Eva mulai menggeluti kerajinan bulu domba tahun 2018. Kala itu, ia bersama 15 orang perajin kerajinan tangan yang ada di Kota Delta, mendapat pelatihan dari Dinas Pangan dan Pertanian. Pelatihan mengolah limbah bulu domba Merino selama sepekan di Bogor.
Pulang dari pelatihan tersebut, Eva tidak berhenti. Dia menerapkan ilmu yang didapatnya. Lalu dia coba sendiri membuat boneka dan lukisan. Pesanan mulai datang silih berganti.
Menurut dia, bulu domba lebih dulu dihaluskan dan diberi pewarna tekstil sebelum disulap menjadi kerajinan. Kemudian, bulu domba dirangkai dengan jarum dan kertas khusus untuk menjadi lukisan.
Sedangkan untuk boneka memerlukan kawat sebagai kerangkanya. "Ditusuk pakai jarum. Dari situ tekstur benang menyatu dengan sendirinya. Tanpa lem, tanpa jahit,. Kelebihannya bisa didaur ulang lagi," kata Eva dijumpai di kediamannya di Kramatjegu, Kecamatan Taman kemarin (4/8).
Enam bulan pasca pelatihan di Bogor itu, perempuan kelahiran Bondowoso 21 Oktober 1983 ini diberi bantuan sebuah alat sisir bulu buatan Swedia.
Eva mengaku di awal menggeluti kerajinan ini, harus mengambil bahan baku bulu domba Merino dari Bogor. Dua tahun berjalan, bahan baku sudah lebih mudah didapat. Sebab budidaya domba Merino sudah ada di Sidoarjo. "Ambil dari peternak di Sepande, Candi," imbuhnya.
Alasannya memilih domba Merino karena bulunya lebih tebal dan gimbal. Cocok dibuat kerajinan. Dalam sehari, Eva bersama komunitasnya mampu memproduksi 20 boneka ukuran kecil dan satu lukisan ukuran besar. Pesanan paling jauh ia dapat dari Aceh. (rpp/nis/opi) Editor : Nofilawati Anisa