alexametrics
24 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Sosialisasikan Kartu Warna Tinja untuk Deteksi Dini Atresia Bilier pada Bayi

SIDOARJO – Program pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Tahun 2022 kembali digelar, Jumat (22/7) siang. Yaitu sosialisasi kartu warna tinja untuk deteksi dini atresia bilier bayi pada tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer.

Kegiatan yang digelar di aula Puskesmas Buduran Kecamatan Buduran tersebut diikuti puluhan bidan di Sidoarjo. Mereka menerima pemaparan langsung dari Dr. dr. Bagus Setyoboedi SpA(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Dr. dr. Bagus Setyoboedi SpA(K) mengatakan, salah satu sosialisasi yang diberikan adalah menyangkut deteksi dini kolestasis pada bayi. Kolestasis merupakan sebuah bentuk gangguan pada aliran empedu. Jika gangguan itu berkelanjutan maka akan sangat membahayakan.

“Salah satu yang kami khawatirkan adalah terjadi atresia bilier. Nah, kalau atresia bilier bisa dideteksi secara dini, maka proses pengobatannya akan lebih mudah dan lebih baik,” ujar pria yang juga dokter RSUD Dr. Soetomo, Surabaya itu.

Sebaliknya, lanjut dr. Bagus, jika terjadi keterlambatan penanganan, maka pasien akan mengalami sirosis pada hati. Sebab pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Adanya sumbatan di saluran empedu itu, membuat empedu menumpuk di hati.

Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi kerusakan hati dan sirosis hati. Maka satu-satunya penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan transplantasi hati. Proses transplantasi hati tersebut akan sangat membutukan biaya yang cukup besar.

“Banyak biayanya, banyak kendalanya, dan hasilnya juga tidak semua bagus. Karena selama ini, kasusnya semakin lama semakin banyak. Kebanyakan pasien datang sudah terlambat,” paparnya.

Atresia bilier dapat terjadi sejak bayi dan merupakan penyebab utama sirosis hati. Sehingga jika cepat didiagnosis, maka pasien dengan atresia bilier bisa dilakukan operasi Kasai. Jika terlambat dilakukan, pada usia lebih dari dua bulan, keberhasilan operasi Kasai akan mengalami penurunan drastis.

Sehingga jika terjadi keterlambatan dalam berobat, akan membuat keterlambatan operasi, dan hal tersebut akan membuat angka kematian meningkat. Sehingga salah satu upaya untuk mencegah itu adalah meningkatkan upaya deteksi dini dengan memberikan sosialisasi kepada masyakat.

“Selama ini pada kebanyakan kasus yang kami temui, di masyarakat dinilai jika didapatkan bayi kuning yang berkepanjangan dan tinja berwarna pudar itu tak berbahaya. Tapi lama-kelamaan warna tinja akan semakin pucat. Sehingga perutnya semakin besar dan kalau sudah seperti ini berarti ya sudah terlambat,” jelasnya.

Upaya deteksi dini dapat dilihat dari warna tinja. Sehingga pemberian kartu warna tinja tersebut dapat digunakan sebagai tools yang sederhana untuk melakukan deteksi dini atresia bilier. “Nah, warna hijau atau kuning ini normal. Tapi kalau warnanya sudah mulai memudar ini waspada dan kalau pucat, berarti ada something wrong,” tutupnya. (far/vga)

SIDOARJO – Program pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Tahun 2022 kembali digelar, Jumat (22/7) siang. Yaitu sosialisasi kartu warna tinja untuk deteksi dini atresia bilier bayi pada tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer.

Kegiatan yang digelar di aula Puskesmas Buduran Kecamatan Buduran tersebut diikuti puluhan bidan di Sidoarjo. Mereka menerima pemaparan langsung dari Dr. dr. Bagus Setyoboedi SpA(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Dr. dr. Bagus Setyoboedi SpA(K) mengatakan, salah satu sosialisasi yang diberikan adalah menyangkut deteksi dini kolestasis pada bayi. Kolestasis merupakan sebuah bentuk gangguan pada aliran empedu. Jika gangguan itu berkelanjutan maka akan sangat membahayakan.

“Salah satu yang kami khawatirkan adalah terjadi atresia bilier. Nah, kalau atresia bilier bisa dideteksi secara dini, maka proses pengobatannya akan lebih mudah dan lebih baik,” ujar pria yang juga dokter RSUD Dr. Soetomo, Surabaya itu.

Sebaliknya, lanjut dr. Bagus, jika terjadi keterlambatan penanganan, maka pasien akan mengalami sirosis pada hati. Sebab pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Adanya sumbatan di saluran empedu itu, membuat empedu menumpuk di hati.

Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi kerusakan hati dan sirosis hati. Maka satu-satunya penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan transplantasi hati. Proses transplantasi hati tersebut akan sangat membutukan biaya yang cukup besar.

“Banyak biayanya, banyak kendalanya, dan hasilnya juga tidak semua bagus. Karena selama ini, kasusnya semakin lama semakin banyak. Kebanyakan pasien datang sudah terlambat,” paparnya.

Atresia bilier dapat terjadi sejak bayi dan merupakan penyebab utama sirosis hati. Sehingga jika cepat didiagnosis, maka pasien dengan atresia bilier bisa dilakukan operasi Kasai. Jika terlambat dilakukan, pada usia lebih dari dua bulan, keberhasilan operasi Kasai akan mengalami penurunan drastis.

Sehingga jika terjadi keterlambatan dalam berobat, akan membuat keterlambatan operasi, dan hal tersebut akan membuat angka kematian meningkat. Sehingga salah satu upaya untuk mencegah itu adalah meningkatkan upaya deteksi dini dengan memberikan sosialisasi kepada masyakat.

“Selama ini pada kebanyakan kasus yang kami temui, di masyarakat dinilai jika didapatkan bayi kuning yang berkepanjangan dan tinja berwarna pudar itu tak berbahaya. Tapi lama-kelamaan warna tinja akan semakin pucat. Sehingga perutnya semakin besar dan kalau sudah seperti ini berarti ya sudah terlambat,” jelasnya.

Upaya deteksi dini dapat dilihat dari warna tinja. Sehingga pemberian kartu warna tinja tersebut dapat digunakan sebagai tools yang sederhana untuk melakukan deteksi dini atresia bilier. “Nah, warna hijau atau kuning ini normal. Tapi kalau warnanya sudah mulai memudar ini waspada dan kalau pucat, berarti ada something wrong,” tutupnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/