alexametrics
29 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Covid-19 Naik, Keputusan PTM di Sidoarjo Tergantung Hasil Swab Siswa dan Guru

SIDOARJO – Untuk mengetahui penyebaran Covid-19, hari ini Sabtu (5/1) Dinas Kesehatan Sidoarjo mengerahkan 27 puskesmas untuk mengambil sampel secara acak pada 2.700 siswa dan guru.  Hasil tersebut nantinya dijadikan acuan oleh Dinas Kesehatan memberikan rekomendasi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) bagaimana kelanjutan pembelajaran tatap muka (PTM) di Sidoarjo.

Kepala Dispendikbud Sidoarjo Tirto Adi mengatakan, dalam melaksanakan PTM di tengah pandemi Covid-19 pihaknya berpedoman pada SKB 4 Menteri dan juknis PTM yang dikeluarkan Dinkes.

Jika ada di satu sekolah lebih dari 5 persen dari jumlah siswa atau guru terkonfirmasi positif, maka satu sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, jika ditemukan di satu kelas saja, hanya kelas tersebut yang PJJ.

Tirto menyampaikan, berdasarkan data sampai saat ini yang terkonfirmasi positif di sekolah, masih jauh di bawah 5 persen dari jumlah siswa di Sidoarjo yang mencapai 144 ribu dari jenjang TK sampai SMP.

“Oleh karena itu kerisauan sebagian masyarakat selalu kami jawab. Sabtu besok (hari ini, Red) kami bersama Dinkes sepakat melakukan testing dan tracing. Kita imbau wali murid tetap waspada tapi tidak panik. Kami selalu bersinergi dengan Dinkes,” jelas Tirto dijumpai usai hearing dengan komisi D DPRD Sidoarjo, Jumat (4/1).

Dari laporan yang diterimanya kemarin, ada tambahan lima siswa dan guru dari lima sekolah berbeda terpapar Covid-19. Di SMP Al Muslim 1 orang, SMP Raudlatul Jannah 1 orang, SMPN 5 Sidoarjo 1 orang, SMPN 1 Waru 1 orang dan SMPN 1 Sidoarjo 1 orang.

Tirto menegaskan, mengembalikan PJJ ke PTM tidak mudah. Tahun lalu, ketika PJJ dilakukan, hasil survei literasi dan numerasi di Sidoarjo menurun.  Nilai literasi dari 129 selama 6 bulan PJJ skornya turun 52 menjadi 77. Kemudian numerasi, skor 78 sebelum PJJ, enam bulan PJJ itu turun 44 jadi 34.

“Kita tidak akan mengembalikan penuh PJJ tapi kita mengacu ke juknis PTM. Ketika positif rate maka yang di PJJ kan hanya di kelas itu, di kelas lain tetap berjalan. Harapan kita keputusan dan kebijakan maksimal itu. Jadi ini ikhtiar kita mengembalikan esensi pendidikan sepenuhnya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Sidoarjo Syaf Satriawarman menambahkan, jumlah siswa dan guru positif Covid-19 yang dilaporkan padanya hingga Kamis (3/1) mencapai 77 orang. Terjadi di 10 sekolah. SD hingga SMA. Terbanyak di SMAN 3 Sidoarjo sebanyak 29 kasus.

“Kalau hasil testing 2.700 guru dan siswa, angkanya melebihi 5 persen, PTM ditutup dulu. Mudah-mudahan jangan meledak,” harapnya.

Kemudian dalam sehari, kemarin di Sidoarjo bertambah 447 kasus positif. Berkembang cepat selama 10 hari. Puncaknya pekan ini 3 hari berturut-turut penambahannya signifikan.

