SIDOARJO - Sidoarjo belum terlepas dari cuaca panas ekstrem. Selain berada di tengah musim kemarau, Jawa Timur juga masih terselimuti oleh badai el nino. Hal tersebut menyebabkan potensi pertumbuhan awan yang rendah.
Saat ditemui di kantornya, Koordinator Bidang Observasi BMKG Juanda, Rendy Irawadi mengatakan, sebagian besar wilayah Jawa Timur hampir tidak tertutup oleh awan.
"Sudah lebih dari 60 hari wilayah Jawa Timur belum atau tidak terjadi hujan sama sekali," ucapnya, Selasa (3/10).
Menurutnya, tidak adanya hujan menyebabkan kurangnya kelembapan udara. Sehingga udara yang ada cukup kering. Karenanya suhu udara yang dirasakan oleh masyarakat cukup tinggi dari kondisi normalnya.
"Sebenarnya untuk puncak el nino sendiri sudah lewat, saat ini kondisinya berada pada yang lemah dan mendekati punah," terangnya.
BMKG memperkirakan badai el nino akan hilang pada bulan November. Karenanya akan masuk musim penghujan.
Kondisi panas, imbuhnya, disebabkan posisi matahari yang berada pada ekuator. Berdasarkan perhitungan BMKG, pada 12 hingga 14 Oktober posisi matahari tepat berada di atas wilayah Jawa Timur.
"Sehingga kondisinya akan lebih panas dan durasi sinar matahari akan lebih panjang," ujarnya.
BMKG memperkirakan, berdasarkan data 30 tahun terakhir, suhu maksminum di Oktober berada di sekitar 37 derajat celcius. Terutama pada wilayah perkotaan dan pesisir pantai.
Terkait informasi suhu panas yang mencapai 42 derajat celcius, BMKG menyangkal jika informasi tersebut tidak dari pihaknya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista