alexametrics
30.1 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Waspada, Kasus Demam Berdarah di Sidoarjo Capai 230 Kasus

SIDOARJO – Masyarakat Sidoarjo diminta mewaspadai berkembangnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Karena Kota Delta termasuk wilayah yang rawan berkembangnya penyakit berbahaya tersebut.

“Kasus demam berdarah di Sidoarjo tiap tahun masih selalu ada. Dan harus selalu diwaspadai,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Muhammad Atho’illah, Jumat (1/10).

Kasus demam berdarah di Sidoarjo selama Januari hingga September 2021 sebanyak 230 kasus. Mayoritas pada usia-usia produktif. Meski demikian, usia anak-anak juga rentan.

Dari 27 puskesmas, Puskesmas Sekardangan, Gedangan, Candi dan Trosobo masing-masing melaporkan satu warga meninggal dunia. Terbanyak, Puskesmas Waru melaporkan DBD dengan 30 kasus, Sedati 30 kasus, Buduran 19 kasus dan Sidoarjo 16 kasus. Sementara itu di wilayah Puskesmas Prambon masih zona putih alias belum ditemukan kasus DBD selama 2021.

Menurutnya, upaya pencegahannya lebih baik dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni menguras, menutup dan mengubur benda-benda yang gampang menampung genangan air. Misalnya menguras bak air kamar mandi tiap seminggu sekali, menutup genangan air dan mengubur benda-benda tidak dipakai lagi, yang bisa menampung air.

“Menguras kamar mandi penting. Apalagi nyamuk lebih senang berkembang biak di air bersih. Kalau fogging atau penyemprotan itu hanya membasmi nyamuk dewasa saja,” jelasnya.

Beberapa gejala bila terserang DBD, kata Atho’, yakni suhu badan menjadi panas dingin, naik turun, , nyeri kepala, nyeri mata, badan terasa sakit semua, perdarahan di kulit atau muncul bintik-bintik merah. “Harus waspada. Segera bawa ke fasilitas layanan kesehatan agar cepat mendapat perawatan kesehatan,” katanya mengingatkan. (rpp/vga)

 

SIDOARJO – Masyarakat Sidoarjo diminta mewaspadai berkembangnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Karena Kota Delta termasuk wilayah yang rawan berkembangnya penyakit berbahaya tersebut.

“Kasus demam berdarah di Sidoarjo tiap tahun masih selalu ada. Dan harus selalu diwaspadai,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Muhammad Atho’illah, Jumat (1/10).

Kasus demam berdarah di Sidoarjo selama Januari hingga September 2021 sebanyak 230 kasus. Mayoritas pada usia-usia produktif. Meski demikian, usia anak-anak juga rentan.

Dari 27 puskesmas, Puskesmas Sekardangan, Gedangan, Candi dan Trosobo masing-masing melaporkan satu warga meninggal dunia. Terbanyak, Puskesmas Waru melaporkan DBD dengan 30 kasus, Sedati 30 kasus, Buduran 19 kasus dan Sidoarjo 16 kasus. Sementara itu di wilayah Puskesmas Prambon masih zona putih alias belum ditemukan kasus DBD selama 2021.

Menurutnya, upaya pencegahannya lebih baik dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni menguras, menutup dan mengubur benda-benda yang gampang menampung genangan air. Misalnya menguras bak air kamar mandi tiap seminggu sekali, menutup genangan air dan mengubur benda-benda tidak dipakai lagi, yang bisa menampung air.

“Menguras kamar mandi penting. Apalagi nyamuk lebih senang berkembang biak di air bersih. Kalau fogging atau penyemprotan itu hanya membasmi nyamuk dewasa saja,” jelasnya.

Beberapa gejala bila terserang DBD, kata Atho’, yakni suhu badan menjadi panas dingin, naik turun, , nyeri kepala, nyeri mata, badan terasa sakit semua, perdarahan di kulit atau muncul bintik-bintik merah. “Harus waspada. Segera bawa ke fasilitas layanan kesehatan agar cepat mendapat perawatan kesehatan,” katanya mengingatkan. (rpp/vga)

 

Most Read

Berita Terbaru


/