alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Bertanggung Jawab Jadi Nilai Pribadi yang Dianggap Paling Penting

SIDOARJO – Untuk dapat memenuhi pembangunan nasional yang terintegrasi, penting bagi masyarakat mengetahui nilai-nilai yang penting baik secara individu ataupun kelompok. Dalam mengukur hal tersebut, Nenilai telah melakukan survei nilai kebangsaan.

Survei menggunakan metodologi Tujuh Jenjang Pendewasaan dari Richard Barrett yang mendasari pelaksanaan National Values Assessment (NVA) di seluruh dunia. Survei ini juga telah dilakukan di sedikitnya 25 negara mencakup Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika dan Australia, baik dijalankan oleh pemerintah maupun sebagai gerakan independen.

Hasil survei Nenilai ini akan dikomunikasikan kepada publik sebagai percakapan sosial dan menjadi basis untuk pembangunan berkelanjutan. Dalam survei yang dilakukan, setiap responden diminta untuk menjawab 10 dari sekitar 60-70 pilihan kata yang menggambarkan nilai, perilaku, prinsip hidup yang mencakup personal values. Yaitu 10 nilai perilaku atau prinsip hidup yang paling mencerminkan diri sendiri, Current National Values yang merupakan nilai perilaku atau prinsip hidup yang hidup di bangsa Indonesia, terakhir adalah Desired National Culture Values tentang 10 nilai yang penting bagi Indonesia untuk mencapai potensi tertinggi.

Hasil survei menunjukan, nilai pribadi yang dianggap paling penting yaitu bertanggung jawab sebanyak 51 persen. Sedangkan untuk nilai-nilai budaya saat ini yang dianggap paling penting adalah gotong royong sebanyak 39 persen. Untuk nilai-nilai budaya yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia adalah adil/keadilan sebanyak 69 persen.

Salah satu penggagas Nenilai yaitu Dayalima, sebuah perusahaan konsultan di bidang Transformasi organisasi dan pengembangan kepemimpinan, menjelaskan bahwa survei ini membantu mereka mewujudkan visi Dayalima dalam mencetak pemimpin planet baru (Leaders of A New Planet).

“Kami di Dayalima beberapa tahun belakangan merasakan adanya banyak perbedaan dan gesekan di sebagian masyarakat Indonesia akibat perbedaan yang ada. Untuk itu, dalam membantu organisasi memahami budaya perusahaan, kami juga menanamkan nilai-nilai budaya ini pada setiap individu di organisasi tersebut. Hal ini kami lakukan, karena selain bermanfaat bagi sebuah organisasi atau perusahaan, nilai-nilai ini juga bisa dibawa oleh individu untuk bersosialisasi di masyarakat sehingga terjaga keberlangsungan manusia dan lingkungan hidupnya,” ungkap Meike Malaon, Director Dayalima Abisatya, dalam penjelasan secara daring, kemarin (9/6).

Azis Armand, Vice President Director and CEO PT Indika Energy Tbk. menambahkan pentingnya mengimplementasikan values sebagai nilai-nilai dasar dan landasan perusahaan. Indika Energy Group sebelumnya juga melakukan inisiatif Cultural Value Assessment (CVA), yang berupaya menyelaraskan nilai-nilai pribadi dengan nilai-nilai organisasi.

“Indonesia bisa maju dan berkembang jika memiliki sumberdaya yang cerdas, sehat, berkarakter kuat dengan nurani yang luhur. Untuk itu kami percaya dengan nilai-nilai perusahaan, keahlian dan kapabilitas anak bangsa yang mumpuni serta kemauan untuk beradaptasi, Indika Energy dapat terus berkembang menjadi organisasi yang berkontribusi lebih bagi keberlanjutan Indonesia”, ungkap Azis Armand.

Penemuan insight dan kearifan lokal dari Nenilai juga telah menjadi ujung tombak bagi Pantarei yang merupakan salah satu penggagas Nenilai. Semenjak awal sepak terjangnya, Pantarei dibangun dengan tujuan menyentuh hati masyarakat Indonesia melalui komunikasi dan brand-building yang terasa dekat bagi mereka. Hal ini dicapai melalui keterampilan komunikasi yang didasari pemahaman mendalam terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia untuk klien-klien Pantarei.

“Sebagai perusahaan yang besar dari aspek keIndonesiaan (Made of Indonesia) dan berkarya untuk menanam brand dalam benak dan hati masyarakat Indonesia, kami menemukan bahwa inisiatif Nenilai menaruh kepedulian yang besar terhadap hal yang sama dengan kami: budaya, perilaku, dan nilai dalam masyarakat Indonesia”, ungkap Suryani Asikin, CEO Pantarei.

Nenilai merupakan gerakan inisiatif dari lima penggagas Indonesia sebagai penggerak awal yang terdiri dari Bappenas, Indika Energy, Dayalima Abisatya, Pantarei dan Stoik Trisula. Nenilai memiliki fungsi untuk memonitor pemenuhan nilai, tingkat kebahagiaan, pemahaman atas diri sendiri, tingkat kematangan dan kedewasaan, serta kualitas hidup masyarakat. (sda/opi)

 

SIDOARJO – Untuk dapat memenuhi pembangunan nasional yang terintegrasi, penting bagi masyarakat mengetahui nilai-nilai yang penting baik secara individu ataupun kelompok. Dalam mengukur hal tersebut, Nenilai telah melakukan survei nilai kebangsaan.

