alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

RegkironaTM Kurangi Risiko Kematian Akibat Covid-19 hingga 70 Persen

SIDOARJO – Satu lagi obat terapi Covid-19 diyakini bisa menjadi kandidat obat penyembuhan pasien Covid-19. Obat Regdanvimab (RegkironaTM) kini telah direkomendasikan di Eropa untuk pasien Covid-19 dewasa yang tidak memerlukan terapi oksigen dan berisiko tinggi mengalami Covid-19 berat.

Dari riset yang sudah ada, dosis regdanvimab 40 mg/kgBB secara intravena, diberikan segera setelah terdiagnosis tidak lebih dari tujuh hari sejak onset gejala. Berdasarkan studi klinis regdanvimab (RegkironaTM) secara signifikan mengurangi risiko rawat inap atau kematian sebesar 72 persen untuk pasien yang berisiko tinggi berkembang menjadi Covid-19 yang berat hingga hari ke-28. RegkironaTM juga secara signifikan mengurangi risiko rawat inap atau kematian sebesar 70 persen pada semua pasien.

Pasien yang mendapatkan terapi dengan regdanvimab (RegkironaTM) dan terapi standar Covid-19 dilaporkan memiliki waktu pemulihan klinis yang secara signifikan lebih singkat dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan terapi standar Covid-19 saja. Yaitu setidaknya 4,7 hari lebih cepat untuk pasien yang berisiko tinggi berkembang menjadi Covid-19 berat dan 4,9 hari lebih cepat untuk semua pasien.

Data preklinik in vivo terbaru untuk regdanvimab (RegkironaTM) menunjukkan aktivitas netralisasi yang kuat terhadap virus SARS-CoV-2 varian Delta. Regdanvimab didentifikasi sebagai pengobatan potensial untuk terapi Covid-19 yang dilakukan melalui penyaringan kandidat antibodi. Antibodi yang dipilih memiliki potensi terbesar untuk menetralisir virus SARS-CoV-2.

“Regdanvimab menjadi terapi antibodi monoklonal pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk terapi Covid-19,” kata Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) dr. Raymond Tjandrawinata, dalam webinar baru-baru ini.

Pihaknya kini tengah mendukung usaha pemerintah dalam mendapatkan izin atau lisensi memasarkan Regkirona dari Celltrion Healthcare, Korea Selatan. RegkironaTM sebagai salah satu pilihan obat antivirus Covid-19 untuk pasien Covid-19 di Indonesia telah melalui uji klinik fase III dengan hasil baik.

Hasil uji klinik Fase I dan II global untuk regdanvimab atau RegkironaTM menunjukkan keamanan, tolerabilitas, efek antivirus, dan profil efikasi yang menjanjikan pada pasien dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang. Studi preklinik in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa regdanvimab berikatan kuat dengan Receptor Binding Domain SARS-CoV-2 dan secara signifikan menetralisasi virus varian wild type dan varian mutan yang menjadi perhatian (variants of concern) termasuk varian Alpha atau B.1.17. Kemudian pada model in vivo, regdanvimab secara efektif mengurangi viral load SARS-CoV-2 dan peradangan di paru-paru.

Pada pertengahan Juni 2021, Celltrion Healthcare mengumumkan data efikasi dan keamanan berdasarkan uji klinik fase III global. Hasilnya menunjukkan bahwa pengobatan antibodi monoklonal anti-Covid-19, regdanvimab (RegkironaTM), memenuhi semua primary end point dan key secondary end point pada pasien dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang (besar sampel 1.315). (jpc/opi)

 

SIDOARJO – Satu lagi obat terapi Covid-19 diyakini bisa menjadi kandidat obat penyembuhan pasien Covid-19. Obat Regdanvimab (RegkironaTM) kini telah direkomendasikan di Eropa untuk pasien Covid-19 dewasa yang tidak memerlukan terapi oksigen dan berisiko tinggi mengalami Covid-19 berat.

Dari riset yang sudah ada, dosis regdanvimab 40 mg/kgBB secara intravena, diberikan segera setelah terdiagnosis tidak lebih dari tujuh hari sejak onset gejala. Berdasarkan studi klinis regdanvimab (RegkironaTM) secara signifikan mengurangi risiko rawat inap atau kematian sebesar 72 persen untuk pasien yang berisiko tinggi berkembang menjadi Covid-19 yang berat hingga hari ke-28. RegkironaTM juga secara signifikan mengurangi risiko rawat inap atau kematian sebesar 70 persen pada semua pasien.

Pasien yang mendapatkan terapi dengan regdanvimab (RegkironaTM) dan terapi standar Covid-19 dilaporkan memiliki waktu pemulihan klinis yang secara signifikan lebih singkat dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan terapi standar Covid-19 saja. Yaitu setidaknya 4,7 hari lebih cepat untuk pasien yang berisiko tinggi berkembang menjadi Covid-19 berat dan 4,9 hari lebih cepat untuk semua pasien.

Data preklinik in vivo terbaru untuk regdanvimab (RegkironaTM) menunjukkan aktivitas netralisasi yang kuat terhadap virus SARS-CoV-2 varian Delta. Regdanvimab didentifikasi sebagai pengobatan potensial untuk terapi Covid-19 yang dilakukan melalui penyaringan kandidat antibodi. Antibodi yang dipilih memiliki potensi terbesar untuk menetralisir virus SARS-CoV-2.

“Regdanvimab menjadi terapi antibodi monoklonal pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk terapi Covid-19,” kata Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) dr. Raymond Tjandrawinata, dalam webinar baru-baru ini.

Pihaknya kini tengah mendukung usaha pemerintah dalam mendapatkan izin atau lisensi memasarkan Regkirona dari Celltrion Healthcare, Korea Selatan. RegkironaTM sebagai salah satu pilihan obat antivirus Covid-19 untuk pasien Covid-19 di Indonesia telah melalui uji klinik fase III dengan hasil baik.

Hasil uji klinik Fase I dan II global untuk regdanvimab atau RegkironaTM menunjukkan keamanan, tolerabilitas, efek antivirus, dan profil efikasi yang menjanjikan pada pasien dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang. Studi preklinik in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa regdanvimab berikatan kuat dengan Receptor Binding Domain SARS-CoV-2 dan secara signifikan menetralisasi virus varian wild type dan varian mutan yang menjadi perhatian (variants of concern) termasuk varian Alpha atau B.1.17. Kemudian pada model in vivo, regdanvimab secara efektif mengurangi viral load SARS-CoV-2 dan peradangan di paru-paru.

Pada pertengahan Juni 2021, Celltrion Healthcare mengumumkan data efikasi dan keamanan berdasarkan uji klinik fase III global. Hasilnya menunjukkan bahwa pengobatan antibodi monoklonal anti-Covid-19, regdanvimab (RegkironaTM), memenuhi semua primary end point dan key secondary end point pada pasien dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang (besar sampel 1.315). (jpc/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/