alexametrics
27 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Penyiar Cantik yang Lompat Generasi untuk Menyelami Media Baru

PENULIS : Kiki Widyasari Hastowo, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Semakin kesana, semakin terkini. Persentase kemajuan segala aspek di dunia semakin meningkat. Tak terkecuali new media atau media baru. Generasi baru dengan media baru, menimbulkan sisi kreativitas dan inovatif baru bagi pengguna.

Penggunaan internet di Indonesia yang terus menerus berkembang menuntut orang-orang untuk terus mengikuti laju arus perkembangan media. Seluruh generasi yang sebelumnya hidup di era media lama seperti, generasi Y, generasi X, bahkan generasi Baby Boomers harus mengikuti dan meyesuaikan diri dengan perkekembanagan internet ke media baru.

Hal ini dapat dirasakan saat kemunculan Covid-19 yang mengharuskan masyarakat Indonesia mengakses apapun dari rumah dan berusaha mencari jalan pintas untuk tetap terhubung dengan sesama dan dunia luar. Terlebih media baru memiliki cakupan ruang, jaringan, dan identitas yang sangat luas.

New media atau Media Baru merupakan media dengan interferensi perangkat digital. Dimana penggunanya dapat menikmati dan memberikan suguhan konten kapan saja, sehingga tidak heran jika kita akrab hingga candu dengan media sosial.

Dari tua hingga muda dapat menghasilkan kreativitas dan estetika baru melalui media baru. Tiga aspek dalam new media yang berupa, telekomunikasi, data komunikasi, dan komunikasi massa menjadikan new media sebagai sarana paling dibutuhkan saat ini.

Beragam jenis media yang menggunakan teknologi digital mulai dari blog, surat kabar, podcast hingga musik menjadi semakin marak. Yang sering diketahui, media baru berhubungan banget dengan anak muda atau anak yang mencoba untuk tetap berjiwa muda.

Tak dapat dipungkiri, bahwa banyak anak muda yang mulai mengakses media baru dengan beragam jenisnya. Makin gaul dan bahkan semakin banyak orang yang berlomba-lomba menjadi content creator.

Seperti penyiar viral Ajeng Dinanti, wanita kelahiran 1995 merupakan generasi X yang menyelam mengikuti pembaharuan media. Menurut wawancara secara online pada 28 Juni 2022 dengan fitur media baru dari Zoom, Ajeng mengatakan bahwa ia sedang mencoba melakukan penyesuaian dengan kemajuan dan bentuk media baru sebagai sarana bercengkrama dengan audience. Dalam kesehariannya Ajeng tidak luput dengan siaran radio, dimana itu bisa dikatakan media lama untuk menyampaikan informasi.

Ia merasakan bahwa saat dulu ia memulai karir sebagai penyiar di 2012 harus terus menyesuaikan diri dengan bentuk perkembangan media dan juga harus terus beradaptasi dengan media media baru yang harus ia gunakan agar tidak tertinggal. Bukan anak muda kalau gak kenal dengan Tik Tok. Ajeng mulai mencoba untuk menggunakan aplikasi yang ramai dibicarakan netizen untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan media baru.

Ia menjalar ke media Tik Tok sebagai bentuk personal branding yang ia kenalkan ke audience mengenai pekerjaan dan juga hobi. Tak hanya itu, ada fitur Tik Tok yaitu komentar di akun @ajeng.dinanti diisi oleh banyak pengguna yang merequest dan tertarik dengan bagaimana podcast itu berlangsung.

Tak luput media Instagram. Sebagai anak muda gaul, Ajeng pastinya memiliki akun Instagram dengan nama yang sama. Tanpa alasan lagi, ia berkecimpung di media sosial karena ingin merasakan dan menerima fitur yang telah disusun sedemikian rupa untuk penjunjang perkembangan media baru.

