alexametrics
25 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Rumah Tak Kunjung Dibangun, Pembeli Lapor Polisi

SIDOARJO – Dugaan penipuan perumahan fiktif kembali memakan korban. Kali ini menimpa Widiyanti, warga asal Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. Akibatnya, keinginan untuk membeli rumah di perumahan Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, harus pupus.

Wakasat Reskrim Polresta Sidoarjo AKP Imam Yuwono mengatakan, korban awalnya mendapat brosur dari marketing perumahan itu. Brosur itu berisi sebuah penawaran pembelian rumah di perum yang ada di Desa Suruh. Setelah melihat brosur, korban lalu tertarik untuk membelinya. “Setelah melihat harga dan lokasi, korban tertarik untuk membeli perumahan yang ada di Sukodono itu,” katanya, Kamis (17/9).

Harga satu unit rumah itu mencapai Rp 435 juta. Korban lalu langsung membayar tanda jadi pembelian senilai Rp 1,5 juta sekitar pertengahan September 2019. Kemudian di akhir September 2019, korban membayar lagi Rp 25 juta kepada developer perumahan.

Tak hanya itu, pada akhir Oktober 2019, korban mengangsur lagi sebanyak Rp 25 juta. Jika ditotal sudah mencapai Rp 51,5 juta. Namun hingga September tahun ini perumahan yang dimaksud tak kunjung dibangun. Padahal perjanjian awal rumah yang dimaksud akan segera dibangun. “Akhirnya korban kemarin melapor ke Mapolresta Sidoarjo atas dugaan penipuan penjualan rumah,” ujar Imam Yuwono.

Korban juga sempat menanyakan hal itu kepada Pemdes Suruh. Hasilnya lahan yang dimaksud akan dijadikan perumahan masih menjadi milik warga. Belum ada transaksi jual beli. Imam mengaku jika sudah ada beberapa laporan terkait perumahan itu. “Kami masih menyelidiki terkait pemilik pengembang perumahan tersebut,” jelasnya. (far/nis)

SIDOARJO – Dugaan penipuan perumahan fiktif kembali memakan korban. Kali ini menimpa Widiyanti, warga asal Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. Akibatnya, keinginan untuk membeli rumah di perumahan Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, harus pupus.

Wakasat Reskrim Polresta Sidoarjo AKP Imam Yuwono mengatakan, korban awalnya mendapat brosur dari marketing perumahan itu. Brosur itu berisi sebuah penawaran pembelian rumah di perum yang ada di Desa Suruh. Setelah melihat brosur, korban lalu tertarik untuk membelinya. “Setelah melihat harga dan lokasi, korban tertarik untuk membeli perumahan yang ada di Sukodono itu,” katanya, Kamis (17/9).

Harga satu unit rumah itu mencapai Rp 435 juta. Korban lalu langsung membayar tanda jadi pembelian senilai Rp 1,5 juta sekitar pertengahan September 2019. Kemudian di akhir September 2019, korban membayar lagi Rp 25 juta kepada developer perumahan.

Tak hanya itu, pada akhir Oktober 2019, korban mengangsur lagi sebanyak Rp 25 juta. Jika ditotal sudah mencapai Rp 51,5 juta. Namun hingga September tahun ini perumahan yang dimaksud tak kunjung dibangun. Padahal perjanjian awal rumah yang dimaksud akan segera dibangun. “Akhirnya korban kemarin melapor ke Mapolresta Sidoarjo atas dugaan penipuan penjualan rumah,” ujar Imam Yuwono.

Korban juga sempat menanyakan hal itu kepada Pemdes Suruh. Hasilnya lahan yang dimaksud akan dijadikan perumahan masih menjadi milik warga. Belum ada transaksi jual beli. Imam mengaku jika sudah ada beberapa laporan terkait perumahan itu. “Kami masih menyelidiki terkait pemilik pengembang perumahan tersebut,” jelasnya. (far/nis)

Most Read

Berita Terbaru


/