alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 28 January 2022

Siapkan Imunitas Tubuh Menghadapi Return to New Normal

SIDOARJO – Menjelang dua tahun menghadapi masa pandemi, aktivitas perkantoran dan sekolah berangsur ke normal dengan mulai kembalinya para pekerja ke WFO (work from office). Begitu juga untuk para murid, juga sudah mulai pertemuan tatap muka (PTM).

Dengan berangsur pulihnya aktivitas perekonomian dan sekolah, maka tubuh kita pun kembali menyesuaikan diri dengan gaya hidup sebelum pandemi yang bisa mengurangi kekuatan imun tubuh, seperti duduk berjam-jam di kantor, kurang bergerak, menurunnya aktivitas olahraga seiring dengan bertambahnya jam kerja, kurang istirahat, dan bertambahnya pertemuan fisik dengan orang-orangyang secara keseluruhan bisa membuat imunitas tubuh kita bertambah rentan terhadap infeksi penyakit ringan. Demikian juga dengan anak-anak yang mulai kembali ke sekolah dan kembali bersosialisasi dengan lingkungannya.

Duduk terlalu lama terbukti menurunkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Seiring waktu, terlalu banyak duduk dan menghindari olahraga dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Selain duduk berjam-jam, menurunnya aktivitas berolahraga juga dapat berdampak pada kekebalan tubuh. Otoritas kesehatan, seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO), masih mendorong semua orang untuk olahraga teratur. Selain meningkatkan kesehatan mental, tinjauan ilmiah 2019 di Journal of Sport and Health Science, menemukan bahwa olahraga dapat meningkatkan respons imun, menurunkan risiko penyakit, dan mengurangi peradangan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus konsultan alergi imunologi Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI menjelaskan, walaupun kondisi pandemi semakin membaik dan banyak masyarakat telah menerima vaksin, namun jangan sampai lengah. Kita tetap harus berupaya yang terbaik untuk menjaga kesehatan dengan terus mengoptimalkan daya tahan tubuh kita. “Apalagi imunitas berfungsi penting sebagai garda pertama kesehatan fisik kita. Selain aktif berolahraga dan pola makan sehat, asupan suplemen yang tepat bisa melengkapi upaya kita mengoptimalkan kesehatan tubuh kita,” ungkap dr. Iris, Senin (29/11).

Salah satu suplemen yang dapat dijadikan pilihan adalah Rhea Health Tone. Kandungan bahan-bahan herbal seperti bunga kacapiring, minyak mur, kemenyan india, adas, wortel liar, dan olive oil juga memiliki fungsi anti inflamasi, anti bakteri serta antioksidan. Manfaatnya telah terbukti melalui uji klinis efektivitasnya dalam meningkatkan imun yang dilakukan oleh Rhea Sciences Indonesia bekerja sama dengan Prodia.

Uji klinis multisenter dan randomized Rhea Health Tone yang dilaksanakan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Jakarta dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tujuannya untuk mengetahui efikasi dan keamanan penggunaan Rhea Health Tone untuk membantu pemulihan pasien Covid-19.

Hasil uji klinis menunjukkan pemberian suplemen Rhea Health Tone Oil dapat mempersingkat masa rawat inap pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang dengan masa rawat inap maksimum yang lebih singkat (17 vs 39) hari. Suplemen ini juga menunjukkan perbaikan parameter IL-6 dan IFN gamma yang signifikan secara statistik, sehingga untuk penyintas Covid-19 dapat menghindari terjadinya badai sitokin, konversi PCR dari positif ke negatif yang lebih banyak dalam kurun waktu yang sama, status klinis subjek yang lebih baik terutama laju pernapasan, dan pengamatan rontgen dada.

Head of Sales & Marketing PT. Rhea Sciences Indonesia Yosua Tjajadi menjelaskan, uji klinis yang membuktikan efektivitas suplemen ini dalam membantu pemulihan pasien Covid, juga turut memberikan validasi secara sains mengenai efektivitas kandungan minyak esensial alami yang ada dalam produk terkait dalam menjaga imunitas tubuh. Minya esensial alami ini dibutuhkan untuk melindungi tubuh dari penyakit ringan seperti flu, batuk dan pilek.

“Suplemen ini juga lebih mudah diserap tubuh karena berbentuk minyak esensial dan aman digunakan dalam jangka waktu panjang dengan fungsinya sebagai imunomodulator – yang bekerja dengan merubah respon tubuh kita sendiri terhadap ancaman seperti virus dengan kandungan bahan alami,” jelas Yosua. (eas/opi)

SIDOARJO – Menjelang dua tahun menghadapi masa pandemi, aktivitas perkantoran dan sekolah berangsur ke normal dengan mulai kembalinya para pekerja ke WFO (work from office). Begitu juga untuk para murid, juga sudah mulai pertemuan tatap muka (PTM).

Dengan berangsur pulihnya aktivitas perekonomian dan sekolah, maka tubuh kita pun kembali menyesuaikan diri dengan gaya hidup sebelum pandemi yang bisa mengurangi kekuatan imun tubuh, seperti duduk berjam-jam di kantor, kurang bergerak, menurunnya aktivitas olahraga seiring dengan bertambahnya jam kerja, kurang istirahat, dan bertambahnya pertemuan fisik dengan orang-orangyang secara keseluruhan bisa membuat imunitas tubuh kita bertambah rentan terhadap infeksi penyakit ringan. Demikian juga dengan anak-anak yang mulai kembali ke sekolah dan kembali bersosialisasi dengan lingkungannya.

Duduk terlalu lama terbukti menurunkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Seiring waktu, terlalu banyak duduk dan menghindari olahraga dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Selain duduk berjam-jam, menurunnya aktivitas berolahraga juga dapat berdampak pada kekebalan tubuh. Otoritas kesehatan, seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO), masih mendorong semua orang untuk olahraga teratur. Selain meningkatkan kesehatan mental, tinjauan ilmiah 2019 di Journal of Sport and Health Science, menemukan bahwa olahraga dapat meningkatkan respons imun, menurunkan risiko penyakit, dan mengurangi peradangan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus konsultan alergi imunologi Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI menjelaskan, walaupun kondisi pandemi semakin membaik dan banyak masyarakat telah menerima vaksin, namun jangan sampai lengah. Kita tetap harus berupaya yang terbaik untuk menjaga kesehatan dengan terus mengoptimalkan daya tahan tubuh kita. “Apalagi imunitas berfungsi penting sebagai garda pertama kesehatan fisik kita. Selain aktif berolahraga dan pola makan sehat, asupan suplemen yang tepat bisa melengkapi upaya kita mengoptimalkan kesehatan tubuh kita,” ungkap dr. Iris, Senin (29/11).

Salah satu suplemen yang dapat dijadikan pilihan adalah Rhea Health Tone. Kandungan bahan-bahan herbal seperti bunga kacapiring, minyak mur, kemenyan india, adas, wortel liar, dan olive oil juga memiliki fungsi anti inflamasi, anti bakteri serta antioksidan. Manfaatnya telah terbukti melalui uji klinis efektivitasnya dalam meningkatkan imun yang dilakukan oleh Rhea Sciences Indonesia bekerja sama dengan Prodia.

Uji klinis multisenter dan randomized Rhea Health Tone yang dilaksanakan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Jakarta dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tujuannya untuk mengetahui efikasi dan keamanan penggunaan Rhea Health Tone untuk membantu pemulihan pasien Covid-19.

Hasil uji klinis menunjukkan pemberian suplemen Rhea Health Tone Oil dapat mempersingkat masa rawat inap pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang dengan masa rawat inap maksimum yang lebih singkat (17 vs 39) hari. Suplemen ini juga menunjukkan perbaikan parameter IL-6 dan IFN gamma yang signifikan secara statistik, sehingga untuk penyintas Covid-19 dapat menghindari terjadinya badai sitokin, konversi PCR dari positif ke negatif yang lebih banyak dalam kurun waktu yang sama, status klinis subjek yang lebih baik terutama laju pernapasan, dan pengamatan rontgen dada.

Head of Sales & Marketing PT. Rhea Sciences Indonesia Yosua Tjajadi menjelaskan, uji klinis yang membuktikan efektivitas suplemen ini dalam membantu pemulihan pasien Covid, juga turut memberikan validasi secara sains mengenai efektivitas kandungan minyak esensial alami yang ada dalam produk terkait dalam menjaga imunitas tubuh. Minya esensial alami ini dibutuhkan untuk melindungi tubuh dari penyakit ringan seperti flu, batuk dan pilek.

“Suplemen ini juga lebih mudah diserap tubuh karena berbentuk minyak esensial dan aman digunakan dalam jangka waktu panjang dengan fungsinya sebagai imunomodulator – yang bekerja dengan merubah respon tubuh kita sendiri terhadap ancaman seperti virus dengan kandungan bahan alami,” jelas Yosua. (eas/opi)

Most Read

Berita Terbaru