Survei menggunakan metodologi Tujuh Jenjang Pendewasaan dari Richard Barrett yang mendasari pelaksanaan National Values Assessment (NVA) di seluruh dunia. Survei ini juga telah dilakukan di sedikitnya 25 negara mencakup Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika dan Australia, baik dijalankan oleh pemerintah maupun sebagai gerakan independen.

Hasil survei Nenilai ini akan dikomunikasikan kepada publik sebagai percakapan sosial dan menjadi basis untuk pembangunan berkelanjutan. Dalam survei yang dilakukan, setiap responden diminta untuk menjawab 10 dari sekitar 60-70 pilihan kata yang menggambarkan nilai, perilaku, prinsip hidup yang mencakup personal values. Yaitu 10 nilai perilaku atau prinsip hidup yang paling mencerminkan diri sendiri, Current National Values yang merupakan nilai perilaku atau prinsip hidup yang hidup di bangsa Indonesia, terakhir adalah Desired National Culture Values tentang 10 nilai yang penting bagi Indonesia untuk mencapai potensi tertinggi.

Hasil survei menunjukan, nilai pribadi yang dianggap paling penting yaitu bertanggung jawab sebanyak 51 persen. Sedangkan untuk nilai-nilai budaya saat ini yang dianggap paling penting adalah gotong royong sebanyak 39 persen. Untuk nilai-nilai budaya yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia adalah adil/keadilan sebanyak 69 persen.

Salah satu penggagas Nenilai yaitu Dayalima, sebuah perusahaan konsultan di bidang Transformasi organisasi dan pengembangan kepemimpinan, menjelaskan bahwa survei ini membantu mereka mewujudkan visi Dayalima dalam mencetak pemimpin planet baru (Leaders of A New Planet).

“Kami di Dayalima beberapa tahun belakangan merasakan adanya banyak perbedaan dan gesekan di sebagian masyarakat Indonesia akibat perbedaan yang ada. Untuk itu, dalam membantu organisasi memahami budaya perusahaan, kami juga menanamkan nilai-nilai budaya ini pada setiap individu di organisasi tersebut. Hal ini kami lakukan, karena selain bermanfaat bagi sebuah organisasi atau perusahaan, nilai-nilai ini juga bisa dibawa oleh individu untuk bersosialisasi di masyarakat sehingga terjaga keberlangsungan manusia dan lingkungan hidupnya,” ungkap Meike Malaon, Director Dayalima Abisatya, dalam penjelasan secara daring, kemarin (9/6).

Azis Armand, Vice President Director and CEO PT Indika Energy Tbk. menambahkan pentingnya mengimplementasikan values sebagai nilai-nilai dasar dan landasan perusahaan. Indika Energy Group sebelumnya juga melakukan inisiatif Cultural Value Assessment (CVA), yang berupaya menyelaraskan nilai-nilai pribadi dengan nilai-nilai organisasi.

“Indonesia bisa maju dan berkembang jika memiliki sumberdaya yang cerdas, sehat, berkarakter kuat dengan nurani yang luhur. Untuk itu kami percaya dengan nilai-nilai perusahaan, keahlian dan kapabilitas anak bangsa yang mumpuni serta kemauan untuk beradaptasi, Indika Energy dapat terus berkembang menjadi organisasi yang berkontribusi lebih bagi keberlanjutan Indonesia”, ungkap Azis Armand.

Penemuan insight dan kearifan lokal dari Nenilai juga telah menjadi ujung tombak bagi Pantarei yang merupakan salah satu penggagas Nenilai. Semenjak awal sepak terjangnya, Pantarei dibangun dengan tujuan menyentuh hati masyarakat Indonesia melalui komunikasi dan brand-building yang terasa dekat bagi mereka. Hal ini dicapai melalui keterampilan komunikasi yang didasari pemahaman mendalam terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia untuk klien-klien Pantarei.

“Sebagai perusahaan yang besar dari aspek keIndonesiaan (Made of Indonesia) dan berkarya untuk menanam brand dalam benak dan hati masyarakat Indonesia, kami menemukan bahwa inisiatif Nenilai menaruh kepedulian yang besar terhadap hal yang sama dengan kami: budaya, perilaku, dan nilai dalam masyarakat Indonesia”, ungkap Suryani Asikin, CEO Pantarei.

Nenilai merupakan gerakan inisiatif dari lima penggagas Indonesia sebagai penggerak awal yang terdiri dari Bappenas, Indika Energy, Dayalima Abisatya, Pantarei dan Stoik Trisula. Nenilai memiliki fungsi untuk memonitor pemenuhan nilai, tingkat kebahagiaan, pemahaman atas diri sendiri, tingkat kematangan dan kedewasaan, serta kualitas hidup masyarakat. (sda/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/