alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 30 July 2021

Komunitas Garda Wilwatikta Padukan Cerita Rakyat dengan Sejarah

SIDOARJO – Komunitas Garda Wilwatikta menjadi salah satu pegiat sejarah yang aktif sampai saat ini. Mereka gentol untuk menelusuri jejak-jejak peradaban Majapahit.

Hendrik Muchlison/Wartawan Radar Sidoarjo

Ketua Komunitas Agus Subandriyo menceritakan, komunitas ini berdiri sejak 2015 lalu. Komunitas lahir karena prihatin melihat kondisi sejarah dan warisan budaya khususnya di Sidoarjo.

Banyak jejak-jejak peradaban itu mulai hilang lantaran tak terawat dengan baik. “Anggota yang aktif paling sisa lima orang,” katanya.

Karena dasar itulah, para anggota komunitas mulai menelusuri sejumlah tempat yang diduga memiliki warisan peradaban sejak 2015. Tempat-tempat yang biasa ditelusuri seperti makam, punden, hingga pesawahan.

Biasanya para anggota komunitas akan menelusuri tempat bermodalkan cerita rakyat. Cerita-cerita itu akan dipadukan dengan data sejarah hingga artefak-artefak yang memiliki keterkaitan cerita.

Upaya dari komunitas itupun juga membuahkan hasil. Anggota banyak menemukan benda-benda kuno yang diduga kuat memiliki nilai sejarah. Misalnya, saja batu umpak, batu saluran air, batu bata besar, hingga pecahan keramik dan gerabah. Sebagian dari temuan itu juga disimpan di Museum Alas Trik, Tarik.

Agus menerangkan, nama Garda Wilwatikta diangkat atas dasar semangat kegiatan komunitas. Garda artinya pasukan, sementara Wilwatikta adalah nama lain dari Majapahit. Memang, komunitas ini juga memiliki atensi tersendiri dengan jejak-jejak kerajaan Majapahit.

Dalam perjalanan penelusuran, anggota komunitas juga memiliki beragam tantangan. Mulai dari respon desa yang kurang positif hingga minimnya informasi sejarah tentang situs atau artefak yang ditemukan.

Garda Wilwatikta juga memiliki cara untuk bisa melestarikan perjuangannya menelusuri jejak peradaban. Yakni dengan memanfaatkan media sosial seperti blog, YouTube hingga Facebook untuk mempublikasikan kegiatannya.

Bahkan, komunitas juga telah menerbitkan buku tentang perjalannnya. Bukunya berjudul Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan. “Ada di perpustakaan provinsi,” pungkas Agus. (*/vga)

SIDOARJO – Komunitas Garda Wilwatikta menjadi salah satu pegiat sejarah yang aktif sampai saat ini. Mereka gentol untuk menelusuri jejak-jejak peradaban Majapahit.

Hendrik Muchlison/Wartawan Radar Sidoarjo

Ketua Komunitas Agus Subandriyo menceritakan, komunitas ini berdiri sejak 2015 lalu. Komunitas lahir karena prihatin melihat kondisi sejarah dan warisan budaya khususnya di Sidoarjo.

Banyak jejak-jejak peradaban itu mulai hilang lantaran tak terawat dengan baik. “Anggota yang aktif paling sisa lima orang,” katanya.

Karena dasar itulah, para anggota komunitas mulai menelusuri sejumlah tempat yang diduga memiliki warisan peradaban sejak 2015. Tempat-tempat yang biasa ditelusuri seperti makam, punden, hingga pesawahan.

Biasanya para anggota komunitas akan menelusuri tempat bermodalkan cerita rakyat. Cerita-cerita itu akan dipadukan dengan data sejarah hingga artefak-artefak yang memiliki keterkaitan cerita.

Upaya dari komunitas itupun juga membuahkan hasil. Anggota banyak menemukan benda-benda kuno yang diduga kuat memiliki nilai sejarah. Misalnya, saja batu umpak, batu saluran air, batu bata besar, hingga pecahan keramik dan gerabah. Sebagian dari temuan itu juga disimpan di Museum Alas Trik, Tarik.

Agus menerangkan, nama Garda Wilwatikta diangkat atas dasar semangat kegiatan komunitas. Garda artinya pasukan, sementara Wilwatikta adalah nama lain dari Majapahit. Memang, komunitas ini juga memiliki atensi tersendiri dengan jejak-jejak kerajaan Majapahit.

Dalam perjalanan penelusuran, anggota komunitas juga memiliki beragam tantangan. Mulai dari respon desa yang kurang positif hingga minimnya informasi sejarah tentang situs atau artefak yang ditemukan.

Garda Wilwatikta juga memiliki cara untuk bisa melestarikan perjuangannya menelusuri jejak peradaban. Yakni dengan memanfaatkan media sosial seperti blog, YouTube hingga Facebook untuk mempublikasikan kegiatannya.

Bahkan, komunitas juga telah menerbitkan buku tentang perjalannnya. Bukunya berjudul Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan. “Ada di perpustakaan provinsi,” pungkas Agus. (*/vga)


Berita HITS

Berita Terbaru

Trending Tags