SIDOARJO - Nelayan di Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati kini menghadapi situasi sulit. Hal itu akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah perairan. Dalam tiga hari terakhir, nelayan-nelayan tersebut tidak dapat melaut karena kondisi cuaca yang tidak mendukung
Abd Kholik, Ketua nelayan Gisik Cemandi, menyatakan bahwa mereka telah menerima peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda terkait cuaca buruk yang meliputi angin kencang dan gelombang tinggi. Sebagai langkah pencegahan, mereka memutuskan untuk tidak melaut demi menjaga keselamatan mereka.
Biasanya, para nelayan melaut menggunakan perahu mesin di perairan Sidoarjo hingga selat Madura. Apabila terdapat cuaca ekstrem, BMKG Juanda selalu memberikan informasi kepada mereka. Namun, kondisi cuaca saat ini menyebabman gelombang tinggi mencapai 2 meter dan angin kencang. ''Sehingga area penangkapan ikan menjadi berbahaya dan tidak memungkinkan untuk melaut,'' katanya.
Akibatnya, para nelayan menghadapi dampak ekonomi yang signifikan. Mereka tidak memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekitar 180 nelayan setempat terpaksa beristirahat di rumah dan memperbaiki alat tangkap mereka selama tidak dapat melaut.
Menurut Kholik, rata-rata nelayan di Desa Gisik Cemandi biasanya dapat menghasilkan sekitar Rp 300 ribu per hari. ''Saat musim baik biasanya dapat menghasilkan hingga Rp 1 juta,'' ujarnya.
Hasil tangkapan yang biasa mereka dapatkan antara lain udang, kerang, kepiting, dorang, dan ikan kakap. Untuk sekali melaut, mereka membutuhkan sekitar 10 liter Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan harga Rp 8 ribu per liter.
Dengan tidak adanya penghasilan selama tiga hari ini, nelayan-nelayan di Desa Gisik Cemandi sangat bergantung pada perbaikan cuaca agar dapat melaut kembali dan menghidupkan mata pencaharian mereka. Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian dan bantuan kepada nelayan-nelayan tersebut dalam menghadapi situasi sulit ini. (nis/vga)
Editor : Vega Dwi Arista