SIDOARJO - Bisnis produksi telur asin masih menjanjikan. Meski persaingannya juga ketat, namun masih memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM di Masangan Kulon, Kecamatan Sukodono.
Jaini, menjadi salah satu pelaku UMKM telur asin yang saat ini masih survive. Dia sudah merintis usahanya sejak 20 tahun silam. Bapak dua anak ini dulunya adalah juragan angkot dan sekarang banting setir menjadi jualan telur asin.
Jaini sempat merasa minder dengan statusnya sebagai penjual telur asin. Hingga keluarga dari Puji, istrinya memberi mereka modal untuk menambah penghasilan berupa bahan baku untuk memproduksi telur asin.
“Dulu kami ini cuma punya modal bubuk bata sama garam aja untuk produksi itupun dimodali buliknya (tante, red) istri, waktu awal produksi juga cuma 80 butir telur,” ujar Jaini.
Saat awal merintis usaha, Jaini sempat diremehkan oleh beberapa temannya. Namun, karena kerja kerasnya, usaha yang diberi nama “Telur Asin Pak Jaini” kini sudah memiliki banyak pelanggan.
Lika-liku usahanya juga beragam. Ia juga pernah tertipu oleh supplier telur dan mendapat kerugian yang cukup besar. “Saya pernah kena tipu, uang saya dibawa tapi telur tidak dikirim,” ungkap Jaini sambil mengenang masa kelamnya.
Tidak hanya itu, pada tahun pertama membuat telur asin, Jaini yang belum memiliki modal untuk membeli ember terpaksa menggunakan tong besi bekas cat. Ia bersihkan dengan telaten untuk menampung telur bebek yang diberi garam selama proses pembuatan telur asin.
Namun karena alat yang digunakan tidak tepat, telur bebek yang sudah didiamkan selama satu minggu justru tidak berubah rasa. Menurutnya hal ini disebabkan air garam yang menguap dan tidak terserap ke dalam telur.
Tidak mau terpuruk, Jaini justru menjadikannya pelajaran berharga. Ia mulai mencari modal dengan kredit bank untuk membeli peralatan yang lebih memadai. Selain itu Jaini juga sedikit demi sedikit menambah jumlah telur bebek tiap produksi.
Saat ini “Telur Asin Pak Jaini” sudah banyak dikenal masyarakat. Ia seringkali menerima pesanan hingga 4 ribu butir telur asin terutama saat musim hajat. Di hari biasa Jaini memproduksi sekitar 400 butir telur untuk dijual ke pasar dan beberapa warung yang berlangganan.
Jaini tidak menyangka bahwa usaha yang dimulai karena kebangkrutan, justru menjadi titik baliknya untuk menafkahi keluarga dan meningkatkan perekonomian keluarga. (aqn/bni/vga)
Editor : Vega Dwi Arista