alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Lestarikan Cerita Rakyat di Museum, Tampilkan Teater

SIDOARJO – Garudeya, salah satu cerita rakyat dari Tanah Jawa menjadi materi belajar bersama di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim melalui UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim di Sidoarjo. Dipentaskan dalam pertunjukan teater oleh peserta belajar bersama, Senin (26/10).

Dalam pertunjukkan tersebut dikisahkan perjuangan Garudeya mengambilkan kendi air amerta dari kayangan demi membebaskan Dewi Winata dari perbudakan yang dilakukan Dewi Kadru.

Mulyono Muksim salah satu narasumber menjelaskan pementasan teater tersebut agar peserta yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA di Sidoarjo tersebut bisa memahami sikap dan karakter lebih dalam cerita rakyat Garudeya. Dimana dalam naskahnya menceritakan asal-usul terciptanya Garuda sebagai lambang negara Republik Indonesia.

Dari 50 peserta, dibagi dua kelompok. Kelompok pertama, menampilkan teater secara realis. Sebelumnya mereka mempersiapkan diri untuk berlatih. Kemarin, mereka tampil dengan kostum pendukung.

Sedangkan sebagian peserta lainnya berlatih mendadak hanya 30 menit. Termasuk membaca naskah dan menghafalkannya. Lalu, ditampilkan dengan gaya teater suryalis.
Lalu apa nilai yang bisa diambil dari cerita ini? “Cinta dan sayang kepada orang tua dan saudara serta kepada orang lain adalah simbol terciptanya tali persaudaraan yang kuat,” jelasnya.

Faiz Andra Maulana, siswa SMPN 6 Sidoarjo memerankan Garudeya dengan gaya suryalis kemarin mengatakan menghafal teks dalam waktu 30 menit menjadi tantangan tersendiri. “Seru bisa belajar sejarah disini,” katanya.

Kepala Museum Negeri Mpu Tantular Jawa Timur Edi Irianto mengatakan kalau fungsi museum ini bukan hanya sebagai tempat penyimpan benda-benda bersejarah saja, tetapi juga sebagai tempat studi dan rekreasi.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, museum hanya dibuka untuk kegiatan internal saja. Seperti belajar bersama di museum (BBM) dengan peserta sangat terbatas dan menerapkan protokol kesehatan. Ada juga pameran tetapi hanya bisa disaksikan secara virtual. Sementara untuk kunjungan umum belum bisa dilakukan. “Semoga dibukan November keadaan lebih vaik. Museum bisa buka kembali,” harapnya. (rpp/nis)

SIDOARJO – Garudeya, salah satu cerita rakyat dari Tanah Jawa menjadi materi belajar bersama di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim melalui UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim di Sidoarjo. Dipentaskan dalam pertunjukan teater oleh peserta belajar bersama, Senin (26/10).

Dalam pertunjukkan tersebut dikisahkan perjuangan Garudeya mengambilkan kendi air amerta dari kayangan demi membebaskan Dewi Winata dari perbudakan yang dilakukan Dewi Kadru.

Mulyono Muksim salah satu narasumber menjelaskan pementasan teater tersebut agar peserta yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA di Sidoarjo tersebut bisa memahami sikap dan karakter lebih dalam cerita rakyat Garudeya. Dimana dalam naskahnya menceritakan asal-usul terciptanya Garuda sebagai lambang negara Republik Indonesia.

Dari 50 peserta, dibagi dua kelompok. Kelompok pertama, menampilkan teater secara realis. Sebelumnya mereka mempersiapkan diri untuk berlatih. Kemarin, mereka tampil dengan kostum pendukung.

Sedangkan sebagian peserta lainnya berlatih mendadak hanya 30 menit. Termasuk membaca naskah dan menghafalkannya. Lalu, ditampilkan dengan gaya teater suryalis.
Lalu apa nilai yang bisa diambil dari cerita ini? “Cinta dan sayang kepada orang tua dan saudara serta kepada orang lain adalah simbol terciptanya tali persaudaraan yang kuat,” jelasnya.

Faiz Andra Maulana, siswa SMPN 6 Sidoarjo memerankan Garudeya dengan gaya suryalis kemarin mengatakan menghafal teks dalam waktu 30 menit menjadi tantangan tersendiri. “Seru bisa belajar sejarah disini,” katanya.

Kepala Museum Negeri Mpu Tantular Jawa Timur Edi Irianto mengatakan kalau fungsi museum ini bukan hanya sebagai tempat penyimpan benda-benda bersejarah saja, tetapi juga sebagai tempat studi dan rekreasi.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, museum hanya dibuka untuk kegiatan internal saja. Seperti belajar bersama di museum (BBM) dengan peserta sangat terbatas dan menerapkan protokol kesehatan. Ada juga pameran tetapi hanya bisa disaksikan secara virtual. Sementara untuk kunjungan umum belum bisa dilakukan. “Semoga dibukan November keadaan lebih vaik. Museum bisa buka kembali,” harapnya. (rpp/nis)

Most Read

Berita Terbaru


/