alexametrics
25 C
Sidoarjo
Saturday, 28 May 2022

Seragam Batik ASN Harus dari Perajin Batik Sidoarjo

SIDOARJO – Corak batik seringkali menyiratkan sejarah perkembangan sebuah daerah. Karena di dalamnya ada filosofi makna dari jenis batik tersebut.

Pegiat dan perajin batik tulis Sidoarjo Nurul Huda, Selasa (3/11) menuturkan, batik Sidoarjo kental dengan tiga corak. Yakni beras wutah, kembang tebu dan udang bandeng.

Pemilik batik tulis Al Huda ini menerangkan, sejarah batik tulis di Sidoarjo berbarengan dengan berdirinya Masjid Al Abror pada tahun 1670- an di Kampung Kauman yang berdekatan dengan Kampung Jetis.

Corak beras wutah menyiratkan pada masa lalu Sidoarjo merupakan produsen beras yang unggul. Tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam kota, tapi juga dikirim ke luar pulau. “Hal itu bisa ditelusuri dengan adanya situs kuno beberapa penggilingan padi,” jelas Nurul Huda.

Begitu juga corak kembang tebu. Di Sidoarjo, ada lima pabrik gula. Sedangkan corak udang bandeng menggambarkan bahwa Sidoarjo adalah kota dengan hasil perikanan yang melimpah. Tambak-tambak tersebar di beberapa wilayah Sidoarjo timur. “Hampir semua produk batik saya terdapat satu dari tiga corak tersebut,” ujar perajin batik tulis yang juga dosen pertanian ini.

Huda menambahkan, salah satu ciri khas lain yang kuat adalah corak kembang bayam dengan latar belakang cerita Sidoarjo penghasil sayur mayur.

Namun sayang sekali, seragam batik Aparatur Sipil Negara (ASN) Sidoarjo yang berjumlah lebih dari 14 ribu orang justru dibeli dari luar daerah. Padahal sampai saat ini, di Kota Delta tersebar beberapa sentra UKM batik tulis. Hal itu disayangkan perajin batik tulis seperti Nurul Huda dan Rinaldi Kurnia Edwinsyah.

Menanggapi hal tersebut, Calon Bupati Sidoarjo Kelana Aprilianto dan Calon Wakil Bupati Dwi Astutik, dengan tegas mengatakan, jika dirinya diamanahi menjadi pemimpin, seragam batik ASN harus buatan UMKM Sidoarjo.

“Harus pakai batik Sidoarjo lah. Saya akan tegas menggunakan batik Sidoarjo untuk seragam ASN. Jumlah ASN yang belasan ribu tentu saja menjadi potensi ekonomi yang besar bagi pelaku UMKM di Sidoarjo. Mengapa harus membeli dari luar. Bagaimana industri batik Sidoarjo bisa tumbuh dan berkembang kalau kita mengunakan batik dari luar,” tegas Kelana yang juga didukung Dwi Astutik.

Pihaknya mengatakan, kualitas batik tulis buatan perajin Sidoarjo sangat bagus. “Meskipun demikian, nanti juga akan kita dampingi mereka agar bisa meningkatkan usaha mereka. Apa yang menjadi hambatan dan keluhan mereka kita pecahkan. Misalnya permodalan dan pemasaran. Pemerintah harus hadir khususnya untuk pelaku sektor UMKM. Ayo kita bangga batik dengan membeli batik tulis Sidoarjo,” pungkasnya. (far/vga)

SIDOARJO – Corak batik seringkali menyiratkan sejarah perkembangan sebuah daerah. Karena di dalamnya ada filosofi makna dari jenis batik tersebut.

Pegiat dan perajin batik tulis Sidoarjo Nurul Huda, Selasa (3/11) menuturkan, batik Sidoarjo kental dengan tiga corak. Yakni beras wutah, kembang tebu dan udang bandeng.

Pemilik batik tulis Al Huda ini menerangkan, sejarah batik tulis di Sidoarjo berbarengan dengan berdirinya Masjid Al Abror pada tahun 1670- an di Kampung Kauman yang berdekatan dengan Kampung Jetis.

Corak beras wutah menyiratkan pada masa lalu Sidoarjo merupakan produsen beras yang unggul. Tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam kota, tapi juga dikirim ke luar pulau. “Hal itu bisa ditelusuri dengan adanya situs kuno beberapa penggilingan padi,” jelas Nurul Huda.

Begitu juga corak kembang tebu. Di Sidoarjo, ada lima pabrik gula. Sedangkan corak udang bandeng menggambarkan bahwa Sidoarjo adalah kota dengan hasil perikanan yang melimpah. Tambak-tambak tersebar di beberapa wilayah Sidoarjo timur. “Hampir semua produk batik saya terdapat satu dari tiga corak tersebut,” ujar perajin batik tulis yang juga dosen pertanian ini.

Huda menambahkan, salah satu ciri khas lain yang kuat adalah corak kembang bayam dengan latar belakang cerita Sidoarjo penghasil sayur mayur.

Namun sayang sekali, seragam batik Aparatur Sipil Negara (ASN) Sidoarjo yang berjumlah lebih dari 14 ribu orang justru dibeli dari luar daerah. Padahal sampai saat ini, di Kota Delta tersebar beberapa sentra UKM batik tulis. Hal itu disayangkan perajin batik tulis seperti Nurul Huda dan Rinaldi Kurnia Edwinsyah.

Menanggapi hal tersebut, Calon Bupati Sidoarjo Kelana Aprilianto dan Calon Wakil Bupati Dwi Astutik, dengan tegas mengatakan, jika dirinya diamanahi menjadi pemimpin, seragam batik ASN harus buatan UMKM Sidoarjo.

“Harus pakai batik Sidoarjo lah. Saya akan tegas menggunakan batik Sidoarjo untuk seragam ASN. Jumlah ASN yang belasan ribu tentu saja menjadi potensi ekonomi yang besar bagi pelaku UMKM di Sidoarjo. Mengapa harus membeli dari luar. Bagaimana industri batik Sidoarjo bisa tumbuh dan berkembang kalau kita mengunakan batik dari luar,” tegas Kelana yang juga didukung Dwi Astutik.

Pihaknya mengatakan, kualitas batik tulis buatan perajin Sidoarjo sangat bagus. “Meskipun demikian, nanti juga akan kita dampingi mereka agar bisa meningkatkan usaha mereka. Apa yang menjadi hambatan dan keluhan mereka kita pecahkan. Misalnya permodalan dan pemasaran. Pemerintah harus hadir khususnya untuk pelaku sektor UMKM. Ayo kita bangga batik dengan membeli batik tulis Sidoarjo,” pungkasnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/