Bahasa gaulnya biar gak kudet alias kurang update. Keberadaan internet yang menyebabkan keberadaan New Media memang membawa pengaruh dalam kehidupan masyarakat untuk mengubah segala sesuatu dalam lingkungan masyarakat sehingga masyarakat berusaha digiring dalam satu arus arus yaitu globalisasi. (*)

PENULIS : Kiki Widyasari Hastowo, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Semakin kesana, semakin terkini. Persentase kemajuan segala aspek di dunia semakin meningkat. Tak terkecuali new media atau media baru. Generasi baru dengan media baru, menimbulkan sisi kreativitas dan inovatif baru bagi pengguna.

Penggunaan internet di Indonesia yang terus menerus berkembang menuntut orang-orang untuk terus mengikuti laju arus perkembangan media. Seluruh generasi yang sebelumnya hidup di era media lama seperti, generasi Y, generasi X, bahkan generasi Baby Boomers harus mengikuti dan meyesuaikan diri dengan perkekembanagan internet ke media baru.

Hal ini dapat dirasakan saat kemunculan Covid-19 yang mengharuskan masyarakat Indonesia mengakses apapun dari rumah dan berusaha mencari jalan pintas untuk tetap terhubung dengan sesama dan dunia luar. Terlebih media baru memiliki cakupan ruang, jaringan, dan identitas yang sangat luas.

New media atau Media Baru merupakan media dengan interferensi perangkat digital. Dimana penggunanya dapat menikmati dan memberikan suguhan konten kapan saja, sehingga tidak heran jika kita akrab hingga candu dengan media sosial.

Dari tua hingga muda dapat menghasilkan kreativitas dan estetika baru melalui media baru. Tiga aspek dalam new media yang berupa, telekomunikasi, data komunikasi, dan komunikasi massa menjadikan new media sebagai sarana paling dibutuhkan saat ini.

Beragam jenis media yang menggunakan teknologi digital mulai dari blog, surat kabar, podcast hingga musik menjadi semakin marak. Yang sering diketahui, media baru berhubungan banget dengan anak muda atau anak yang mencoba untuk tetap berjiwa muda.

Tak dapat dipungkiri, bahwa banyak anak muda yang mulai mengakses media baru dengan beragam jenisnya. Makin gaul dan bahkan semakin banyak orang yang berlomba-lomba menjadi content creator.

Seperti penyiar viral Ajeng Dinanti, wanita kelahiran 1995 merupakan generasi X yang menyelam mengikuti pembaharuan media. Menurut wawancara secara online pada 28 Juni 2022 dengan fitur media baru dari Zoom, Ajeng mengatakan bahwa ia sedang mencoba melakukan penyesuaian dengan kemajuan dan bentuk media baru sebagai sarana bercengkrama dengan audience. Dalam kesehariannya Ajeng tidak luput dengan siaran radio, dimana itu bisa dikatakan media lama untuk menyampaikan informasi.

Ia merasakan bahwa saat dulu ia memulai karir sebagai penyiar di 2012 harus terus menyesuaikan diri dengan bentuk perkembangan media dan juga harus terus beradaptasi dengan media media baru yang harus ia gunakan agar tidak tertinggal. Bukan anak muda kalau gak kenal dengan Tik Tok. Ajeng mulai mencoba untuk menggunakan aplikasi yang ramai dibicarakan netizen untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan media baru.

Ia menjalar ke media Tik Tok sebagai bentuk personal branding yang ia kenalkan ke audience mengenai pekerjaan dan juga hobi. Tak hanya itu, ada fitur Tik Tok yaitu komentar di akun @ajeng.dinanti diisi oleh banyak pengguna yang merequest dan tertarik dengan bagaimana podcast itu berlangsung.

Tak luput media Instagram. Sebagai anak muda gaul, Ajeng pastinya memiliki akun Instagram dengan nama yang sama. Tanpa alasan lagi, ia berkecimpung di media sosial karena ingin merasakan dan menerima fitur yang telah disusun sedemikian rupa untuk penjunjang perkembangan media baru.

Bahasa gaulnya biar gak kudet alias kurang update. Keberadaan internet yang menyebabkan keberadaan New Media memang membawa pengaruh dalam kehidupan masyarakat untuk mengubah segala sesuatu dalam lingkungan masyarakat sehingga masyarakat berusaha digiring dalam satu arus arus yaitu globalisasi. (*)

Most Read

Berita Terbaru


/