SIDOARJO - Petani melon di Desa Damarsi, Kecamatan Buduran alami gagal panen. Hal tersebut disebabkan cuaca ekstrem kemarau yang berkepanjangan.
Akibat hal itu pula mereka mengalami kerugian sebesar hingga belasan juta rupiah. Karena itu untuk mensiasati agar kerugian tidak terlalu membengkak, para petani menjual langsung di tepi jalan raya.
Salah satu petani melon, Hardi mengungkapkan, buah melon hasil panennya tak berbuah maksimal. Dia mengakui jika hal tersebut dampak dari cuaca panas yang benar-benar menyengat.
"Cuaca terlalu panas menyebabkan buah melon mempunyai kualitas yang tak tidak maksimal," ucapnya.
Panasnya cuaca yang terjadi akhir-akhir ini mengakibatkan melon tak dapat bertumbuh menjadi besar. Melon hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa.
Mendengar informasi tersebut, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo, Eni Rustianingsih turut ptihatin. Dia pun menyayangkan akan ketiadaan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani melon, dan hanya terfokus dengan petani padi.
"Ya memang pemerintah ini AUTP-nya masih fokus ke petani padi," ucapnya saat ditemui di Tanggulangin.
Dia pun memaklumi cuaca ekstrem yang sedang melanda ke seluruh wilayah. Tak terkecuali juga Kabupaten Sidoarjo.
Diketahui sawah dan ladang petani mengalami kekeringan dan tanah menjadi retak dengan lubang yang besar. Baginya hal tersebut sangat penting dan akan dicari solusinya.
"Kesulitan kita ini sama dengan Jepang, bagaimana wilayah pertaniannya sempit tetapi masih bisa produksi, itu yang ingin kita tiru," pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista