alexametrics
31 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Percepatan Vaksinasi Terhambat Banyaknya Hoaks di Ruang Digital

SIDOARJO – Juru Bicara (Jubir) Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi menegaskan bahwa vaksinasi masih menjadi salah satu upaya efektif menangkal dan menghentikan sebaran Covid-19. Namun disayangkan, akselerasi program vaksinasi di Indonesia masih terhambat adanya disinformasi di tengah masyarakat.

“Menurut laporan yang dilansir oleh Satgas Covid-19 per 22 Desember 2021, sudah terdapat lebih dari 153,5 juta penduduk Indonesia yang telah menerima vaksin dosis pertama dan sekitar 108,5 juta penduduk di antaranya telah menerima dosis kedua,” kata Dedy dalam keterangan pers, Kamis (23/12).

Angka tersebut dikatakan Dedy masih belum memenuhi target sasaran vaksinasi nasional yaitu sebesar 208,2 juta penduduk. Dedy menjelaskan, dari riset yang dilakukan oleh John Hopkins Center for Communication Programs pada November 2021 terhadap 27.375 responden di Indonesia, 45 persen responden menyatakan keraguannya terhadap vaksinasi karena efek samping dari vaksin Covid-19. Sedangkan sebanyak 31 persen responden lainnya bersedia untuk di vaksin, namun masih belum yakin dengan keamanannya.

Kemudian, kata Dedy, survei dari Palang Merah Indonesia yang didukung federasi Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit pada akhir September 2021, juga mengungkapkan dua faktor yang menjadi alasan utama masyarakat menolak vaksinasi Covid-19. “Alasan pertama ialah takut akan injeksi beserta efek sampingnya dan yang kedua adalah masih mencari informasi komprehensif terkait vaksin,” imbuh Dedy.

Selain itu diseminasi informasi yang benar ke masyarakat mengenai efek vaksinasi, kata Dedy masih terhambat dengan banyaknya hoaks di ruang digital. “Hal ini tentunya sangat berbahaya dan memiliki dampak besar terhadap upaya negara untuk lepas dari jerat pandemi Covid-19,” katanya.

Tidak hanya seputar vaksinasi, beragam hoaks terkait penyakit Covid-19 sendiri dan PPKM juga pada akhirnya membuat masyarakat menghiraukan bahaya yang ditimbulkan oleh virus tersebut. Menurut data Kementerian Kominfo sejak Januari 2020 sampai 23 Desember 2021, hoaks dan disinformasi di ruang siber seputar Covid-19 masih bertambah. (ara/opi)

 

SIDOARJO – Juru Bicara (Jubir) Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi menegaskan bahwa vaksinasi masih menjadi salah satu upaya efektif menangkal dan menghentikan sebaran Covid-19. Namun disayangkan, akselerasi program vaksinasi di Indonesia masih terhambat adanya disinformasi di tengah masyarakat.

“Menurut laporan yang dilansir oleh Satgas Covid-19 per 22 Desember 2021, sudah terdapat lebih dari 153,5 juta penduduk Indonesia yang telah menerima vaksin dosis pertama dan sekitar 108,5 juta penduduk di antaranya telah menerima dosis kedua,” kata Dedy dalam keterangan pers, Kamis (23/12).

Angka tersebut dikatakan Dedy masih belum memenuhi target sasaran vaksinasi nasional yaitu sebesar 208,2 juta penduduk. Dedy menjelaskan, dari riset yang dilakukan oleh John Hopkins Center for Communication Programs pada November 2021 terhadap 27.375 responden di Indonesia, 45 persen responden menyatakan keraguannya terhadap vaksinasi karena efek samping dari vaksin Covid-19. Sedangkan sebanyak 31 persen responden lainnya bersedia untuk di vaksin, namun masih belum yakin dengan keamanannya.

Kemudian, kata Dedy, survei dari Palang Merah Indonesia yang didukung federasi Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit pada akhir September 2021, juga mengungkapkan dua faktor yang menjadi alasan utama masyarakat menolak vaksinasi Covid-19. “Alasan pertama ialah takut akan injeksi beserta efek sampingnya dan yang kedua adalah masih mencari informasi komprehensif terkait vaksin,” imbuh Dedy.

Selain itu diseminasi informasi yang benar ke masyarakat mengenai efek vaksinasi, kata Dedy masih terhambat dengan banyaknya hoaks di ruang digital. “Hal ini tentunya sangat berbahaya dan memiliki dampak besar terhadap upaya negara untuk lepas dari jerat pandemi Covid-19,” katanya.

Tidak hanya seputar vaksinasi, beragam hoaks terkait penyakit Covid-19 sendiri dan PPKM juga pada akhirnya membuat masyarakat menghiraukan bahaya yang ditimbulkan oleh virus tersebut. Menurut data Kementerian Kominfo sejak Januari 2020 sampai 23 Desember 2021, hoaks dan disinformasi di ruang siber seputar Covid-19 masih bertambah. (ara/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/