma Tropodo, masih belum ada solusi untuk menangani masalah banjir tersebut dari pihak terkait.

"Iya dari dulu setiap hujan deras selalu banjir, jadi sangat terdampak, pembelinya sepi. Kemaren itu tinggi, ini agak surut tapi masih menggenang," ujarnya.

Akibat hujan deras yang tak kunjung reda, membuat tempatnya berdagang dipenuhi air. Sehingga, membuat stan kacang ijo miliknya harus tutup lebih awal. Padahal, pekerjaan ini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

"Biasanya buka pukul 11.00 sampai malam, berhubung kemaren banjir akhirnya tutup lebih awal pas Selasa, pas Rabu nya kemaren libur satu hari," terang pria asal Pondok Candra, Waru itu.

"Kalau tidak banjir itu biasanya ya lumayan banyak yang terjual. Pas banjir sangat menurun. Karena tidak bisa jualan juga, kalau banjirnya tinggi," keluhnya.

Daya beli masyarakat yang menurun, membuat omzet penjualan turun drastis. Namun hal itu dianggapnya menjadi hal biasa ketika banjir melanda kawasan Wisma Tropodo.

Menurut Agus, tak hanya pedagang yang terdampak, sejumlah warga yang rumahnya di sekitar Wisma Tropodo sangat terganggu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Masalah banjir yang melanda ini tidak ada solusi dari pihak terkait.

"Warga juga terganggu, rumahnya kebanjiran. Kalau mau keluar juga tidak bisa, banjirnya tinggi. Pengendara yang melintas juga kebingungan cari jalan, banyak jalan yang ditutup karena banjir tinggi," tuturnya.

Hal senada diungkapkan oleh penjual minuman es teh, Vivi, ia juga mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat selama banjir melanda wilayah Wisma Tropodo.

Meski sudah beberapa tahun berjualan, tidak ada tindakan signifikan dari pihak terkait untuk mengatasi masalah banjir tersebut. Hal itu membuatnya khawatir ketika hujan deras mengguyur.

Biasanya ia mampu menjual 200 cup per hari. Tetapi, ketika banjir menggenang, ia hanya mampu menjual kurang dari 50 cup per hari. Menurutnya, banjir kali ini merupakan banjir terparah dari sebelumnya.

"Ini parah, sudah tiga hari belum surut. Kemaren sampai naik ke stan, akhirnya harus tutup lebih awal. Pembelinya jadi sepi setiap hujan," keluh perempuan 33 tahun itu.

Dia mengatakan, banjir yang melanda wilayah Wisma Tropodo sangat merugikan pedagang. Bahkan, beberapa pedagang harus meliburkan diri karena banjir. Dia berharap, masalah banjir dapat segera diatasi oleh pihak terkait.


Editor : Vega Dwi Arista
#Tropodo #Banjir #Hujan #surut #Waru