alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Air Tanah Jadi Masalah Stunting di Jabon

SIDOARJO – Kecamatan Jabon menjadi salah satu wilayah yang memiliki kasus stunting. DPRD Sidoarjo mendorong perbaikan infrastruktur menjadi perhatian untuk menekan angka stunting di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo drg. Syaf Satriawarman mengungkapkan jika salah satu sebab tingginya kasus stunting di Jabon adalah persoalan infrastruktur. “Air tanahnya banyak mengandung Pb,” terangnya.

Diketahui Jabon merupakan salah satu wilayah Kabupaten Sidoarjo yang dekat dengan laut. Tentu kualitas air juga berbeda dengan kawasan yang ada di tengah kota. “Pemberian gizi juga dilakukan di samping perbaikan infrastruktur,” sambungnya.

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Aditya Nindyatman mendorong Pemkab Sidoarjo mau terjun ke Kecamatan untuk memecahkan persoalan itu. “Pemkab Sidoarjo harus masuk ke Jabon dalam penyediaan infrastruktur,” sambung politikus PKS itu.

Kehadiran pemerintah daerah dalam penanggulangan infrastruktur diharapkan efektif dalam mengatasi permasalahan kesehatan itu. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Kalau dibiarkan juga bakal berdampak buruk pada generasi anak masa depan.

Sebagai wujud keseriusan dalam menanggulangi stunting, DPRD juga sepakat untuk mengalokasikan tambahan anggaran penanggulangan stunting di P APBD 2020. Hal itu diharapkan dapat mengoptimalkan penanggulangan stunting di Sidoarjo. “DPRD sudah meminta anggaran penanganan stunting untuk dinaikkan, tetapi nilainya berapa saya lupa,” tuturnya.

Dinas Kesehatan Sidoarjo juga sempat melakukan penelusuran terkait data stunting. Sedikitnya ada 31 desa di 5 kecamatan masih terdapat anak stunting.

Daerah itu, adalah delapan desa di Kecamatan Jabon, enam desa di Kecamatan Candi, empat desa di Kecamatan Buduran, tujuh desa di kecamatan Waru, lima desa di kecamatan Gedangan dan satu desa di kecamatan Balongbendo. (son/vga)

SIDOARJO – Kecamatan Jabon menjadi salah satu wilayah yang memiliki kasus stunting. DPRD Sidoarjo mendorong perbaikan infrastruktur menjadi perhatian untuk menekan angka stunting di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo drg. Syaf Satriawarman mengungkapkan jika salah satu sebab tingginya kasus stunting di Jabon adalah persoalan infrastruktur. “Air tanahnya banyak mengandung Pb,” terangnya.

Diketahui Jabon merupakan salah satu wilayah Kabupaten Sidoarjo yang dekat dengan laut. Tentu kualitas air juga berbeda dengan kawasan yang ada di tengah kota. “Pemberian gizi juga dilakukan di samping perbaikan infrastruktur,” sambungnya.

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Aditya Nindyatman mendorong Pemkab Sidoarjo mau terjun ke Kecamatan untuk memecahkan persoalan itu. “Pemkab Sidoarjo harus masuk ke Jabon dalam penyediaan infrastruktur,” sambung politikus PKS itu.

Kehadiran pemerintah daerah dalam penanggulangan infrastruktur diharapkan efektif dalam mengatasi permasalahan kesehatan itu. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Kalau dibiarkan juga bakal berdampak buruk pada generasi anak masa depan.

Sebagai wujud keseriusan dalam menanggulangi stunting, DPRD juga sepakat untuk mengalokasikan tambahan anggaran penanggulangan stunting di P APBD 2020. Hal itu diharapkan dapat mengoptimalkan penanggulangan stunting di Sidoarjo. “DPRD sudah meminta anggaran penanganan stunting untuk dinaikkan, tetapi nilainya berapa saya lupa,” tuturnya.

Dinas Kesehatan Sidoarjo juga sempat melakukan penelusuran terkait data stunting. Sedikitnya ada 31 desa di 5 kecamatan masih terdapat anak stunting.

Daerah itu, adalah delapan desa di Kecamatan Jabon, enam desa di Kecamatan Candi, empat desa di Kecamatan Buduran, tujuh desa di kecamatan Waru, lima desa di kecamatan Gedangan dan satu desa di kecamatan Balongbendo. (son/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/