alexametrics
27 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

SLB Putra Harapan Gelar In House Training Sekolah Penggerak Angkatan II

SIDOARJO – Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan menggelar In House Training Program Sekolah Penggerak angkatan ke-2, Selasa (28/6). Kegiatan tersebut dihadiri para dewan guru, komite sekolah hingga perwakilan orang tua siswa.

Kepala SLB Putra Harapan Ninik Sri Kunmalawati, S.Pd, mengatakan, kegiatan tersebut mulai digelar Senin (27/6) hingga Jumat (15/7). Para peserta In House Training tersebut diharapkan dapat memahami tentang sekolah penggerak, hingga kurikulum merdeka belajar.

“Termasuk juga bisa memahami profil pelajar Pancasila serta implikasinya dalam pembelajaran. Semoga ini nantinya bisa menjadi penggerak sekolah lain,” katanya.

Meski begitu, tak semua sekolah dapat menjadi sekolah penggerak. Sebab harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya keunggulan visi dan misi sekolah. Syarat tersebut rupanya berhasil dipenuhi SLB Putra Harapan.

Dia menambahkan, syarat menjadi sekolah pengerak yakni kepala sekolah harus melalui beberapa tahap seleksi yakni pendaftaran secara administrasi, mengisi esai tentang kompetensi kepala sekolah, simulasi mengajar dan wawancara dengan asesor dari Kemendikbud Ristek.

SERIUS: Para peserta In House Training diharapkan dapat memahami tentang sekolah penggerak, hingga kurikulum merdeka belajar. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan II, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.hyp., S.T., M.Kes., IPU ASEAN Eng., mengatakan, sekolah penggerak sedikit berbeda dari sekolah biasa. Dimana sekolah akan lebih terstruktur. Terutama saat kurikulum merdeka belajar mulai diterapkan.

“Jadi ketika kurikulum merdeka belajar sudah dipakai dan sekolah tersebut ikut sekolah penggerak, maka dia akan menjadi contoh. Sehingga sekolah itu harus lebih update,” ujarnya.

Wanita yang kerap disapa Prof. Qoqom itu menjelaskan, nantinya sekolah penggerak seperti SLB Putra Harapan tersebut bisa menjadi leader bagi sekolah binaannya. Sehingga jika sudah ditetapkan sebagai sekolah pengerak maka harus menggelar bimbingan teknis (bimtek).

“Nanti dikenalkan saat bimtek. Bagaimana IT sekolah penggerak. Termasuk juga di dalamnya ada kurikulum hingga pembuatan raport digital. Disosialisasikan melalui In House Training,” jelasnya.

Sementara itu, Saji, S.Pd. MM., pengawas PKLK Provinsi Jawa Timur wilayah Sidoarjo menuturkan, program sekolah penggerak merupakan upaya untuk menanamkan Pancasila. Sehingga penerapannya tak bisa berjalan sendiri, sebab program tersebut bersifat kolaboratif.

“Jadi tak bisa hanya yayasan saja, orang tua, pengawas, guru atau kepala sekolah saja. Semuanya terlibat termasuk yang tergabung dalam komite sekolah,” ujarnya. (far/vga)

SIDOARJO – Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan menggelar In House Training Program Sekolah Penggerak angkatan ke-2, Selasa (28/6). Kegiatan tersebut dihadiri para dewan guru, komite sekolah hingga perwakilan orang tua siswa.

Kepala SLB Putra Harapan Ninik Sri Kunmalawati, S.Pd, mengatakan, kegiatan tersebut mulai digelar Senin (27/6) hingga Jumat (15/7). Para peserta In House Training tersebut diharapkan dapat memahami tentang sekolah penggerak, hingga kurikulum merdeka belajar.

“Termasuk juga bisa memahami profil pelajar Pancasila serta implikasinya dalam pembelajaran. Semoga ini nantinya bisa menjadi penggerak sekolah lain,” katanya.

Meski begitu, tak semua sekolah dapat menjadi sekolah penggerak. Sebab harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya keunggulan visi dan misi sekolah. Syarat tersebut rupanya berhasil dipenuhi SLB Putra Harapan.

Dia menambahkan, syarat menjadi sekolah pengerak yakni kepala sekolah harus melalui beberapa tahap seleksi yakni pendaftaran secara administrasi, mengisi esai tentang kompetensi kepala sekolah, simulasi mengajar dan wawancara dengan asesor dari Kemendikbud Ristek.

SERIUS: Para peserta In House Training diharapkan dapat memahami tentang sekolah penggerak, hingga kurikulum merdeka belajar. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan II, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.hyp., S.T., M.Kes., IPU ASEAN Eng., mengatakan, sekolah penggerak sedikit berbeda dari sekolah biasa. Dimana sekolah akan lebih terstruktur. Terutama saat kurikulum merdeka belajar mulai diterapkan.

“Jadi ketika kurikulum merdeka belajar sudah dipakai dan sekolah tersebut ikut sekolah penggerak, maka dia akan menjadi contoh. Sehingga sekolah itu harus lebih update,” ujarnya.

Wanita yang kerap disapa Prof. Qoqom itu menjelaskan, nantinya sekolah penggerak seperti SLB Putra Harapan tersebut bisa menjadi leader bagi sekolah binaannya. Sehingga jika sudah ditetapkan sebagai sekolah pengerak maka harus menggelar bimbingan teknis (bimtek).

“Nanti dikenalkan saat bimtek. Bagaimana IT sekolah penggerak. Termasuk juga di dalamnya ada kurikulum hingga pembuatan raport digital. Disosialisasikan melalui In House Training,” jelasnya.

Sementara itu, Saji, S.Pd. MM., pengawas PKLK Provinsi Jawa Timur wilayah Sidoarjo menuturkan, program sekolah penggerak merupakan upaya untuk menanamkan Pancasila. Sehingga penerapannya tak bisa berjalan sendiri, sebab program tersebut bersifat kolaboratif.

“Jadi tak bisa hanya yayasan saja, orang tua, pengawas, guru atau kepala sekolah saja. Semuanya terlibat termasuk yang tergabung dalam komite sekolah,” ujarnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/