alexametrics
27 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Sebanyak 10 Tamping di Rutan Medaeng Dites Urine

SIDOARJO – Rutan Kelas 1 Surabaya di Medaeng kembali melakukan tes urine kepada tahanan pendamping (tamping) Gereja Efesus Rutan Medaeng. Kegiatan tersebut digelar secara mendadak untuk mengetahui kondisi para tamping gereja di rutan berkapasitas 504 narapidana itu.

Kasi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas 1 Surabaya Ahmad Nuri Dhuka mengatakan, ada 10 tamping gereja yang ikut dalam tes urine itu. Mereka diminta untuk mengikuti tes urine, tanpa ada proses pemberitahuan sebelumnya. “Ada 10 orang yang langsung kami minta tes urine bersama petugas kesehatan,” katanya, Kamis (17/9).

Kegiatan itu digelar saat siang hari. Hasilnya mereka negatif dari zat apapun. Menurutnya kegiatan itu merupakan wujud dari program pembinaan. Selain itu juga sebuah kontrol terhadap warga binaan, terutama tamping agar tetap konsisten untuk berubah menjadi lebih baik. “Mengapa mendadak, karena agar kami bisa mengetahui kebenarannya hasilnya, sebab kami ingin tamping gereja agar bisa menjadi contoh bagi warga binaan yang lain,” jelas Dhuka.

Tes urine akan dilakukan setiap dua bulan sekali secara mendadak. Sasarannya seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang kini dihuni 2.000 lebih WBP itu. WBP yang hendak masuk dalam program asimilasi hingga yang usul pembebasan bersyarat juga tak luput dari kegiatan itu. “Jadi misalnya ada yang positif, maka mereka tidak akan bisa diusulkan untuk ikut dapat program-program itu, termasuk bebas bersyarat,” jelasnya. (far/vga)

SIDOARJO – Rutan Kelas 1 Surabaya di Medaeng kembali melakukan tes urine kepada tahanan pendamping (tamping) Gereja Efesus Rutan Medaeng. Kegiatan tersebut digelar secara mendadak untuk mengetahui kondisi para tamping gereja di rutan berkapasitas 504 narapidana itu.

Kasi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas 1 Surabaya Ahmad Nuri Dhuka mengatakan, ada 10 tamping gereja yang ikut dalam tes urine itu. Mereka diminta untuk mengikuti tes urine, tanpa ada proses pemberitahuan sebelumnya. “Ada 10 orang yang langsung kami minta tes urine bersama petugas kesehatan,” katanya, Kamis (17/9).

Kegiatan itu digelar saat siang hari. Hasilnya mereka negatif dari zat apapun. Menurutnya kegiatan itu merupakan wujud dari program pembinaan. Selain itu juga sebuah kontrol terhadap warga binaan, terutama tamping agar tetap konsisten untuk berubah menjadi lebih baik. “Mengapa mendadak, karena agar kami bisa mengetahui kebenarannya hasilnya, sebab kami ingin tamping gereja agar bisa menjadi contoh bagi warga binaan yang lain,” jelas Dhuka.

Tes urine akan dilakukan setiap dua bulan sekali secara mendadak. Sasarannya seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang kini dihuni 2.000 lebih WBP itu. WBP yang hendak masuk dalam program asimilasi hingga yang usul pembebasan bersyarat juga tak luput dari kegiatan itu. “Jadi misalnya ada yang positif, maka mereka tidak akan bisa diusulkan untuk ikut dapat program-program itu, termasuk bebas bersyarat,” jelasnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/