"Kami punya satu gagasan. Pendampingan isolasi mandiri terutama di daerah zona merah. Per kecamatan ada dokter koordinator tersendiri," kata Ketua IDI Sidoarjo dr Eddy Santoso, S.Si, kemarin (26/7).
Satu kecamatan tersebut akan memiliki jumlah dokter yang berbeda. Jumlahnya lima hingga delapan dokter. Sesuai dengan banyaknya pasien isoman yang ditangani. Satu dokter bisa mendampingi sekitar 15 pasien.
"Teman-teman yang isoman kesepian, perlu pendampingan. Nanti pasien isoman itu digabungkan di grup percakapan. Misal pasien merasa demam atau sesak. Apa yang harus saya lakukan? Akan dijawab dalam grup itu. Misalkan mengarahkan untuk berjemur sebentar di pagi hari," imbuhnya.
Untuk layanan telemedicine, pihak IDI sebagai pendamping menjalin komunikasi inten dengan puskesmas untuk menangani pasien OTG.
Menurutnya, bagi warga yang membutuhkan pendampingan, pihak puskesmas akan menghubungi dokter koordinator yang ada di masing-masing kecamatan. Dari situ, dokter memberikan saran-saran secara online. Sehingga tidak ada kontak fisik.
"Apabila ada gejala yang dialami pasien dan perlu tindakan yang harus dilakukan, maka kita akan kontak puskesmas terdekat," katanya.
Tujuannya, agar puskesmas bergerak ke pasiennya. Termasuk pasien membutuhkan obat tertentu.
"Kami memberikan pendampingan, tidak memberikan resep. Resep harus diberikan dari dokter yang merawat dia," tandasnya. (rpp/vga) Editor : Vega Dwi Arista