alexametrics
24 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Lestarikan Seni Tari, Dekesda Buat Film Dokudrama “Remo Namaku”

SIDOARJO – Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) berupaya melestarikan “Tari Remo” dengan cara kekinian. Yakni dengan membuat film dokudrama.

Film dengan judul “Remo Namaku” itu juga disesuaikan dengan pasar kaum milenial. Yakni dikemas dengan genre drama roman yang kini cukup diminati kaum remaja.

Ketua Dekesda Ali Aspandi mengungkapkan, saat ini film tersebut juga masih dalam tahap pengerjaan. Tujuan pembuatan film tersebut jelas. Yakni berupaya melestarikan dan merawat Tari Remo. “Agar tetap eksis di masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Aspandi, film yang diproduseri oleh Iffa Suraiya itu juga dipersembahkan untuk maestro Munali Patah. Ia merupakan seniman legendaris yang berasal dari Kota Delta.

“Ini bentuk penghargaan kami kepada Munali Patah,” imbuhnya.

Agar lebih melekat dengan tokoh Munali Patah, film berdurasi 20 menit itu juga akan mengambil latar rumah maestro itu. Kemudian akan dikombinasikan dengan ikon yang ada di Sidoarjo. Salah satunya Monumen Jayandaru.

Aspandi menguraikan, konsep film itu akan mengisahkan filosofi Tari Remo sebagaimana yang diciptakan Munali Patah. Kemudian dipadukan dengan genre drama agar lebih disukai kaum milenial.

Rencananya film tersebut bakal dikenalkan saat festival Seni Munali Patah beberapa bulan mendatang. Harapannya dengan adanya film tersebut mampu meningkatkan kecintaan kaum muda khususnya dalam seni tari. (son/vga)

SIDOARJO – Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) berupaya melestarikan “Tari Remo” dengan cara kekinian. Yakni dengan membuat film dokudrama.

Film dengan judul “Remo Namaku” itu juga disesuaikan dengan pasar kaum milenial. Yakni dikemas dengan genre drama roman yang kini cukup diminati kaum remaja.

Ketua Dekesda Ali Aspandi mengungkapkan, saat ini film tersebut juga masih dalam tahap pengerjaan. Tujuan pembuatan film tersebut jelas. Yakni berupaya melestarikan dan merawat Tari Remo. “Agar tetap eksis di masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Aspandi, film yang diproduseri oleh Iffa Suraiya itu juga dipersembahkan untuk maestro Munali Patah. Ia merupakan seniman legendaris yang berasal dari Kota Delta.

“Ini bentuk penghargaan kami kepada Munali Patah,” imbuhnya.

Agar lebih melekat dengan tokoh Munali Patah, film berdurasi 20 menit itu juga akan mengambil latar rumah maestro itu. Kemudian akan dikombinasikan dengan ikon yang ada di Sidoarjo. Salah satunya Monumen Jayandaru.

Aspandi menguraikan, konsep film itu akan mengisahkan filosofi Tari Remo sebagaimana yang diciptakan Munali Patah. Kemudian dipadukan dengan genre drama agar lebih disukai kaum milenial.

Rencananya film tersebut bakal dikenalkan saat festival Seni Munali Patah beberapa bulan mendatang. Harapannya dengan adanya film tersebut mampu meningkatkan kecintaan kaum muda khususnya dalam seni tari. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/