alexametrics
30.1 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Kasus Kekerasan Perempuan-Anak Tinggi, Perlu Program Kolaboratif

SIDOARJO – Komisi D DPRD Sidoarjo menaruh perhatian terhadap tingginya angka kekerasan terhadap anak di Sidoarjo. Guna menekan angka kekerasan itu, Komisi D juga mendukung langkah salah satu kelompok sosial atau yayasan yang bakal meneliti keunikan kekerasan anak di Sidoarjo.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Dhamroni Chudlori selepas hearing dengan perwakilan yayasan, Rabu (21/4). Dalam pertemuan itu juga turut hadir Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Sidoarjo.

Dhamroni menerangkan, kasus kekerasan anak tentu harus menjadi perhatian bersama. Karena anak adalah generasi penerus bangsa.”Maksud yayasan itu mau penelitian tentang kekerasan pada anak di dua titik, Desa Jemundo Kecamatan Taman dan Desa Candi Pari Kecamatan Porong,” katanya.

Tentu hasil penelitian itu bakal menjadi salah satu pertimbangan untuk mencari solusi soal kekerasan anak. Sehingga langkah dari kelompok tersebut patut diwadahi.

Dalam kesempatan itu, Dhamroni menyarankan agar kelompok tersebut juga bisa berkolaborasi dengan Dinas P3AKB. “Termasuk kami dorong juga audienci dengan bupati,” imbuhnya.

Di lain pihak, Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo, Ainun Amaliyah mengakui jika angka kekerasan pada perempuan dan anak memang tinggi. Apalagi saat masa pandemi di Sidoarjo. “Tahun 2020 saja, dinas mencatat ada 140 kasus kekerasan yang terjadi,” sebutnya.

Ainun juga mengharapkan, pihak yayasan bisa bekerja sama dengan Dinas P3AKB untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi mendalam guna meminimalisir kemungkinan terjadinya kekerasan. “Jadi kolaborasi,” tuturnya. (son/opi)

SIDOARJO – Komisi D DPRD Sidoarjo menaruh perhatian terhadap tingginya angka kekerasan terhadap anak di Sidoarjo. Guna menekan angka kekerasan itu, Komisi D juga mendukung langkah salah satu kelompok sosial atau yayasan yang bakal meneliti keunikan kekerasan anak di Sidoarjo.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Dhamroni Chudlori selepas hearing dengan perwakilan yayasan, Rabu (21/4). Dalam pertemuan itu juga turut hadir Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Sidoarjo.

Dhamroni menerangkan, kasus kekerasan anak tentu harus menjadi perhatian bersama. Karena anak adalah generasi penerus bangsa.”Maksud yayasan itu mau penelitian tentang kekerasan pada anak di dua titik, Desa Jemundo Kecamatan Taman dan Desa Candi Pari Kecamatan Porong,” katanya.

Tentu hasil penelitian itu bakal menjadi salah satu pertimbangan untuk mencari solusi soal kekerasan anak. Sehingga langkah dari kelompok tersebut patut diwadahi.

Dalam kesempatan itu, Dhamroni menyarankan agar kelompok tersebut juga bisa berkolaborasi dengan Dinas P3AKB. “Termasuk kami dorong juga audienci dengan bupati,” imbuhnya.

Di lain pihak, Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo, Ainun Amaliyah mengakui jika angka kekerasan pada perempuan dan anak memang tinggi. Apalagi saat masa pandemi di Sidoarjo. “Tahun 2020 saja, dinas mencatat ada 140 kasus kekerasan yang terjadi,” sebutnya.

Ainun juga mengharapkan, pihak yayasan bisa bekerja sama dengan Dinas P3AKB untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi mendalam guna meminimalisir kemungkinan terjadinya kekerasan. “Jadi kolaborasi,” tuturnya. (son/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/