“Kemarin bertambah 208 orang. Dari 447 kasus aktif itu, ada empat omicron dari hasil pemeriksaan whole genome sequensing (WGS). 211 itu orang Sidoarjo yang tinggal di Sidoarjo. Lainnya KTP Sidoarjo tapi domisili luar kota,” ungkapnya. (rpp/vga)

SIDOARJO – Untuk mengetahui penyebaran Covid-19, hari ini Sabtu (5/1) Dinas Kesehatan Sidoarjo mengerahkan 27 puskesmas untuk mengambil sampel secara acak pada 2.700 siswa dan guru.  Hasil tersebut nantinya dijadikan acuan oleh Dinas Kesehatan memberikan rekomendasi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) bagaimana kelanjutan pembelajaran tatap muka (PTM) di Sidoarjo.

Kepala Dispendikbud Sidoarjo Tirto Adi mengatakan, dalam melaksanakan PTM di tengah pandemi Covid-19 pihaknya berpedoman pada SKB 4 Menteri dan juknis PTM yang dikeluarkan Dinkes.

Jika ada di satu sekolah lebih dari 5 persen dari jumlah siswa atau guru terkonfirmasi positif, maka satu sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, jika ditemukan di satu kelas saja, hanya kelas tersebut yang PJJ.

Tirto menyampaikan, berdasarkan data sampai saat ini yang terkonfirmasi positif di sekolah, masih jauh di bawah 5 persen dari jumlah siswa di Sidoarjo yang mencapai 144 ribu dari jenjang TK sampai SMP.

“Oleh karena itu kerisauan sebagian masyarakat selalu kami jawab. Sabtu besok (hari ini, Red) kami bersama Dinkes sepakat melakukan testing dan tracing. Kita imbau wali murid tetap waspada tapi tidak panik. Kami selalu bersinergi dengan Dinkes,” jelas Tirto dijumpai usai hearing dengan komisi D DPRD Sidoarjo, Jumat (4/1).

Dari laporan yang diterimanya kemarin, ada tambahan lima siswa dan guru dari lima sekolah berbeda terpapar Covid-19. Di SMP Al Muslim 1 orang, SMP Raudlatul Jannah 1 orang, SMPN 5 Sidoarjo 1 orang, SMPN 1 Waru 1 orang dan SMPN 1 Sidoarjo 1 orang.

Tirto menegaskan, mengembalikan PJJ ke PTM tidak mudah. Tahun lalu, ketika PJJ dilakukan, hasil survei literasi dan numerasi di Sidoarjo menurun.  Nilai literasi dari 129 selama 6 bulan PJJ skornya turun 52 menjadi 77. Kemudian numerasi, skor 78 sebelum PJJ, enam bulan PJJ itu turun 44 jadi 34.

“Kita tidak akan mengembalikan penuh PJJ tapi kita mengacu ke juknis PTM. Ketika positif rate maka yang di PJJ kan hanya di kelas itu, di kelas lain tetap berjalan. Harapan kita keputusan dan kebijakan maksimal itu. Jadi ini ikhtiar kita mengembalikan esensi pendidikan sepenuhnya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Sidoarjo Syaf Satriawarman menambahkan, jumlah siswa dan guru positif Covid-19 yang dilaporkan padanya hingga Kamis (3/1) mencapai 77 orang. Terjadi di 10 sekolah. SD hingga SMA. Terbanyak di SMAN 3 Sidoarjo sebanyak 29 kasus.

“Kalau hasil testing 2.700 guru dan siswa, angkanya melebihi 5 persen, PTM ditutup dulu. Mudah-mudahan jangan meledak,” harapnya.

Kemudian dalam sehari, kemarin di Sidoarjo bertambah 447 kasus positif. Berkembang cepat selama 10 hari. Puncaknya pekan ini 3 hari berturut-turut penambahannya signifikan.

“Kemarin bertambah 208 orang. Dari 447 kasus aktif itu, ada empat omicron dari hasil pemeriksaan whole genome sequensing (WGS). 211 itu orang Sidoarjo yang tinggal di Sidoarjo. Lainnya KTP Sidoarjo tapi domisili luar kota,” ungkapnya. (rpp/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/