alexametrics
26.7 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Usia Produktif Idap Hipertensi

SIDOARJO – Penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi di Sidoarjo, masih sangat banyak. Berdasar riset Kesehatan Dasar Penduduk, hipertensi naik dari 22,4 persen menjadi 32,1 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas. Dimana banyak dari mereka adalah penduduk usia produktif.

Kasi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Sidoarjo Endang Sawitri menjelaskan, gaya hidup memang sangat mempengaruhi. Memilih makanan harus cerdik untuk mencegah penyakit tidak menular. Selain mengelola stres, cek kesehatan rutin, konsumsi sayur buah dan olahraga.

Hipertensi menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai. Mengapa? Endang mengungkapkan, pola penyakit 20 tahun lalu kebanyakan penyakit menular atau infeksi. Akan tetapi 20 tahun ini, sejak 2000-an sudah bergerak ke penyakit tidak menular. “Contohnya hipertensi. Dimana sesuai dengan Hari Hipertensi secara dunia kita harus cegah,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, Desa Grabagan, Kecamatan Tulangan, menjadi salah satu wilayah yang melaksanakan Posbindu penyakit tidak menular (PTM) secara rutin setiap bulan untuk mencegah dan menanggulangi PTM. Salah satunya mencegah penyakit hipertensi. “Disupport kepala desa dan tim penggerak PKK,” katanya.

Pengelola Penyakit Tidak Menular P2P Dinkes Sidoarjo Nina Marlina menguraikan, hipertensi atau tekanan darah tinggi makin tinggi dengan pola hidup masyarakat saat ini. Fasilitas pelayanan yang dimudahkan membeli makan sehingga menyebabkan kurang gerak. “Hipertensi harapannya bisa dicegah dan dikendalikan,” harapnya.

Evaluasi triwulan 1, Januari- Maret, dari rekapan 26 puskesmas didapat bahwa di Kecamatan Tulangan, khususnya Puskesmas Tulangan, capaiannya sudah 26 persen warga 15 tahun ke atas terkena hipertensi.

Sementara itu, dr. Tjatur Prijambodo menegaskan jika ingin terhindar dari hipertensi tidak boleh malas gerak. Kemudian rutin cek kesehatan, memperhatikan asupan minuman air mineral minimal 1,5 liter tiap hari, biasakan hidup sehat, atur pola pikir. “Hipertensi yaitu tekanan darah melebihi batas normal 120/80. Pre hipertensi 140/90, grade 1 yakni tensi 160/100. Kemudian di atas itu termasuk hipertensi maligna awas, ada potensi terserang stroke,” terangnya.

“Hipertensi bukan karena konsumsi garam. Kenapa garam tidak boleh berlebihan dikonsumsi hipertensi? Garam mengandung natrium atau sodium dan klorida. Di tubuh kita ada pompa sodium kalau ditambahi garam yang dikonsumsi semakin berat sodium pum-nya maka semakin parah. Maka diproduksi garam Ada garam rendah sodium nya tapi tetap asin,” sambungnya. Sehingga harus membatasi konsumsi garam 1,7 gram per hari atau ujung sendok teh serta mengkonsumsi makanan rendah lemak.

Ia menjelaskan, gejala hipertensi sudah muncul di usia 15 tahun. Seseorang yang salah satu anggota keluarga hipertensi maka ada keturunan menderita hipertensi. Pengidap hipertensi bisa berisiko terkena penyakit lain seperti gagal ginjal, serangan jantung dan diabetes. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi di Sidoarjo, masih sangat banyak. Berdasar riset Kesehatan Dasar Penduduk, hipertensi naik dari 22,4 persen menjadi 32,1 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas. Dimana banyak dari mereka adalah penduduk usia produktif.

Kasi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Sidoarjo Endang Sawitri menjelaskan, gaya hidup memang sangat mempengaruhi. Memilih makanan harus cerdik untuk mencegah penyakit tidak menular. Selain mengelola stres, cek kesehatan rutin, konsumsi sayur buah dan olahraga.

Hipertensi menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai. Mengapa? Endang mengungkapkan, pola penyakit 20 tahun lalu kebanyakan penyakit menular atau infeksi. Akan tetapi 20 tahun ini, sejak 2000-an sudah bergerak ke penyakit tidak menular. “Contohnya hipertensi. Dimana sesuai dengan Hari Hipertensi secara dunia kita harus cegah,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, Desa Grabagan, Kecamatan Tulangan, menjadi salah satu wilayah yang melaksanakan Posbindu penyakit tidak menular (PTM) secara rutin setiap bulan untuk mencegah dan menanggulangi PTM. Salah satunya mencegah penyakit hipertensi. “Disupport kepala desa dan tim penggerak PKK,” katanya.

Pengelola Penyakit Tidak Menular P2P Dinkes Sidoarjo Nina Marlina menguraikan, hipertensi atau tekanan darah tinggi makin tinggi dengan pola hidup masyarakat saat ini. Fasilitas pelayanan yang dimudahkan membeli makan sehingga menyebabkan kurang gerak. “Hipertensi harapannya bisa dicegah dan dikendalikan,” harapnya.

Evaluasi triwulan 1, Januari- Maret, dari rekapan 26 puskesmas didapat bahwa di Kecamatan Tulangan, khususnya Puskesmas Tulangan, capaiannya sudah 26 persen warga 15 tahun ke atas terkena hipertensi.

Sementara itu, dr. Tjatur Prijambodo menegaskan jika ingin terhindar dari hipertensi tidak boleh malas gerak. Kemudian rutin cek kesehatan, memperhatikan asupan minuman air mineral minimal 1,5 liter tiap hari, biasakan hidup sehat, atur pola pikir. “Hipertensi yaitu tekanan darah melebihi batas normal 120/80. Pre hipertensi 140/90, grade 1 yakni tensi 160/100. Kemudian di atas itu termasuk hipertensi maligna awas, ada potensi terserang stroke,” terangnya.

“Hipertensi bukan karena konsumsi garam. Kenapa garam tidak boleh berlebihan dikonsumsi hipertensi? Garam mengandung natrium atau sodium dan klorida. Di tubuh kita ada pompa sodium kalau ditambahi garam yang dikonsumsi semakin berat sodium pum-nya maka semakin parah. Maka diproduksi garam Ada garam rendah sodium nya tapi tetap asin,” sambungnya. Sehingga harus membatasi konsumsi garam 1,7 gram per hari atau ujung sendok teh serta mengkonsumsi makanan rendah lemak.

Ia menjelaskan, gejala hipertensi sudah muncul di usia 15 tahun. Seseorang yang salah satu anggota keluarga hipertensi maka ada keturunan menderita hipertensi. Pengidap hipertensi bisa berisiko terkena penyakit lain seperti gagal ginjal, serangan jantung dan diabetes. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/