alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Disporapar Berburu Desain Batik Khas Sidoarjo

SIDOARJO – Mencari jati diri batik khas Sidoarjo, Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menggali potensi dengan lomba desain batik. Desain yang dicari mencerminkan budaya luhur nenek moyang dan konten lokal Sidoarjo. Dilihat dari berbagai perspektif sosial, budaya dan sejarah.

Tidak hanya dari Sidoarjo, lomba desain batik ini banyak diikuti 175 peserta dari berbagai daerah. Selain Sidoarjo, ada juga peserta dari Yogyakarta, Bandung, Malang, Gresik, Lumajang hingga Tiongkok. Dari sana terkumpul 84 karya dan 10 karya desain batik terbaik. Senin (27/9) semua karya tersebut dipresentasikan.

Kepala Disporapar Sidoarjo Djoko Supriyadi menjabarkan pihaknya ingin menemukan jati diri batik Sidoarjo melalui lomba desain batik ini. “Yang Sidoarjo banget. Kita support sebagai salah satu andalan oleh-oleh khas Sidoarjo. Di bidang pariwisata, selain mencari destinasi, wisatawan ya mencari oleh-oleh. Andalannya batik,” urainya.

Dari desain yang terkumpul dewan juri menilai peserta sudah mampu menuangkan ikon-ikon khas Sidoarjo. Di antaranya terinspirasi dari kesenian Reog Cemandi, Tari Banjarkemuning, patrol, Monumen Jayandaru, Candi Pari, udang, bandeng dan pohon ketapang.

Warna-warna yang dipilih mencerminkan masyarakat pesisir yang menyukai warna cerah. Seperti kuning dan merah. Warna yang terlihat kontras tapi menyatu.

Lintu Tulistyantoro, Ketua Komunitas Batik Jawa Timur yang menjadi salah satu dewan juri mengatakan desain batik yang dihasilkan peserta, merupakan desain batik kekinian. “Artinya lebih modern. Bisa dipakai di berbagai kalangan usia. Muda hingga tua. Tahun ini berbeda, peserta bukan hanya dari siswa SMA atau anak kuliah. Ternyata juga menarik perhatian pada desainer busana,” jelasnya.

Dari 10 peserta didapat tiga terbaik. Semarak lenggang Sidoarjo, karya Natalia Afinita asal Yogyakarta sebagai juara pertama. Juara 2 Pesona Batik Sidoarjo karya Fian Affandi dari Bandung dan Indraloka Arja karya Umi Laila Fitri asal Malang.

Sementara itu Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sidoarjo Sa’adah Ahmad Muhdlor mengatakan lomba desain batik ini membantu mewujudkan ide kreasi baru dari desain itu sendiri. “Mengglobalkan lagi batik agar bisa diterima berbagai kalangan. Desain sesuai dengan pasar yang diharapkan. Bisa mengangkat nilai jual batik. Sudah menunjukkan karakter Sidoarjo,” katanya. (rpp/nis)

SIDOARJO – Mencari jati diri batik khas Sidoarjo, Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menggali potensi dengan lomba desain batik. Desain yang dicari mencerminkan budaya luhur nenek moyang dan konten lokal Sidoarjo. Dilihat dari berbagai perspektif sosial, budaya dan sejarah.

Tidak hanya dari Sidoarjo, lomba desain batik ini banyak diikuti 175 peserta dari berbagai daerah. Selain Sidoarjo, ada juga peserta dari Yogyakarta, Bandung, Malang, Gresik, Lumajang hingga Tiongkok. Dari sana terkumpul 84 karya dan 10 karya desain batik terbaik. Senin (27/9) semua karya tersebut dipresentasikan.

Kepala Disporapar Sidoarjo Djoko Supriyadi menjabarkan pihaknya ingin menemukan jati diri batik Sidoarjo melalui lomba desain batik ini. “Yang Sidoarjo banget. Kita support sebagai salah satu andalan oleh-oleh khas Sidoarjo. Di bidang pariwisata, selain mencari destinasi, wisatawan ya mencari oleh-oleh. Andalannya batik,” urainya.

Dari desain yang terkumpul dewan juri menilai peserta sudah mampu menuangkan ikon-ikon khas Sidoarjo. Di antaranya terinspirasi dari kesenian Reog Cemandi, Tari Banjarkemuning, patrol, Monumen Jayandaru, Candi Pari, udang, bandeng dan pohon ketapang.

Warna-warna yang dipilih mencerminkan masyarakat pesisir yang menyukai warna cerah. Seperti kuning dan merah. Warna yang terlihat kontras tapi menyatu.

Lintu Tulistyantoro, Ketua Komunitas Batik Jawa Timur yang menjadi salah satu dewan juri mengatakan desain batik yang dihasilkan peserta, merupakan desain batik kekinian. “Artinya lebih modern. Bisa dipakai di berbagai kalangan usia. Muda hingga tua. Tahun ini berbeda, peserta bukan hanya dari siswa SMA atau anak kuliah. Ternyata juga menarik perhatian pada desainer busana,” jelasnya.

Dari 10 peserta didapat tiga terbaik. Semarak lenggang Sidoarjo, karya Natalia Afinita asal Yogyakarta sebagai juara pertama. Juara 2 Pesona Batik Sidoarjo karya Fian Affandi dari Bandung dan Indraloka Arja karya Umi Laila Fitri asal Malang.

Sementara itu Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sidoarjo Sa’adah Ahmad Muhdlor mengatakan lomba desain batik ini membantu mewujudkan ide kreasi baru dari desain itu sendiri. “Mengglobalkan lagi batik agar bisa diterima berbagai kalangan. Desain sesuai dengan pasar yang diharapkan. Bisa mengangkat nilai jual batik. Sudah menunjukkan karakter Sidoarjo,” katanya. (rpp/nis)

Most Read

Berita Terbaru


/