RADAR SIDOARJO - Melimpahnya stok beras di gudang Perum Bulog Jawa Timur mendapat perhatian khusus dari Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono.
Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Komplek Pergudangan Banjarkemantren Perum Bulog Cabang Surabaya, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Senin (4/5), pria yang akrab disapa BHS itu mengusulkan agar setiap kemasan beras Bulog diberi informasi batas waktu penggunaan.
Baca Juga: BHS Usulkan Videotron dan Loket Tiket Terpusat di Terminal Purabaya Sidoarjo
Menurut BHS, langkah tersebut penting agar distribusi beras bisa lebih terkontrol dan kualitas tetap terjaga sebelum sampai ke masyarakat.
“Beras-beras ini harus ada tanggal kapan terakhir bisa digunakan. Jadi begitu mendekati batas waktu tertentu, Bulog bisa segera menginformasikan kepada pemerintah pusat, provinsi maupun daerah untuk segera menggunakan stok beras tersebut,” ujar BHS.
Baca Juga: Rayakan HUT Gerindra, BHS Gelar Lomba Masak Tumpeng dan Serap Aspirasi Nelayan Sidoarjo
Dalam sidaknya, BHS meninjau langsung kondisi gudang dan kualitas beras yang tersimpan di Bulog Banjarkemantren. Ia mengaku terkesan dengan kualitas beras yang dinilai jauh lebih baik dibandingkan stigma lama masyarakat terhadap beras Bulog.
“Dulu sering ditemukan beras berkutu, saya sendiri juga pernah menemukan. Tapi sekarang saya cek langsung ternyata tidak ada kutunya sama sekali. Ini yang perlu diketahui masyarakat, bahwa beras Bulog sekarang kualitasnya bagus,” katanya.
Tak hanya itu, BHS juga menyoroti tingginya stok beras di Jawa Timur yang kini mencapai sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta ton. Jumlah tersebut jauh meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 500 ribu ton.
“Nah ini luar biasa. Stok beras di Jawa Timur sekarang mencapai 1,3 juta sampai 1,5 juta ton. Ini menunjukkan swasembada pangan kita berhasil dan semuanya merupakan produk dalam negeri, tidak ada impor,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan peningkatan stok beras juga dipengaruhi tingginya harga serapan gabah dari petani. Bahkan, selain Bulog membeli dengan harga Rp 6.500 per kilogram, pihak swasta disebut berani membeli hingga Rp 7.500 per kilogram.
“Ini membuat petani menjadi lebih semangat menanam padi. Akibatnya stok beras melimpah dan petani mulai makmur,” ungkapnya.
BHS juga menilai kebijakan penyederhanaan regulasi pupuk ikut membantu petani meningkatkan produksi.
“Dulu ada sekitar 145 regulasi yang menghambat distribusi pupuk. Sekarang dipermudah sehingga pupuk bisa langsung mendekati petani. Ini luar biasa dampaknya,” tambahnya.
Dalam kunjungannya, BHS sempat mengecek gudang nomor satu hingga gudang nomor lima yang berisi stok beras lama maupun baru. Ia memastikan kualitas beras medium maupun premium masih sesuai standar.
“Walaupun ini beras medium, broken-nya masih sesuai standar dan warnanya juga bagus. Bahkan Bulog sekarang juga mampu memproduksi beras premium,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah (Wapimwil) Perum Bulog Jawa Timur, Sugeng Hardono, mengaku pihaknya merasa mendapat dukungan moril atas kunjungan BHS ke gudang Bulog Surabaya.
“Kami merasa terhormat dikunjungi Bapak BHS dan melihat langsung kondisi stok maupun kualitas beras di Jawa Timur. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus mendukung program swasembada pangan Presiden,” katanya.
Sugeng menjelaskan, khusus di Komplek Pergudangan Banjarkemantren Surabaya terdapat lima gudang dengan total stok mencapai 132 ribu ton. Sedangkan secara keseluruhan, stok beras Bulog di Jawa Timur mencapai sekitar 1,3 juta ton.
“Daya tampung kami sekitar 200 ribu ton untuk cabang Surabaya. Secara Jawa Timur kapasitas sekitar 1,1 juta ton dan saat ini kami juga sudah menyewa gudang tambahan karena stok memang over supply,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista