alexametrics
31 C
Sidoarjo
Sunday, 26 June 2022

Penyelundupan 30.911 Benih Lobster di Bandara Juanda Berhasil Digagalkan

SIDOARJO – Upaya penyelundupan sebanyak 30.911 ekor benih bening lobster (BBL) berhasil digagalkan petugas gabungan di Terminal 2 keberangkatan Bandara Internasional Juanda. Satu pelaku berhasil diamankan petugas.

Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Heru Prasetyo mengatakan, upaya penyelundupan BBL tersebut diketahui oleh petugas intelijen pada Kamis (12/5) lalu. Ada informasi pengiriman BBL dari Surabaya dengan tujuan Singapura.

Mengetahui informasi itu, para petugas dari Satgaspam Bandara Juanda, Bea Cukai, Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya, BKIPM Surabaya I, PT Angkasa Pura I (Persero), dan Otoritas Bandara Wilayah III Surabaya mulai memperketat pengawasan.

“Jadi para petugas langsung memperketat pengawasan di area keberangkatan dengan membagi sektor operasi,” katanya, Selasa (17/5) di Meeting Point Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.

Petugas mencurigai seorang penumpang bernisial ST beserta barang bawaannya. Dia membawa koper dan tas ransel yang merupakan target operasi. ST merupakan warga Sidoarjo dan menjadi penumpang pesawat Scoot Air TR263 tujuan Surabaya-Singapura.

Saat diperiksa, petugas gabungan berhasil mendapatkan 41 kantong BBL. Sebanyak 23 kantong diketahui disembunyikan dalam koper dan 18 kantong disembunyikan dalam tas ransel tanpa dokumen resmi. Jika dihitung, BBL itu berjumlah 30.911 ekor, yang terdiri dari dua jenis benih lobster.

BBL jenis mutiara sebanyak 4.016 ekor yang tersimpan dalam delapan kantong plastik. Masing-masing plastik berisi 502 ekor. Ada pula BBL jenis pasir yang tersimpan dalam 13 kantong plastik kecil. Setiap plastik berisi 715 ekor dengan total 9.295 ekor.

“Juga tersimpan di kantong plastik besar sebanyak 20 kantong. Masing-masing kantong berisi 880 ekor dengan jumlah keseluruhan mencapai 17.600 ekor,” imbuh Heru.

Meski begitu, petugas masih melakukan penyidikan lanjutan terhadap upaya penyelundupan tersebut. Hingga saat ini, masih belum diketahui asal BBL termasuk siapa pelaku utamanya. “Seluruh informasi masih terputus dan masih terus ditindak lanjuti,” tegasnya.

Atas perbuatannya, ST diduga melanggar Pasal 102A UU No 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU No 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Ancamannya pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun.

“Selain itu, pidana denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar,” jelas Heru.

Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Surabaya 1 Suprayogi mengatakan, sejatinya benih lobster boleh ditangkap. Namun sesuai dengan aturan yang ada hanya boleh dibudidayakan di Indonesia.

Sementara sebagian barang bukti yang berhasil diamankan telah dikirim ke Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) untuk diteliti dan untuk dibudidayakan.

“Kalau dulu kan enggak boleh ditangkap. Sekarang boleh tapi harus dibudidayakan di wilayah Indonesia,” paparnya.

Sehingga jika ada masyarakat yang membawa baby lobster, maka harus punya surat keterangan asal barang. Surat itu dikeluarkan eleh Dinas Perikanan kabupaten setempat. Sehingga dilarang untuk diekspor ke luar wilayah Indonesia.

“Boleh kalau keluar, tapi setelah ukuran 150 gram untuk lobster jenis pasir, dan di atas 200 gram untuk jenis mutiara. Nah, ini baru boleh diekspor. Ketentuannya seperti itu,” katanya.

Kepala Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I, Padmoyo Tri Wikanto menyebut, pelarangan ekspor baby lobster bukan tanpa alasan. Hal tersebut agar nilai ekonominya ada di Indonesia. Sehingga dari ketentuan yang ada wajib dibudidayakan di wilayah Indonesia kecuali jika sudah mencapai batas ukuran tertentu.

