alexametrics
30 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Polresta Sidoarjo Terbitkan SP3 Kasus Kematian Aghita

SIDOARJO – Kasus kematian Aghita Cahyani, 14, menuai titik terang. Penyidikan terhadap kasus itu resmi dihentikan. Polresta Sidoarjo sudah menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3).

“Sudah diterbitkan SP3 terhadap kasus tersebut,” kata Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro, Kamis (4/11)

Dengan penerbitan SP3 itu, polisi tak mendalami lagi perkara yang mencuat sejak permintaan otopsi jenazah Aghita awal April lalu itu. Polisi akan kembali melakukan penyelidikan jika ada bukti baru di kemudian hari.

Sebelumnya, Kapolresta Wahyu Bintoro juga sempat mengungkapkan bahwa dari hasil otopsi terhadap jenazah Aghita, adalah tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuhnya. Hal itu juga jadi dasar penerbitan SP3.

Rolland E Potu, Tim Kuasa Hukum Ayah Agitha beberapa waktu lalu juga mengungkapkan, menunggu hasil kejelasan dari otopsi tersebut. Belum jelasnya hasil otopsi itu menjadi beban kliennya.

“Secara materi memang tidak bisa dihitung, tapi kerugian imateri pasti ada. Ini menyangkut harkat dan martabat juga,” katanya 21 Oktober lalu.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, anggota Polresta Sidoarjo membongkar makam Agitha Cahyani Putri, 14, di komplek pemakaman Praloyo, Sidoarjo, 2 April. Pembongkaran makam itu adalah permintaan dari ibu almarhum.

Ia melihat kejanggalan dalam kematian anaknya itu. Ada darah di hidung jenazah anaknya. Kemudian juga ada memar di dekat hidung sebelah kiri, serta bekas memar di pipi kiri.  Merasa janggal, ibu almarhum meminta ada otopsi. (son/vga)

SIDOARJO – Kasus kematian Aghita Cahyani, 14, menuai titik terang. Penyidikan terhadap kasus itu resmi dihentikan. Polresta Sidoarjo sudah menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3).

“Sudah diterbitkan SP3 terhadap kasus tersebut,” kata Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro, Kamis (4/11)

Dengan penerbitan SP3 itu, polisi tak mendalami lagi perkara yang mencuat sejak permintaan otopsi jenazah Aghita awal April lalu itu. Polisi akan kembali melakukan penyelidikan jika ada bukti baru di kemudian hari.

Sebelumnya, Kapolresta Wahyu Bintoro juga sempat mengungkapkan bahwa dari hasil otopsi terhadap jenazah Aghita, adalah tidak ada luka bekas penganiayaan di tubuhnya. Hal itu juga jadi dasar penerbitan SP3.

Rolland E Potu, Tim Kuasa Hukum Ayah Agitha beberapa waktu lalu juga mengungkapkan, menunggu hasil kejelasan dari otopsi tersebut. Belum jelasnya hasil otopsi itu menjadi beban kliennya.

“Secara materi memang tidak bisa dihitung, tapi kerugian imateri pasti ada. Ini menyangkut harkat dan martabat juga,” katanya 21 Oktober lalu.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, anggota Polresta Sidoarjo membongkar makam Agitha Cahyani Putri, 14, di komplek pemakaman Praloyo, Sidoarjo, 2 April. Pembongkaran makam itu adalah permintaan dari ibu almarhum.

Ia melihat kejanggalan dalam kematian anaknya itu. Ada darah di hidung jenazah anaknya. Kemudian juga ada memar di dekat hidung sebelah kiri, serta bekas memar di pipi kiri.  Merasa janggal, ibu almarhum meminta ada otopsi. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/