alexametrics
29 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Sarat Makna Kisah Kerajaan Jenggala

Melestarikan Baju Pengantin Khas Sidoarjo (1)

29 Agustus 2006 atau 14 tahun sudah baju pengantin Putri Jenggolo dikukuhkan. Proses panjang harus dilalui DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia “Melati” Sidoarjo, (Harpi Melati) untuk mencari jati diri dan pijakan ornamen yang ada dalam sepasang busana tersebut.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Setidaknya perlu waktu 20 tahun bagi mereka bisa menemukan bentuk aksesoris, motif, warna busana yang pas untuk diaplikasikan.

Sepasang suami istri, Sudirman dan Sri Hastuti pengurus di Harpi “Melati” Sidoarjo ini menceritakan ada keinginan dari Ketua Harpi “Melati” Sidoarjo agar Sidoarjo punya baju pengantin yang otentik. Melihat Surabaya, Mojokerto sudah punya baju pengantin khasnya, mengapa tidak jika Sidoarjo juga punya baju pengantin sendiri.

Dirman sapaan akrab Sudirman mengatakan sebelumnya pernah ada rancangan dari perias di Krian. Namun masih cenderung ke adat Solo dan Yogya. Setelah meminta izin akhirnya bentuk awal busana pengantin Sidoarjo tersebut disempurnakan anggota Harpi.

Langkahnya dengan mengunjungi situs peninggalan kerajaan Jenggala. Mereka pergi ke Candi Dermo, Candi Pari, Candi Sumur dan candi lainnya. Satu per satu candi mereka datangi. Arca dan relief pada candi diperhatikan dengan seksama.

Salah satu peninggalan di Candi Pari menginspirasi bentuk sanggul pengantin wanita yang diberi nama gelung keling. Bentuk klap bahu terinspirasi dari peninggalan di Candi Dermo.

“Kita melihat bentuknya seperti Garudeya dalam prasasti Erlangga. Kita memakai bentuk itu untuk klap bahu,” katanya yang juga ketua bidang penelitian dan pengembangan Harpi “Melati” Sidoarjo ini.

Sedangkan jamang atau mahkota pengantin wanita terinspirasi dari situs Candi Dermo.

Berangkat dari penemuan itulah, akhirnya dijadikan dasar pelengkap busana pengantin Putri Jenggolo. Sementara itu pengantin pria menggunakan udeng pacul gowang seperti yang dipakai orang orang dimasa Kerajaan Jenggala saat itu.

Untuk baju atasan warnanya hampir sama seperti adat Solo dan Yogya. Berwarna hitam. Perbedaanya, ada motif bunga tanjung yang menyebar di seluruh sudut baju. Sedangkan di bagian dada, secara vertikal membentang motif bunga cempaka.

Kakek moyang Dirman pernah berkata bahwasanya saat Kerjaan Jenggala, Sidoarjo dihiasi bunga campaka, lalu berganti bunga kecik tanjung.

“Bunga tanjung memiliki aroma harum sepanjang hari. Kalau cempaka wanginya melebihi bunga tanjung. Raja dulu mengenal bunga sebagai wewangian,” imbuhnya.
Sedangkan kain bawahan, bermotif rawa bang-bangan. Dikatakan demikian karena kisah sejarah Jenggala.

Dimana kerjaan Jenggala tidak pernah merasakan ketenangan. Selalu terjadi perang saudara antar dua Kerjaan Jenggala Manik atau di Sidoarjo dan Kerajaan Dhaha di Kediri. “Petinggi di dua kerajaan ini, anak Erlangga dari Majapahit,” pungkasnya. (*/opi)

 

Melestarikan Baju Pengantin Khas Sidoarjo (1)

29 Agustus 2006 atau 14 tahun sudah baju pengantin Putri Jenggolo dikukuhkan. Proses panjang harus dilalui DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia “Melati” Sidoarjo, (Harpi Melati) untuk mencari jati diri dan pijakan ornamen yang ada dalam sepasang busana tersebut.

Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo

Setidaknya perlu waktu 20 tahun bagi mereka bisa menemukan bentuk aksesoris, motif, warna busana yang pas untuk diaplikasikan.

Sepasang suami istri, Sudirman dan Sri Hastuti pengurus di Harpi “Melati” Sidoarjo ini menceritakan ada keinginan dari Ketua Harpi “Melati” Sidoarjo agar Sidoarjo punya baju pengantin yang otentik. Melihat Surabaya, Mojokerto sudah punya baju pengantin khasnya, mengapa tidak jika Sidoarjo juga punya baju pengantin sendiri.

Dirman sapaan akrab Sudirman mengatakan sebelumnya pernah ada rancangan dari perias di Krian. Namun masih cenderung ke adat Solo dan Yogya. Setelah meminta izin akhirnya bentuk awal busana pengantin Sidoarjo tersebut disempurnakan anggota Harpi.

Langkahnya dengan mengunjungi situs peninggalan kerajaan Jenggala. Mereka pergi ke Candi Dermo, Candi Pari, Candi Sumur dan candi lainnya. Satu per satu candi mereka datangi. Arca dan relief pada candi diperhatikan dengan seksama.

Salah satu peninggalan di Candi Pari menginspirasi bentuk sanggul pengantin wanita yang diberi nama gelung keling. Bentuk klap bahu terinspirasi dari peninggalan di Candi Dermo.

“Kita melihat bentuknya seperti Garudeya dalam prasasti Erlangga. Kita memakai bentuk itu untuk klap bahu,” katanya yang juga ketua bidang penelitian dan pengembangan Harpi “Melati” Sidoarjo ini.

Sedangkan jamang atau mahkota pengantin wanita terinspirasi dari situs Candi Dermo.

Berangkat dari penemuan itulah, akhirnya dijadikan dasar pelengkap busana pengantin Putri Jenggolo. Sementara itu pengantin pria menggunakan udeng pacul gowang seperti yang dipakai orang orang dimasa Kerajaan Jenggala saat itu.

Untuk baju atasan warnanya hampir sama seperti adat Solo dan Yogya. Berwarna hitam. Perbedaanya, ada motif bunga tanjung yang menyebar di seluruh sudut baju. Sedangkan di bagian dada, secara vertikal membentang motif bunga cempaka.

Kakek moyang Dirman pernah berkata bahwasanya saat Kerjaan Jenggala, Sidoarjo dihiasi bunga campaka, lalu berganti bunga kecik tanjung.

“Bunga tanjung memiliki aroma harum sepanjang hari. Kalau cempaka wanginya melebihi bunga tanjung. Raja dulu mengenal bunga sebagai wewangian,” imbuhnya.
Sedangkan kain bawahan, bermotif rawa bang-bangan. Dikatakan demikian karena kisah sejarah Jenggala.

Dimana kerjaan Jenggala tidak pernah merasakan ketenangan. Selalu terjadi perang saudara antar dua Kerjaan Jenggala Manik atau di Sidoarjo dan Kerajaan Dhaha di Kediri. “Petinggi di dua kerajaan ini, anak Erlangga dari Majapahit,” pungkasnya. (*/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/