alexametrics
24 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Komunitas di Sidoarjo Peduli Korban Lumpur

SIDOARJO – Tragedi semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo menjadi derita semua masyarakat. Tidak terasa Sabtu (29/5), 15 tahun sudah luapan lumpur panas melumpuhkan aktivitas masyarakat daerah terdampak di Kecamatan Jabon, Porong dan Tanggulangin. Dampak sosial dan ekonomi sangat dirasakan warga sekitar tanggul.

Bertepatan dengan peringatan 15 tahun semburan lumpur panas, komunitas sosial dan mahasiswa di Sidoarjo menunjukkan rasa empati.

Seperti Komunitas Kecil Bergerak. Mereka memberikan bantuan air bersih dan empat tandon berkapasitas 700 liter bagi warga Dusun Polo Gunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin.

Ketua Komunitas Kecil Bergerak Adi Kurniaji menjelaskan, sebanyak 90 orang warga Desa Gempolsari masih memilih bertahan disana. Namun kelayakan hidup dari kebutuhan air bersih justru jauh dari layak.

Sumur-sumur warga di desa yang berbatasan kurang dari 20 meter dari bibir tanggul lumpur ini telah tercemar. Terasa sangat asin dan berbau.

“Akhir-akhir ini, pemerintah menggelorakan perilaku hidup bersih. Sedangkan di sini, warga masih kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan bantuan air bersih akan terus diberikan pada warga hingga setahun kedepan. “Dan sampai ada perhatian lebih dari pemerintah,” ungkapnya.

Selain Komunitas Kecil Bergerak, Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sidoarjo adakan teatrikal dan sampaikan refleksi diatas tanggul lumpur panas.

Kordinator lapangan Ilham Akbar menyebutkan bahwa kegiatan teatrikal tersebut menjadi salah satu refleksi kegiatan untuk mengingat bagaimana tragedi lumpur panas di Sidoarjo tersebut hingga sekarang belum selesai tertangani.

“Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk membuat kebijakan atau regulasi terkait pemulihan ekonomi, sosial dan lingkungan, serta mengembalikan tatanan ekosistem yang terjadi akibat pengeboran yang masih dilakukan,” pintanya. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Tragedi semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo menjadi derita semua masyarakat. Tidak terasa Sabtu (29/5), 15 tahun sudah luapan lumpur panas melumpuhkan aktivitas masyarakat daerah terdampak di Kecamatan Jabon, Porong dan Tanggulangin. Dampak sosial dan ekonomi sangat dirasakan warga sekitar tanggul.

Bertepatan dengan peringatan 15 tahun semburan lumpur panas, komunitas sosial dan mahasiswa di Sidoarjo menunjukkan rasa empati.

Seperti Komunitas Kecil Bergerak. Mereka memberikan bantuan air bersih dan empat tandon berkapasitas 700 liter bagi warga Dusun Polo Gunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin.

Ketua Komunitas Kecil Bergerak Adi Kurniaji menjelaskan, sebanyak 90 orang warga Desa Gempolsari masih memilih bertahan disana. Namun kelayakan hidup dari kebutuhan air bersih justru jauh dari layak.

Sumur-sumur warga di desa yang berbatasan kurang dari 20 meter dari bibir tanggul lumpur ini telah tercemar. Terasa sangat asin dan berbau.

“Akhir-akhir ini, pemerintah menggelorakan perilaku hidup bersih. Sedangkan di sini, warga masih kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan bantuan air bersih akan terus diberikan pada warga hingga setahun kedepan. “Dan sampai ada perhatian lebih dari pemerintah,” ungkapnya.

Selain Komunitas Kecil Bergerak, Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sidoarjo adakan teatrikal dan sampaikan refleksi diatas tanggul lumpur panas.

Kordinator lapangan Ilham Akbar menyebutkan bahwa kegiatan teatrikal tersebut menjadi salah satu refleksi kegiatan untuk mengingat bagaimana tragedi lumpur panas di Sidoarjo tersebut hingga sekarang belum selesai tertangani.

“Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk membuat kebijakan atau regulasi terkait pemulihan ekonomi, sosial dan lingkungan, serta mengembalikan tatanan ekosistem yang terjadi akibat pengeboran yang masih dilakukan,” pintanya. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/