Melihat fenomena itu, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo Bambang Eko Wiroyudho menegaskan, warung bukanlah tempat representatif bagi siswa untuk belajar. "Jangan di warung belajarnya, bisa di tempat lain. Kami mengimbau pemdes untuk turun tangan menertibkan," tegas Bambang, kemarin (24/7).
Lalu, apa solusinya? Bambang mengungkapkan, di balai desa biasanya ada layanan jaringan WIFI. Itu bisa dimanfaatkan. Namun tetap terarah dan dalam pengawasan orang tua. “Lebih baik belajar bersama bergantian di rumah teman yang berdekatan. Itu pun maksimal tiga siswa saja,” ujarnya.
Bambang menegaskan, sebelum dimulainya belajar daring, Dikbud telah menerbitkan aturan bahwa siswa tidak mampu dan kesulitan paket data bisa dibantu pihak sekolah dengan menggunakan dana Bosda.
Pembelajaran pun tidak 100 persen daring yang mewajibkan setiap hari siswa harus bertatap muka dengan guru melalui video conference. Hal tersebut dapat dilakukan sesekali saja. Atau alternatif lain, guru mengunggah materi dan siswa hanya perlu mengunduh, mengerjakan lalu mengunggah hasil tugas yang diberikan. “Bagi siswa yang benar-benar tidak terfasilitasi teknologi, materi ajar akan dikirimkan guru ke rumah,” ucapnya. (rpp/vga/opi) Editor : Nofilawati Anisa