“Kalau mengenai tindak lanjut, kami sudah tetapkan tersangkanya. Tapi ini penyidikan masih terus berlanjut. Kami report terus nanti perkembangannya dan berkasnya,” jelasnya. (far/vga)

SIDOARJO – Upaya penyelundupan sebanyak 30.911 ekor benih bening lobster (BBL) berhasil digagalkan petugas gabungan di Terminal 2 keberangkatan Bandara Internasional Juanda. Satu pelaku berhasil diamankan petugas.

Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Heru Prasetyo mengatakan, upaya penyelundupan BBL tersebut diketahui oleh petugas intelijen pada Kamis (12/5) lalu. Ada informasi pengiriman BBL dari Surabaya dengan tujuan Singapura.

Mengetahui informasi itu, para petugas dari Satgaspam Bandara Juanda, Bea Cukai, Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya, BKIPM Surabaya I, PT Angkasa Pura I (Persero), dan Otoritas Bandara Wilayah III Surabaya mulai memperketat pengawasan.

“Jadi para petugas langsung memperketat pengawasan di area keberangkatan dengan membagi sektor operasi,” katanya, Selasa (17/5) di Meeting Point Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.

Petugas mencurigai seorang penumpang bernisial ST beserta barang bawaannya. Dia membawa koper dan tas ransel yang merupakan target operasi. ST merupakan warga Sidoarjo dan menjadi penumpang pesawat Scoot Air TR263 tujuan Surabaya-Singapura.

Saat diperiksa, petugas gabungan berhasil mendapatkan 41 kantong BBL. Sebanyak 23 kantong diketahui disembunyikan dalam koper dan 18 kantong disembunyikan dalam tas ransel tanpa dokumen resmi. Jika dihitung, BBL itu berjumlah 30.911 ekor, yang terdiri dari dua jenis benih lobster.

BBL jenis mutiara sebanyak 4.016 ekor yang tersimpan dalam delapan kantong plastik. Masing-masing plastik berisi 502 ekor. Ada pula BBL jenis pasir yang tersimpan dalam 13 kantong plastik kecil. Setiap plastik berisi 715 ekor dengan total 9.295 ekor.

“Juga tersimpan di kantong plastik besar sebanyak 20 kantong. Masing-masing kantong berisi 880 ekor dengan jumlah keseluruhan mencapai 17.600 ekor,” imbuh Heru.

Meski begitu, petugas masih melakukan penyidikan lanjutan terhadap upaya penyelundupan tersebut. Hingga saat ini, masih belum diketahui asal BBL termasuk siapa pelaku utamanya. “Seluruh informasi masih terputus dan masih terus ditindak lanjuti,” tegasnya.

Atas perbuatannya, ST diduga melanggar Pasal 102A UU No 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU No 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Ancamannya pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun.

“Selain itu, pidana denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar,” jelas Heru.

Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Surabaya 1 Suprayogi mengatakan, sejatinya benih lobster boleh ditangkap. Namun sesuai dengan aturan yang ada hanya boleh dibudidayakan di Indonesia.

Sementara sebagian barang bukti yang berhasil diamankan telah dikirim ke Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) untuk diteliti dan untuk dibudidayakan.

“Kalau dulu kan enggak boleh ditangkap. Sekarang boleh tapi harus dibudidayakan di wilayah Indonesia,” paparnya.

Sehingga jika ada masyarakat yang membawa baby lobster, maka harus punya surat keterangan asal barang. Surat itu dikeluarkan eleh Dinas Perikanan kabupaten setempat. Sehingga dilarang untuk diekspor ke luar wilayah Indonesia.

“Boleh kalau keluar, tapi setelah ukuran 150 gram untuk lobster jenis pasir, dan di atas 200 gram untuk jenis mutiara. Nah, ini baru boleh diekspor. Ketentuannya seperti itu,” katanya.

Kepala Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I, Padmoyo Tri Wikanto menyebut, pelarangan ekspor baby lobster bukan tanpa alasan. Hal tersebut agar nilai ekonominya ada di Indonesia. Sehingga dari ketentuan yang ada wajib dibudidayakan di wilayah Indonesia kecuali jika sudah mencapai batas ukuran tertentu.

“Kalau mengenai tindak lanjut, kami sudah tetapkan tersangkanya. Tapi ini penyidikan masih terus berlanjut. Kami report terus nanti perkembangannya dan berkasnya,” jelasnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/