alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

715 Sapi di Sidoarjo Terkena PMK, Peternak Keluhkan Minimnya Dokter Hewan

SIDOARJO – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Sidoarjo terus berupaya menekan sebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Salah satunya dengan memberikan sosialisasi kepada perwakilan peternak di Porong, Selasa (17/5).

Para petani diberi pemahaman langsung terkait wabah PMK, cara penularan hingga langkah untuk mengantisipasinya. Tujuannya agar para peternak mampu melaksanakan langkah yang tepat saat ternaknya menunjukkan gejala wabah PMK. Dispaperta juga membagikan formalin kepada peternak sebagai salah satu obat untuk meringankan gejala PMK pada sapi.

Update data terbaru, total ada 715 sapi terkonfirmasi wabah PMK di Sidoarjo. Kemudian jumlah yang mati ada 21, potong paksa 39, dan yang sembuh ada 350 ekor.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, drh Bilqisthi Ari Putra mengungkapkan, wabah PMK tidak menular ke manusia. Tetapi virus itu memiliki tingkat penularan yang cepat. Seperti melalui liur, urine, hingga sentuhan.

“Saat ini belum ada obat khusus, yang ada obat untuk penanganan gejala,” terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga tidak mempersoalkan jika ada peternak yang meracik jamu atau obat-obatan mandiri untuk menyembuhkan ternaknya. Tapi yang jelas jamu dan obat itu tidak berpengaruh langsung pada virus.

“Saran kami pakai obat paten, karena ada dosisnya,” tuturnya.

Perwakilan peternak juga sempat mengeluhkan minimnya dokter hewan yang tersedia di Sidoarjo. Termasuk tidak adanya langkah ganti rugi dari Pemkab jika ada ternak yang mati karena wabah PMK.

“Mantri-mantri banyak yang pensiun juga,” keluh Maslah, warga Dukuhsari.

Di lain pihak, Sub Koordinator Kesehatan Hewan Fungsional Medik Veteriner Muda Dispaperta Sidoarjo, Rina Vitriasari mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menjanjikan banyak terkait ganti rugi ternak yang mati. Karena ketersediaan anggaran juga belum ada.

Rina menjabarkan, untuk dokter hewan yang tersedia memang cukup terbatas. Tetapi beberapa hari terakhir para dokter dibantu relawan dan sejumlah tenaga medis terus bergerilya ke peternak di Sidoarjo. Dinas juga terus bekerja keras untuk menekan penyebaran wabah PMK meski dengan sumberdaya yang terbatas. “Kami terus monitoring dan berikan obat penurun gejala,” tuturnya. (son/vga)

SIDOARJO – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Sidoarjo terus berupaya menekan sebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Salah satunya dengan memberikan sosialisasi kepada perwakilan peternak di Porong, Selasa (17/5).

Para petani diberi pemahaman langsung terkait wabah PMK, cara penularan hingga langkah untuk mengantisipasinya. Tujuannya agar para peternak mampu melaksanakan langkah yang tepat saat ternaknya menunjukkan gejala wabah PMK. Dispaperta juga membagikan formalin kepada peternak sebagai salah satu obat untuk meringankan gejala PMK pada sapi.

Update data terbaru, total ada 715 sapi terkonfirmasi wabah PMK di Sidoarjo. Kemudian jumlah yang mati ada 21, potong paksa 39, dan yang sembuh ada 350 ekor.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, drh Bilqisthi Ari Putra mengungkapkan, wabah PMK tidak menular ke manusia. Tetapi virus itu memiliki tingkat penularan yang cepat. Seperti melalui liur, urine, hingga sentuhan.

“Saat ini belum ada obat khusus, yang ada obat untuk penanganan gejala,” terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga tidak mempersoalkan jika ada peternak yang meracik jamu atau obat-obatan mandiri untuk menyembuhkan ternaknya. Tapi yang jelas jamu dan obat itu tidak berpengaruh langsung pada virus.

“Saran kami pakai obat paten, karena ada dosisnya,” tuturnya.

Perwakilan peternak juga sempat mengeluhkan minimnya dokter hewan yang tersedia di Sidoarjo. Termasuk tidak adanya langkah ganti rugi dari Pemkab jika ada ternak yang mati karena wabah PMK.

“Mantri-mantri banyak yang pensiun juga,” keluh Maslah, warga Dukuhsari.

Di lain pihak, Sub Koordinator Kesehatan Hewan Fungsional Medik Veteriner Muda Dispaperta Sidoarjo, Rina Vitriasari mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menjanjikan banyak terkait ganti rugi ternak yang mati. Karena ketersediaan anggaran juga belum ada.

Rina menjabarkan, untuk dokter hewan yang tersedia memang cukup terbatas. Tetapi beberapa hari terakhir para dokter dibantu relawan dan sejumlah tenaga medis terus bergerilya ke peternak di Sidoarjo. Dinas juga terus bekerja keras untuk menekan penyebaran wabah PMK meski dengan sumberdaya yang terbatas. “Kami terus monitoring dan berikan obat penurun gejala,” tuturnya. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/