alexametrics
29 C
Sidoarjo
Wednesday, 25 May 2022

Perkembangan Sastra di Sidoarjo Dibukukan

SIDOARJO – Perkembangan literatur sastra sedikit demi sedikit coba dikumpulkan oleh sembilan anggota yang tergabung dalam Dewan Kesenian (Dekesda) Sidoarjo. Menjadi sebuah buku Panorama Sastra Sidoarjo dari jawa kuno, post gula dan era milenial.

Anggota Komite Sastra Dekesda Sidoarjo Rizka Amalia mengatakan, literatur sastra yang ada di buku tersebut adalah perkembangan sastra dari zaman Mpu Kanwa, era Dardallena di zaman kolonial Belanda hingga literatur zaman sekarang.

Dimana Mpu Kanwa bisa dikatakan sebagai pelopor sastra di Sidoarjo lewat karya monumentalnya, Kakawin Arjunawiwaha. Kemudian 896 tahun geliat sastra di tanah Kahuripan kembali terdengar dari naskah panggung yang ditelurkan lewat kelompok sandiwara Dardanella tahun 1926. Masa ini juga tanah Kahuripan muncul teks mesianisme ala Ratu Adil. Salah satu cerita yang tersohor adalah Sarip Tambak Oso. “Ini sebagai pemetaan awal. Pengenalan pada masyarakat Sidoarjo bahwa sastra sudah dikenal sejak dulu,” terangnya, kemarin (20/9).

Dengan waktu yang lumayan singkat, terhitung sejak Maret, karya yang dituliskan oleh sembilan orang ini tetap bisa produktif di tengah pandemi.

Ketua Dekesda Sidoarjo Ali Aspandi berharap literatur sastra tersebut bisa dibaca masyarakat luas. Karena literatur seperti itu belum banyak tersedia. Khususnya sejarah sastra di Sidoarjo. “Bisa dikatakan ini pertama di Sidoarjo. Dibaca untuk khalayak luas,” tegas Ali.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Kartini menyambut baik karya dari seniman Kota Delta. Apalagi dalam waktu dekat Sidoarjo memiliki art center di bekas gedung SDN Celep. Literatur ini bisa dijadikan bahan edukasi pengunjung di sana. Selain itu bisa dijadikan bahan kajian sastra Kota Delta . “Bersama Dewan Kesenian menambah maju seni budaya Sidoarjo,” pungkasnya. (rpp/vga)

SIDOARJO – Perkembangan literatur sastra sedikit demi sedikit coba dikumpulkan oleh sembilan anggota yang tergabung dalam Dewan Kesenian (Dekesda) Sidoarjo. Menjadi sebuah buku Panorama Sastra Sidoarjo dari jawa kuno, post gula dan era milenial.

Anggota Komite Sastra Dekesda Sidoarjo Rizka Amalia mengatakan, literatur sastra yang ada di buku tersebut adalah perkembangan sastra dari zaman Mpu Kanwa, era Dardallena di zaman kolonial Belanda hingga literatur zaman sekarang.

Dimana Mpu Kanwa bisa dikatakan sebagai pelopor sastra di Sidoarjo lewat karya monumentalnya, Kakawin Arjunawiwaha. Kemudian 896 tahun geliat sastra di tanah Kahuripan kembali terdengar dari naskah panggung yang ditelurkan lewat kelompok sandiwara Dardanella tahun 1926. Masa ini juga tanah Kahuripan muncul teks mesianisme ala Ratu Adil. Salah satu cerita yang tersohor adalah Sarip Tambak Oso. “Ini sebagai pemetaan awal. Pengenalan pada masyarakat Sidoarjo bahwa sastra sudah dikenal sejak dulu,” terangnya, kemarin (20/9).

Dengan waktu yang lumayan singkat, terhitung sejak Maret, karya yang dituliskan oleh sembilan orang ini tetap bisa produktif di tengah pandemi.

Ketua Dekesda Sidoarjo Ali Aspandi berharap literatur sastra tersebut bisa dibaca masyarakat luas. Karena literatur seperti itu belum banyak tersedia. Khususnya sejarah sastra di Sidoarjo. “Bisa dikatakan ini pertama di Sidoarjo. Dibaca untuk khalayak luas,” tegas Ali.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Kartini menyambut baik karya dari seniman Kota Delta. Apalagi dalam waktu dekat Sidoarjo memiliki art center di bekas gedung SDN Celep. Literatur ini bisa dijadikan bahan edukasi pengunjung di sana. Selain itu bisa dijadikan bahan kajian sastra Kota Delta . “Bersama Dewan Kesenian menambah maju seni budaya Sidoarjo,” pungkasnya. (rpp/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/